BERITA KARET OKTOBER 2017

BERITA KARET OKTOBER 2017 

  1. Indonesia, Malaysia dan Thailand Bakal Atur Suplai Karet
  2. Harga Karet Aman, AETS Tidak Diberlakukan
  3. Pasokan Karet Mendekati Ideal, Begini Penjelasan Gapkindo
  4. Gapkindo Minta Karet Digunakan Dalam Infrastruktur
  5. Upaya Kerek Harga Karet, Kemendag: Perlu Pembenahan Data Statistik
  6. Segera Persiapkan Kebun Entres
  7. Harga Jual Karet Di Batanghari Rendah
  8. Petani Karet di OKU Mulai Gembira Karena Harga Karet Saat Ini Segini
  9. Pemuda Muhammadiyah Minta Jokowi Perhatikan Nasib Petani Karet

 

-----------------------------------------------

Indonesia, Malaysia dan Thailand Bakal Atur Suplai Karet

Kementerian Perdagangan menyatakan Indonesia, Thailand, dan Malaysia sepakat memperjuangkan harga karet yang stabil dan kompetitif dengan mengelola suplai dan meningkatkan permintaan domestik.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan kesepakatan ini dicapai dalam Pertemuan Dewan Menteri International Tripartite Rubber Council (ITRC), Jumat lalu (15/9) di Bangkok, Thailand.

Pertemuan tersebut dipimpin Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand Jenderal Chatchai Sarikulya dan juga dihadiri Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Seri Mah Siew Keong.

Enggar mengatakan, sampai akhir tahun pasar diperkirakan seimbang karena penurunan produksi dan meningkatnya permintaan. Dengan pengelolaan yang teratur, diyakini keseimbangan dapat tercapai dan membawa pengaruh baik terhadap harga karet.

"Sebagai negara produsen, ketiga negara menyadari pentingnya menjaga stabilitas harga karet sebagai kebijakan jangka panjang. Suplai dan permintaan harus mendapat porsi penanganan yang sama agar seimbang,” kata Enggar dalam keterangan resmi, Selasa (19/9).

“Pengendalian luas area tetap dilanjutkan agar produksi terjaga dengan tetap memperhatikan kebutuhan negara konsumen maupun dalam negeri. Di lain pihak, kami gencarkan permintaan domestik agar tumbuh sampai 10 % tiap tahun," jelas Mendag.

Ia menjelaskan, ketiga menteri di Asean itu mendukung peningkatan kolaborasi di bidang penelitian dan pengembangan teknologi untuk mendorong penggunaan karet alam sebagai bahan baku di sektor transportasi, infrastruktur, olahraga, alat pertahanan, kesehatan dan barang konsumsi.

"Pemerintah menaruh perhatian besar pada sektor infrastruktur yang memanfaatkan karet alam sebagai bahan baku, seperti campuran aspal jalan. Tidak hanya itu, penggunaan karet alam juga akan terus ditingkatkan di sektor lainnya," tegas Mendag.

Kerja sama ITRC, lanjut Enggar, juga semakin kuat dengan bergabungnya Vietnam menjadi mitra strategis. Dengan bergabungnya Vietnam, maka pangsa pasar produksi keempat negara menjadi 71% dan pangsa pasar ekspor 84%.

“Ke depannya, kami mengundang Vietnam untuk menjadi anggota penuh ITRC,” imbuh Enggar.

CNN Indonesia.Com, 20/09/2017

-----------------------------

Harga Karet Aman, AETS Tidak Diberlakukan

Harga karet yang dinilai aman membuat International Tripartite Rubber Council (ITRC) belum akan menerapkan agreed export tonnage scheme (AETS). "ITRC belum akan memberlakukan AETS saat ini," ujar Deny Wachyudi Kurnia, Direktur Perundingan APEC dan Organisasi Internasional, Jumat (15/9).

Deny menjelaskan, bahwa AETS merupakan instrumen yang dipertimbangkan untuk digunakan sesuai kebutuhan dan pada konteksnya. Setiap saat, ITRC mempelajari situasi pasar dan faktor yang berpengaruh serta keseimbangan supply dan demand.

