BERITA KARET NOVEMBER 2017

BERITA KARET NOVEMBER 2017

  1. Masa Depan Karet Dinilai Cerah
  2. Kemenperin dorong produksi karet 3,5 juta hektar
  3. Kemenperin Nilai Industri Plastik dan Karet Hilir Prospektif
  4. Ekspor Karet Anjlok, Masyarakat Harus Tahu Ini Faktor Penyebabnya
  5. Permintaan & Harga Mulur, Ekspor Karet Sumut Naik
  6. Petani Berharap Harga Karet Stabil di Angka Segini Perkilonya
  7. Industri Hilir Karet Lokal Perlu Perhatian
  8. BUMD JATIM: Industri Karet Topang Pertumbuhan Bisnis Wira Jatim
  9. Harga Karet Murah Belum Dorong Kinerja Kirana Mega
  10. Harga Karet Tertekan Melarnya Pasokan
  11. Peringkat 10 Besar Penyumbang Devisa Dollar ke Indonesia
  12. Peringkat 10 Besar Penyumbang Devisa Dollar ke Indonesia
  13. Harga Karet Rendah, Petani Karet Thailand Ancam Demo
  14. Hasil Pertemuan International Rubber Consortium Limited (IRCo), 3 Nopember 2017 di Bangkok, Thailand
  15. Pemerintah Malaysia Setujui Dana 200 Juta Ringgit untuk Bantu Petani dan Penyadap Karet
  16. Hasil Pertemuan International Rubber Consortium Limited (IRCo), 3 Nopember 2017 di Bangkok, Thailand

---------------------------------------------------

Masa Depan Karet Dinilai Cerah

Komoditas karet diprediksi menjadi industri menjanjikan di masa depan. Karena itu, para petani diminta untuk terus mempersiapkan diri dengan meningkatkan mutu hasil bahan olahan karet (bokar).

“Karet ini masa depan dunia. Makin sejahtera orang, makin ingin punya mobil. Semua ban mobil menggunakan karet,” kata Direktur Jenderal Perkebunan, Bambang, saat mengunjungi  Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) Maju Bersama di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Senin (23/10).

Menurut Bambang, saat ini memang ada bahan pembuatan ban memang bisa digantikan oleh karet sintesis yang bahannya berasal dari minyak bumi. Namun, cadangan minyak bumi bisa habis.

“Nah, ada saatnya ketika orang butuh ban, baik mobil, pesawat, traktor, akan memnggunakan karet.Jadi, ini adalah kebutuhan masa depan. Jangan pernah berhenti mengelola karet dan kita harus meningkatkan mutu bahan olahan karet (bokar),” kata Bambang.

Bambang menjelaskan, saat ini komoditas karet berperan penting dalam perekonomian nasional, baik sebagai sumber lapangan kerja maupun sumber devisa. Luas perkebunan karet Indonesia tahun 2016 mencapai sekitar 3,64 juta hektar, dengan produksi sekitar 3,2 juta ton.

Republika.co.id, 24/10/2017

----------------------------------

Kemenperin dorong produksi karet 3,5 juta hektar

Kementerian Perindustrian mendorong peningkatan produksi karet hingga 3,5 juta hektar dari 3 juta hektar saat ini, demikian disampaikan Sekjen Kementerian Perindustrian Haris Munandar.

"Terlebih, industri didukung juga oleh program-program penelitian dan pengembangan yang dilakukan baik oleh Pemerintah, institusi pendidikan maupun pihak swasta," ujar Haris melalui keterangannya di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, karet sebagai salah satu komoditi hasil perkebunan yang memiliki peran cukup strategis dalam kegiatan perekonomian Indonesia.

Apalagi, konsumsi karet alam yang saat ini berkisar 580.000 ton per tahun, juga masih berpeluang untuk terus ditingkatkan.

Untuk itu, upaya yang perlu dilakukan, antara lain dengan intensifikasi maupun ekstensifikasi eskpor barang karet serta menciptakan cabang-cabang industri baru seperti industri ban pesawat dan vulkanisir pesawat terbang yang dapat menyerap karet alam cukup banyak dan menghasilkan devisa nasional.

"Pemerintah memandang bahwa langkah-langkah untuk peningkatan konsumsi karet alam dalam negeri perlu segera dilakukan dalam rangka meningkatkan nilai tambah potensi sumber daya alam nasional," tutur Haris.

Misalnya, kebijakan pembangunan tol laut, di mana pemerintah akan membangun 24 pelabuhan, antara lain deep sea port (pelabuhan laut dalam) di Kuala Tanjung, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makasar dan Sorong.

"Hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi industri karet penunjang pelabuhan seperti rubber dock fender, rubber floating fender, rubber bumper, dan sebagainya sehingga dapat lebih meningkatkan konsumsi karet alam dalam negeri,” ucap Haris.

Upaya peningkatan konsumsi karet alam di dalam negeri, juga perlu didukung dengan kemampuan industri nasional dalam penyerapan komoditi tersebut

Oleh karena itu, pemerintah bertekad mendorong pertumbuhan industri barang-barang karet dalam rangka merealisasikan program peningkatan konsumsi karet alam domestik.

Berdasarkan hal tersebut, Kemenperin telah melakukan upaya melalui kebijakan-kebijakan, di antaranya penguatan struktur industri barang-barang karet, memfasilitasi pemberian insentif untuk industri berteknologi tinggi maupun industri berorientasi ekspor; serta pengembangan kawasan industri.

Haris menambahkan, program peningkatan konsumsi karet alam lokal, perlu diiringi pula dengan program keberlanjutan dan pengembangan industri yang sudah ada.

Contohnya, industri ban, sebagai industri yang menyerap 45% atau sekitar 270.000 ton dari total konsumsi karet alam dalam negeri.

Apalagi, produk ban dalam negeri merupakan salah satu komoditi andalan ekspor Indonesia.

Dari total produksi, 70% diperuntukkan bagi pasar ekspor dengan nilai mencapai US$1,5 miliar per tahun.

Antaranews, 03/10/2017

-----------------------------------

Kemenperin Nilai Industri Plastik dan Karet Hilir Prospektif

Industri plastik dan karet hilir memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia karena tingkat konsumsi terhadap kebutuhan komoditas tersebut cukup tinggi. Misalnya, diserap oleh sektor-sektor manufaktur strategis, seperti industri kemasan untuk makanan dan kosmetika, elektronika, serta automotif yang memanfaatkan sebagai bahan baku dalam proses produksinya.

"Pengembangan industri plastik dan karet di dalam negeri masih prospektif, mengingat industri ini merupakan sektor vital dengan ruang lingkup mulai hulu hingga hilir, yang selalu dibutuhkan oleh industri lain dan memiliki variasi produk yang sangat luas," kata Sekjen Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Haris Munandar mewakili Menteri Perindustrian pada Pembukaan Pameran Produk Industri Plastik dan Karet Hilir di Jakarta kemarin.

Kemenperin mencatat, jumlah industri plastik di Tanah Air saat ini mencapai 925 perusahaan yang memproduksi berbagai macam produk plastik dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 37.327 orang dengan total produksi hingga 4,68 juta ton pertahun.

Sementara itu, permintaan produk plastik nasional sekitar 4,6 juta ton per tahun, meningkat 5% dalam lima tahun terakhir.

"Dalam upaya peningkatan produktivitas industri plastik, kami terus mendorong untuk pemenuhan bahan bakunya. Saat ini bahan baku plastik dalam negeri belum mampu mencukupi dari segi kuantitas mau-pun spesifikasi produk," ungkap Haris.

Adapun, langkah strategis yang telah dilakukan pemerintah guna memacu kinerja industri plastik lokal, antara lain fasilitasi pemberian bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP). Di samping itu, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI), fasilitasi promosi dan investasi, penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), serta pengaturan tata niaga impor.