Pada pertemuan ITRC pekan lalu, peserta pertemuan melihat dampak dari diberlakukannya AETS pada 1 Maret hingga 31 Desember 2016 lalu. Pemberlakuan AETS dinilai berkontribusi dalam menahan tren harga yang terus turun.

Moenardji mengatakan tidak diberlakukannya AETS merupakan langkah tepat. Hal tersebut mengingat harga yang sudah membaik. "Pada kwartal terakhir harga sudah tidak turun, malah terkonsolidasi dengan baik dan cenderung naik," jelas Moenardji Soedargo, Ketua Umum Gabungan Perusahaan karet Indonesia (Gapkindo) kepada KONTAN (17/9).

Moenardji bilang pergerakan harga saat ini ditentukan pasar. Pergerakan harga karet tidak diintervensi oleh kebijakan ITRC. Kondisi pasar yang baik membuat Moneardji sepakat untuk tidak dilakukan AETS.

AETS merupakan insturmen yang digunakan ITRC dalam mengatasi penurunan harga karet. AETS dilakukan dengan membatasi suplai ekspor sehingga harga bisa kembali naik.

Kontan.co.id, 18/09/2017

----------------------------------

Pasokan Karet Mendekati Ideal, Begini Penjelasan Gapkindo

International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang beranggotakan Malaysia, Indonesia, dan Thailand dijadwalkan mengadakan pertemuan pada 14-15 September 2017 di Bangkok, Thailand.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo menilai pasokan karet saat ini dalam kondisi mendekati ideal.

Pada pertengahan 2017, level stok terhadap permintaan konsumsi berada di kisaran 2,2 bulan.

Sebagai pembanding, kondisi pasokan dan permintaan pada akhir 2016 mengalami surplus. Rasio stok global terhadap konsumsi global berada di angka 3 bulan.

“Stok sekarang jauh lebih sehat. Rasio yang ideal level stok karet dunia dapat memenuhi konsumsi 2 bulan,” paparnya.

Seperti diketahui, ketiga anggota ITRC sepakat untuk memangkas ekspor karet pada Maret 2016 sebanyak 700.000 metrik ton lewat skema International Tripartite Rubber Council.

Kebijakan tersebut ditempuh setelah harga karet di pasar internasional sebelumnya anjlok di bawah US$1 per kilogram.  Para produsen karet terbesar di dunia itu sepakat untuk mengangkat kembali harga di pasar global.

Skema itu ternyata membuahkan hasil. Harga karet terangkat kembali pada kisaran US$2 per kilogram di tingkat internasional.

Pada awal 2017, Bloomberg mencatat harga karet berada pada kisaran US$2,37 per kilogram. Posisi tersebut lebih tinggi 82,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan mencatat ekspor karet dan produk dari karet Indonesia berada dalam tren negatif dalam rentang 2012—2016. Nilai ekspor komoditas itu selama lima tahun terakhir tergerus 15%.

Namun, ekspor karet dan produk dari karet mengalami pertumbuhan sebesar 5% secara year on year pada periode Januari 2017—Mei 2017. Nilai ekspor karet naik dari US$2,18 juta menjadi US$3,61 juta.

Bisnis.com, 13/09/2017

-----------------------------

Gapkindo Minta Karet Digunakan Dalam Infrastruktur

Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) berharap pemerintah menggunakan karet untuk pembangunan infrastruktur.

"Diharapkan pemerintah dapat megupayakan penyerapan karet alam dalam ramuan aspal karet," ujar Moenardji Soedargo, Ketua Umum Gapkindo kepada KONTAN di Jakarta, Minggu (17/9).

Dia bilang, cara ini telah digunakan oleh Malaysia dan Thailand. Penggunaan karet alam dalam aspal, kata dia, membuat usia aspal lebih lama 50%. Membangun jalan lebih banyak juga tak perlu pusing merawat jalan yang sebelumnya rusak.

Penggunaan itu juga dapat meningkatkan konsumsi karet domestik. Peningkatan ini sudah menjadi komitmen tiga negara konsorsium International Tripartite Rubber Council (ITRC), yaitu Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Sektor yang difokuskan antara lain transportasi, infrastruktur, olahraga, pertahanan, dan kesehatan.