"Agar siap menghadapi persaingan pada pasar bebas, seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN, Kemenperin pun mendorong industri plastik nasional mampu bersinergi dan terintegrasi melalui kerja sama dengan stake holders terkait," papar Haris.

Contohsinergiyangperlu dilakukan, di antaranya penguatan penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) serta kebijakan yang mendukung peningkatan daya saing agar produk plastik domestik bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mampu bersaing di pasar internasional.

Sementara itu, Indonesia merupakan salah satu negara utama penghasil karet alam dengan produksi melebihi 5 juta ton per tahun. Produksi karet alam nasional masih dapat ditingkatkan, mengingat potensi lahan yang ada mencapai 3,5 juta hektar (ha).

"Terlebih, industri didukung juga oleh program-program penelitian dan pengembangan yang dilakukan baik oleh pemerintah, institusi pendidikan maupun pihak swasta," ujar Haris.

Menurut dia, karet sebagai salah satu komoditi hasil perkebunan yang memiliki peran cukup strategis dalam kegiatan perekonomian Indonesia. Apalagi, konsumsi karet alam yang saat ini berkisar 580.000 ton per tahun, juga masih berpeluang terus ditingkatkan.

Untuk itu, upaya yang perlu dilakukan, antara lain dengan intensifikasi maupun ekstensifikasi ekspor barang karet serta mendptakan cabang-cabang industri baru seperti industri ban pesawat dan vulkanisasi pesawat terbang yang dapat menyerap karet alam cukup banyak dan menghasilkan devisa nasional.

"Pemerintah memandang bahwa langkah-langkah untuk peningkatan konsumsi karet alam dalam negeri perlu segera dilakukan dalam rangka meningkatkan nilai tambah potensi sumber daya alam nasional," tutur Haris.

Misalnya, kebijakan pembangunan tol laut, di mana pemerintah akan membangun 24 pelabuhan, antara lain deep sea port (pelabuhan laut dalam) di Kuala Tanjung, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar, dan Sorong.

Koran Sindo, 04/10/2017

------------------------------

Ekspor Karet Anjlok, Masyarakat Harus Tahu Ini Faktor Penyebabnya

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Kalbar, Yusdar Sutan mengatakan penurunan ekspor karet di Kalbar dikarenakan berbagai faktor. Pertama ia mengakui harga karet di pasar Internasional memang turun dari harga tertinggi di bulan Februari 2017 sebesar US$2,20 per Kg SIR 20 menjadi US$1,49 per Kg SIR 20 pada saat ini.

"Harga karet di pasar tradisional turun sekitar 30%. Selain itu pada saat ini konsumsi komoditi karet dari Tiongkok, Amerika dan negara-negara Eropa tidak meningkat banyak, karena ekonomi negara-negara tersebut masih belum pulih," ujar Yusdar yang tengah berada di Jakarta saat dihubungi Tribun pada Rabu (4/10/2017).

Harga yang rendah ditambah konsumsi yang menurun dari beberapa negara kata Yusdar diperparah dengan produksi karet yang meningkat pesat dari negara Vietnam dengan produksi 1,2 juta ton per tahun, sehingga Vietnam menjadi produsen karet nomor tiga di dunia dibawah Thailand dan Indonesia.

"Selain harga yang turun, volume ekspor Agustus juga menurun dibandingkan Juli. Hal ini disebabkan supply bokar yang berkurang dari para pedagang pengumpul dan petani karet. Ada sebagian dari mereka yang menyimpan hasil produksi karetnya untuk dijual pada saat harga naik," ujarnya.

TRIBUNPONTIANAK, 05/10/2017

------------------------------------

Permintaan & Harga Mulur, Ekspor Karet Sumut Naik

Volume ekspor karet Sumatera Utara hingga triwulan III (Januari-September) 2017 naik 22,57%. Lantaran naiknya permintaan serta harga.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah mengatakan, hingga September 2017, volume ekspor karet Sumut sudah mencapai 378.739 ton.

Volume ekspor sebanyak 378.739 ton itu naik 22,57% dibanding periode sama 2016 yang mencapai 308.993 ton. "Kenaikan volume ekspor itu didorong naiknya permintaan dan harga jual," ujar Edy di Medan, Rabu (11/10/2017).

Menurut dia, dengan sudah terjadinya kenaikan ekspor hingga 22,57% hingga September, maka volume ekspor hingga akhir tahun diprediksi berada di atas angka 2016.

Pada 2016, total volume ekspor karet Sumut mencapai 421.670 ton dari total produksi yang sebanyak 441.220 ton. Selain ekspor, produksi karet Sumut juga dijual di dalam negeri.

"Pengusaha dan petani karet.mulai bergairah dengan terjadinya kenaikan permintaan dan harga jual meski dinilai masih belum optimal," kata Edy.

Harga ekspor SIR20 per 10 Oktober 2017 untuk pengapalan November sebesar US$1,43 per kilogram (kg). Naik di Desember 2017 menjadi US$1,45 per kg. Harga ekspor untuk pengapalan Januari 2018, menguat lagi menjadi US$1,46 per kg.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, Parlindungan Purba mengatakan, karet.masih menjadi andalan devisa Sumut terbesar kedua setelah minyak sawit. Oleh karena itu, katanya, Apindo tetap berharap, pemerintah melindungi komoditas itu bersama petani dan pengusahanya.

INILAH.COM, 11/10/2017

------------------------

Petani Berharap Harga Karet Stabil di Angka Segini Perkilonya

Harga karet di Baturaja Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) kembali lesu dan jauh dari harapan para petani. Pasalnya saat ini harga karet bulanan jatuh di harga Rp8.000 perkilogram. Sementara harga karet mingguan berkisar Rp6.500 - Rp6.800 perkilogram.

Beda lagi harga karet di Kecamatan Lubukraja, OKU. Harga karet disana cenderung lebih tinggi berkisar Rp9.300 per Kilogram untuk karet bulanan. Sebelumnya Rp9.600 per Kg atau turun Rp300 per kg. Untuk harga karet minggguan naik dari Rp8.000 ke Rp8.500 per kg.

"Kami tidak jual ke Palembang. Kami jual di OKU. Kalau ke Palembang susutnya lebih jauh. Hal ini karena jarak yang membuat bobot karet jadi susut. Makanya sekarang ini banyak yang ke PTP," kata Yon saat dihubungi wartawan, Senin (23/10).

Sementara itu Ketua Fraksi DPRD OKU, Robi Vitergo menjelaskan harga karet di  karet di Kecamatan Lubuk Batang cenderung lebih rendah. Harga berkisar Rp8.000 perkilogram. Sementara harga karet mingguan berkisar Rp6.500-Rp6.800 perkilogram. Harga ini cenderung stabil beberapa waktu ini.

Meski stabil, harga karet ini dinilai rendah. Petani karet kata Robi mengharapkan harga karet bisa naik dan stabil di harga Rp10.000 per kg. Dengan demikian bisa berdampak baik dan mendongkrak perekonomian petani.

"Ya, terlebih banyak masyarakat di daerah bumi sebimbing sekundang ini bekerja atau mengandalkan pertanian karet untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ungkapnya.

Robi menambahkan, dengan kondisi ini diharapkan  pemerintah harus mengambil sikap dan bisa melakukan stimulus-stimulus untuk peningkatan hasil dan kualitas hasil karet petani. "Sehingga ke depan petani harga karet bisa stabil dan meningkatkan perekonomian masyarakat," katanya.