Moenardji bilang saat ini konsumsi karet domestik di Indonesia sudah hampir mencapai 20%. Konsumsi domestik sebesar 600.000 ton per tahun dari total produksi 3,2 juta ton per tahun. "Jadi hampir 20% ya," terang Moenardji.

Kontan.co.id, 18 September 2017

--------------------

Upaya Kerek Harga Karet : Kemendag: Perlu Pembenahan Data Statistik

Direktur Perundingan APEC dan Organisasi Internasional Kementerian Perdagangan Deny Wachyudi Kurnia menilai saat ini juga diperlukan pembenahan terhadap statistik karet di dalam negeri.

Dengan demikian, dapat diketahui dengan jelas produksi hingga permintaan komoditas itu.

Deny berpendapat dengan adanya statistik akan membantu dalam menentukan langkah yang akan diambil terumasuk kebijakan pemangkasan ekspor.

“Kita wajib punya hitung-hitungan sendiri supaya reliable.

Seperti diketahui, International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang beranggotakan Malaysia, Indonesia, dan Thailand dijadwalkan mengadakan pertemuan pada 14-15 September 2017 di Bangkok, Thailand.

Ketiga anggota ITRC sepakat untuk memangkas ekspor karet pada Maret 2016 sebanyak 700.000 metrik ton lewat skema International Tripartite Rubber Council.

Kebijakan tersebut ditempuh setelah harga karet di pasar internasional sebelumnya anjlok di bawah US$1 per kilogram.  Para produsen karet terbesar di dunia itu sepakat untuk mengangkat kembali harga di pasar global.

Skema itu ternyata membuahkan hasil. Harga karet terangkat kembali pada kisaran US$2 per kilogram di tingkat internasional.

Pada awal 2017, Bloomberg mencatat harga karet berada pada kisaran US$2,37 per kilogram. Posisi tersebut lebih tinggi 82,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan mencatat ekspor karet dan produk dari karet Indonesia berada dalam tren negatif dalam rentang 2012—2016. Nilai ekspor komoditas itu selama lima tahun terakhir tergerus 15%.

Namun, ekspor karet dan produk dari karet mengalami pertumbuhan sebesar 5% secara year on year pada periode Januari 2017—Mei 2017. Nilai ekspor karet naik dari US$2,18 juta menjadi US$3,61 juta. 

Bisnis.com, 13/09/2017

-----------------------------------------

Segera Persiapkan Kebun Entres

Target Pemerintah Provinsi Jambi meremajakan 1.750 hektar tanaman karet tua dengan alokasi anggaran pusat sebesar Rp 19 miliar didukung petani. Namun, petani mengimbau agar kebun entres terlebih dahulu dipersiapkan sebelum peremajaan berjalan.

Ketua Perhimpunan Petani Sawit dan Karet Provinsi Jambi Usman Ermulan mengatakan, peremajaan tanaman karet sangat mendesak. Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, ada 111.500 hektar dari 588.043 hektar tanaman karet di seluruh Jambi berusia tua dan tak lagi produktif. Sebagian besar adalah perkebunan karet rakyat.

Menurut Usman, sebelum peremajaan berjalan, pemerintah perlu lebih dahulu menyiapkan kebun-kebun entres. Kebun entres disebut juga dengan kebun kayu okulasi, merupakan kebun penghasil mata tunas untuk digunakan sebagai batang atas dalam memperbanyak tanaman karet secara okulasi.

”Di setiap sentra penanaman karet rakyat perlu dikembangkan kebun entresnya dulu guna menghindari gagal tumbuh tanaman saat peremajaan dilaksanakan,” katanya. Di setiap kebun entres juga perlu ditanam klon-klon unggul karet berkualitas. ”Jangan sampai yang beredar di kebun rakyat bibit sapuan yang hasil pungut di lahan. Itu kualitasnya rendah dan hanya akan menghambat produktivitas karet,” ujarnya.