Rakyat Merdeka Online, 23/10/2017

---------------------------------------

Industri Hilir Karet Lokal Perlu Perhatian

Dewan Karet Indonesia menilai, dalam tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, sektor komoditas terutama perkebunan karet kurang mendapat perhatian. Padahal, 90% pemilik lahan karet adalah petani rakyat. Tanpa perhatian pemerintah, petani jadi pihak yang paling dirugikan akibat melemahnya harga karet.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia Azis Pane mengatakan, selama tiga tahun terakhir ini pemerintah hanya berkonsentrasi di pangan dan infrastruktur. "Kami merasa ditinggalkan. Padahal, pembangunan infrastruktur seperti pembangunan tol juga tidak akan terlalu membantu apabila jalan-jalan kecil tidak turut diperbaiki," ujar Azis kepada KONTAN, Kamis (19/10).

Menurut Azis, beberapa waktu lalu pemerintah mulai menunjukkan perhatiannya terhadap perkebunan karet dengan wacana untuk melakukan replanting. Dia bilang, pemerintah berencana meremajakan 1 juta ha kebun karet pada akhir 2017 hingga 2018.

Namun, Azis berpendapat, pemerintah tidak boleh hanya berkonsentrasi memperbaiki bagian hulu saja, tetapi juga harus menunjang industri hilir karet. Sebab, saat ini komoditas karet lebih banyak diserap untuk digunakan sebagai bahan baku ban saja. Padahal, banyak produk yang membutuhkan karet sebagai bahan baku.

Karena kurangnya kebijakan hilirisasi karet, harga karet petani berfluktuatif. Saat ini rata-rata harga karet di kisaran Rp 5.500–Rp 7.000 per kilogram (kg) ditingkat petani. Sementara di pasar global, harga karet di kisaran US$1,4–US$1,7 per kg dalam beberapa waktu terakhir.

Dengan produksi karet rata-rata 3,2 juta ton per tahun, sekitar 600.000 ton diserap dalam negeri dan sisanya di ekspor. Ketergantungan pada pasar ekspor membuat pemerintah tidak berdaya mengendalikan harga karet lokal.

Menurut Azis, sebagai produsen karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand, harusnya pemerintah memberikan perhatian penuh pada pengembangan perkebunan karet dalam negeri. Namun hal itu tidak didapat selama pemerintahan saat ini.

Kepala Biro Riset RPN Sinung Hendratno mengatakan, sejak era commodity boom meredup mulai tahun 2012, harga karet di pasar global dan lokal terus tertekan. Ia bilang harga karet relatif tidak berubah sampai akhir tahun 2017. "Turunnya harga karet justru berdampak pada menurunnya minat petani melakukan replanting tanaman karet mereka," katanya.

KONTAN.co.id, 20/10/2017

----------------------------------

BUMD JATIM: Industri Karet Topang Pertumbuhan Bisnis Wira Jatim

Badan Usaha Milik Daerah milik provinsi Jawa Timur, Wira Jatim Group mencatatkan pertumbuhan bisnis sebesar 9,8% selama Januari—September 2017 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Volume pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan dengan capaian pada periode Januari—September 2016 dibandingkan dengan periode yang sama pada 2015 (year-on-year/yoy) yang tercatat rata-rata sebesar 7,4%. Pertumbuhan yang meningkat pada tahun ini ditopang oleh pertumbuhan pabrik karet BUMD tersebut.

Presiden Direktur Wira Jatim Group Basanto Yudoyoko menyampaikan pascaperampingan perusahaan pada Wira Jatim Group dari 38 anak usaha menjadi 8 perusahaan, BUMD multisektor tersebut terus melakukan efisiensi dan penataan manajemen.

“Dulu dari 38 perusahaan, hanya ada 2 yang mampu menopang pertumbuhan bisnis. Saat itu posisinya berat sekali. Saat ini 8 anak usaha sudah memberikan kontribusi yang baik dan yang paling kami andalkan adalah industri conveyor belt kami yang pabriknya di Surabaya,” jelas Basanto pada Bisnis, Senin (30/10/2017).

Basanto menjelaskan pertumbuhan bisnis dari delapan anak usaha Wira Jatim Group memang bervariasi mulai dari 6%—15% sepanang Januari—September 2017 (yoy). Adapun, conveyor belt milik PT Karet Ngagel Surabaya Wira Jatim juga dipasok ke beberapa perusahaan ternama seperti PT Bukit Asam dan Freeport Indonesia.