Ia juga mengimbau pemerintah agar tidak mendatangkan langsung bibit jadi dari luar daerah. Beratnya medan dalam proses distribusi bibit akan memengaruhi kualitas tanaman. Provinsi Jambi menyiapkan peremajaan tanaman karet tua seluas total 1.750 hektar di enam kabupaten. Dukungan dana dari pusat sebesar Rp 19,7 miliar.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Agus Rizal sebelumnya mengatakan, peremajaan tanaman karet akan menyebar pada 400 hektar di Sarolangun, 350 hektar di Merangin, Bungo 300 hektar, Batanghari 300 hektar, dan Muaro Jambi 300 hektar, serta 100 hektar di Tebo.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Provinsi Jambi, produksi karet terus turun sejak 2013. Produksi karet olahan dari 10 pabrik di Jambi, yang mencapai 359.298 ton pada 2013, kemudian menjadi 345.109 ton pada 2014 dan turun lagi 15% pada 2015. Penurunan itu diduga karena tak optimalnya produksi karet daerah. Dengan luas perkebunan karet di Jambi saat ini 588.043 hektar, produksinya mencapai 312.925 ton dalam bentuk karet remah. Dari total produksi itu, 90% dari karet rakyat.

Sementara itu, nilai ekspor pada Januari hingga Mei 2016 mencapai US$ 132 juta, kemudian menjadi 344 juta dollar AS pada periode yang sama 2017. Produk yang diekspor umumnya berupa karet mentah.

Kompas, 23/09/2017

-------------------------------------

Harga Jual Karet Di Batanghari Rendah

Harga jual komoditi karet di Kabupaten Batanghari saat ini masih tergolong rendah dibandingkan kabupaten lainnya. "Minggu kemarin indeks harga karet berkisar Rp 16.500 perkilogram. Namun untuk di pasar lelang harganya Rp 8.500  kg. Kalau dilihat ini stabil, namun kita tidak memungkiri harga masih rendah," ujar Kabid Perdagangan Dinas Koperindag Batanghari, Suparno.

"Dikatakan rendah, karena infonya di kawasan Muaro Jambi itu sudah diatas Rp 10 ribu/kg," jelasnya.Dikatakannya, rendahnya harga karet ini dikarenakan kadar karet keringnya tidak mencapai 100%. Kondisi ini terjadi pada tiga pasar lelang yakni, Penerokan, Ladang Peris dan Simpang Rantau Gedang.

"Harga bisa tembus sesuai indeks apabila kadar karetnya mencapai 100%. Sementara untuk petani kita itu kadar keringnya hanya 50-60%. Itu yang menjadikan harganya rendah," sebutnya.

Murahnya harga karet ini juga turut dibenarkan Maliki (60), petani di Desa Simpang Terusan, Kecamatan Muara Bulian. Ia menyebutkan harga jual karet masih berkisar Rp 7.000/kg.

"Lah lamo karet ko murah. Tiga tahun ko masih murahlah, kalau orang dulu tu nyebut getah mahal kalau sekilo lah dapat satu setengah kilo beras, bahkan biso duo kilo. Sekarang dak dapat lagi," sebutnya.

Mengenai bibit karet replanting dari pemerintah, Mailaki menilai kurang maksimal. Dirinya lebih memilih menggunakan bibit yang diolah sendiri melalui cara stek. 

"Untuk bibit memang sudah ada bantuan dari pemerintah, tapi ado yang ambil dan tidak, mano yang mau bae, termasuk sayo," ujarnya.

Sebagian masyarakat menilai, kualitas benih dari pemerintah tersebut jauh dari maksimal. sehingga ada beberapa warga yang enggan mengambil bibit tersebut.

"Kalo saya pribadi meskipun gratis sekalipun tidak akan mengambil, karena kita punya bibit sendiri," katanya.

Metrojambi.com, 05/09/2017

----------------------------------

Petani Karet di OKU Mulai Gembira Karena Harga Karet Saat Ini Segini

Sehabis Hari Raya Idul Adha 1438 H harga getah karet di Kabupaten Ogan Komering Ulu bergerak naik, meskipun belum terlalu signifikan namun kenaikan ini membuat petani gembira.

Seperti dituturkan Usni (60) kepada SRIPO Snein (11/9) , harga getah karet yang ditimbang dua mingguan sekarang dihargai Rp 9300/kg Harga ini mengalami kenaikan dibandingkan sebelum lebaran yang masih Rp 8.400/kg.