“Kami berharap permintan dapat meningkat kalau nanti perekonomian membaik. Selain memproduksi conveyor belt, kami juga memproduksi untuk sektor transportasi seperti sandaran kapal dan aksesoris kendaraan bermotor.

Adapun, saat ini Wira Jatim Group masih harus menanggung kinerja negatif satu anak perusahaan yaitu PT Cassava Buana Wira Jatim, yaitu perusahaan yang memproduksi tepung berbaghan dasar singkong. Belum lama ini, manajemen memutuskan untuk menghentikan operasional pabrik tersebut karena pasokan bahan baku yang tidak konsisten.

Basanto menjelaskan suplai bahan baku ke pabrik tepung tersebut tidak konsisten sepanjang tahun. Pasokan mlonjak saat musim panen, namun nihil saat petani tidak sedang memanen. Padahal, pasokan musim panen pun tidak dapat terserap seluruhnya karena kapasitas pabrik yang tidak begitu besar.

“Seharusnya untuk dapat berproduksi sepanjang tahun, diatur pola tanamnya. Kemampuan pabrik hanya bisa teruma 500 ton singkong per hari, namun saat panen petani bisa mengirim 5.000 ton per hari. Kami tidak bisa menyimpan bahan baku karena untuk memproduksi tepung tapioka, maksimal penyimpanan hanya 3 hari sebelum singkongnya terfermentasi,” ungkap Basanto.

Perusahaan mencatat saat memutuskan menghentikan operasionalnya, utilisasi pabrik hanya mencapai maksimal 60%. Operasional pabrik terpaksa dihentikan meski pasar tepung tapioka dalam negeri sangat besar dengan lebih dari 50% kebutuhan diimpor dari negara lain.

Wira Jatim Group merupakan BUMD terbesar provinsi paling ujung timur Pulau Jawa dengan lini bisnis yang sangat beragam seperti manufaktur, industri, farmasi, jasa, perdagangan umum, properti, pembangunan dan jasa konstruksi, infrastruktur, dan sektor pelabuhan laut.

Perusahaan ini lah yang sempat membuat bos grup Jawa Pos sekaligus bekas Menteri BUMN Dahlan Iskan sempat tersandung beberapa waktu lalu karena pelepasan aset yang sempat dinilai tidak sesuai ketentuan saat dia menjabat sebagai Dirut.

Bisnis.com, 30/10/2017

-------------------

Harga Karet Murah Belum Dorong Kinerja Kirana Mega

Tren penurunan harga karet internasional tidak mempengaruhi kinerja penjualan PT Kirana Megatara Tbk (KMTR). Sebab perusahaan perkebunan ini mengaku membeli karet dari petani dan pedagang dengan harga yang yang memang rendah.

Direktur Operasional KMTR Daniel Tirta Kristiadi mengatakan, kinerja perusahaannya masih sesuai target. "Produksi kami untuk kuartal ketiga ini masih sesuai target," klaim Daniel tanpa menyebutkan angka pastinya. Dia juga enggan membeberkan realisasi produksi KMTR pada kuartal ketiga tahun ini.

Namun pada semester pertama 2017, KMTR mencatat produksi sebesar 250.000 ton atau 50% dari total target tahun 2017 yang sebesar 500.000 ton. Bila mengacu target sampai akhir tahun 2017, maka seharusnya produksi KMTR pada kuartal ketiga tahun ini tembus sekitar 375.000 ton. Daniel mengatakan dengan pencapaian saat ini, KMTR optimis target produksi 500.000 ton sampai akhir tahun akan tercapai.

Daniel bilang, harga karet dunia tahun ini di kisaran US$1,41 per kg masih tergolong tinggi bila dibandingkan tahun 2016 yang harganya sempat jatuh di harga US$1 per kg. Menurutnya penurunan harga karet selama ini dipengaruhi spekulasi pasar.