“Alhamdulillah, walaupun naik dikit ini merupakan pertanda baik,” kata ibu dua anak ini seraya menambahkan bagi petani karet sekecil apapun kenaikan harga tetap membuat petani bergembira.

Apalagi saat ini kebutuhan semakin banyak harga –harga naik, “Garam saja dulunya Rp 1.000 sebungkus kini sudah menjadi Rp 6.000/bungkus .

Harga ini memang belum seberapa jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang saat itu harga karet sempat menyentuh angka Rp 20.000/kg.

Namun setidaknya harapan petani sudah mulai tumbuh. Petani berharap kedepan harga komoditas andalan di Bumi Sebimbing Sekundang ini akan terus bergerak naik.

Bagi petani, satu-satunya harapan adalah naiknnya harga karet, petani menilai wajar apabila pemerintah ikut memperhatikan harga getah karet agar petani juga ikut sejahtra.

Sementara itu berdasarkan catatan Sripo, tanaman karet memang menjadi tanaman primadona di Kabupaten OKU , luas areal perkebunan karet alam milik rakyat yang terdata saja mencapai 71.807,5 Ha dengan total produksi yang terdata 52.447,47 ton per tahun.

Jumlah ini baru yang terdata saja, sedangkan yang tidak terdata jumlahnya diperkirakan masih banyak. Sedangkan perkebunan besar milik perusahaan terdata baru 918,09 ha dengan total produksi sekitar 1.893,48 ton per tahun.

Disisi lain, informasi dilapangan menyebutkan perekonomian rakyat Kabupaten yang berjuluk Sebimbing Sekundang ini memang ditopang dari dua komuditas yakni karet dan sawit.

Namun karet memang lebih besar dibandingkan sawit, karena petani bisa membuka kebun sendiri dan bisa langsung menjual sendiri karena banyak tauke karet yang langsung datang ke desa-desa.

Sebaliknya untuk komoditas sawit memang masih bergantung ke perusahan perkebunan, artinya petani tidak bisa menjual sesuka hati.

Sriwijaya post, 11/09/2017

---------------------------------

Pemuda Muhammadiyah Minta Jokowi Perhatikan Nasib Petani Karet

Pemuda Muhammadiyah Bangka Belitung (Babel) meminta Presiden Jokowi untuk lebih memerhatikan nasib petani di Indonesia, terutama petani karet. 

Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Babel Jafri mencatat banyak persoalan yang perlu dibenahi Jokowi dalam sektor pertanian.

Pertama persoalan reforma agraria, yaitu persoalan kepemilikan lahan yang saat ini masih dimonopoli oleh tuan tanah dan pemilik modal sektor perkebunan besar. Penguasaan lahan ini mengakibatkan para petani miskin tergantung kepada tuan tanah, sehingga mereka menjadi buruh dengan penghasilan yang sangat rendah.

"Seperti di Pulau Jawa jumlah buruh tani cukup lumayan besar dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Senin (25/9).

Kedua, soal perhutanan sosial yang belum tuntas. Seperti masih banyak lahan desa yang tidak dikuasai oleh masyarakat yang dimonopoli sektor perusahaan pertambangan dan perkebunan. Ketiga, masalah harga komoditas pertanian seperti karet, lada, kelapa sawit, bawang, dan ubi yang anjlok, sehingga berpengaruh terhadap kesejahteraan petani.

"Hal ini juga tidak terlepas monopoli perdagangan yang bebas atau free market yang tidak dikontrol oleh pemerintah," jelas ketua Asosiasi Petani Karet Babel itu.

Jafri kemudian mencontohkan harga karet yang anjlok di Babel. Menurutnya, situasi ini telah membuat para petani miskin banting tulang dalam mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Jafri menjabarkan, sekarang harga karet di kampung hanya berkisar Rp 4.000 per kg. Untuk itu, diharapkan Gubernur Babel dan Presiden Jokowi memiliki langkah strategis yang bisa membantu petani agar tidak susah secara ekonomi.

"Kita meminta kepada Pak Presiden untuk segera melaksanakan reforma agraria yang sebenarnya dan melaksanakan perhutanan sosial yang berpihak pada petani," tutup Jafri

RMOL.Co, 26/09/2017