Seperti diketahui, pada kuartal ketiga tahun ini, harga karet dunia kembali mengalami penurunan di kisaran US$1,41 per kilogram (kg) dari sebelumnya sempat tembus US$1,51 per kg.

Dengan kondisi itu faktor penawaran dan permintaan tidak menjadi penentu satu-satunya harga karet global. "Justru petani yang paling menderita akibat penurunan harga karet," ujarnya kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Agar petani tetap untung, menurut Daniel, yang perlu ditingkatkan selain harganya juga produktivitas tanaman karet yang jauh tertinggal dibandingkan negera lain seperti Thailand. Saat ini, rata-rata produktivitas karet di Indonesia hanya sebesar 900 kg per hektare (ha) per tahun. Sementara Thailand mencapai 1.600 kg per ha per tahun.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, untuk mendongkrak harga karet, negara-negara produsen yang tergabung International Tripartite Rubber Council (ITRC) sepakat melakukan kolaborasi di bidang penelitian dan pengembangan teknologi. "Tujuannya mendorong penggunaan karet sebagai bahan baku di sektor transportasi, infrastruktur, olahraga, alat pertahanan, kesehatan dan barang konsumsi," ujarnya.

KONTAN.co.id, 02/10/2017

----------------

Harga Karet Tertekan Melarnya Pasokan

Harga karet melanjutkan koreksi akibat tingginya persediaan China dan keputusan International Tripartite Rubber Council (ITRC) tidak memperketat pasokan ke pasar global.

Pada penutupan perdagangan Selasa (10/10), harga karet di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) kontrak teraktif Maret 2018 merosot 2,61% atau 5,40 poin ke level 201,80 yen per kilogram (kg).

Harga karet melemah tiga hari berturut-turut setelah turun 80 poin atau 0,38% ke level 207,20 yen per kg pada Jumat (6/10) dan terkoreksi 50 poin atau 0,24% ke level 208 yen per kg pada Kamis (5/10).

Analis Central Capital Futures Wahyu T. Laksono mengatakan, kelebihan pasokan di pasar tidak bisa diatasi oleh pertumbuhan permintaan China yang turut mendongkrak stok di Negeri Panda.

Sepanjang Januari—Agustus 2017, impor karet alam dan karet sintesis China naik 24,3% secara year-on-year menjadi 4,45 juta ton. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan impor minyak mentah China yang tercatat sebesar 12,2%, batu bara 14,2%, dan bijih besi 6,7% secara yoy.

Di sisi persediaan, Shanghai Futures Exchange mencatat jumlah stok karet China per 28 September 2017 naik 1,8% dibandingkan dengan pekan sebelumnya menjadi 443.752 ton. Kenaikan persediaan karet terjadi dalam 17 pekan berturut-turut.

Permintaan China yang kuat sekalipun tidak cukup untuk mengatasi kelebihan pasokan di pasar. Akibatnya, karet alam masih jadi komoditas dengan kinerja terburuk sepanjang tahun ini,” katanya ketika dihubungi Bisnis, Selasa (10/10).

Selain permintaan dan persediaan China, pertemuan ITRC yang dihadiri oleh Thailand, Malaysia, dan Indonesia pada medio September 2017 tidak memberikan katalis positif bagi pasar karet.

Tiga negara pemasok 70% komoditas karet ke pasar global ini memutuskan tidak melanjutkan program pembatasan ekspor. Padahal kesepakatan yang tertuang dalam skema Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) itu berhasil menurunkan ekspor sebesar 615.000 ton atau setara 6% dari pasokan global pada 2016.

“Apabila produsen utama dapat meyakinkan pasar tentang keseriusan dalam menurunkan output, harga cenderung bisa naik,” paparnya.

Wahyu menambahkan, faktor cuaca di tiga negara produsen utama karet patut dicermati. Pasalnya, musim hujan sepanjang kuartal IV/2017 bakal menghambat proses penyadapan karet sehingga dapat menjadi sentimen yang menopang harga karet.

Sementara itu, analis Asia Trade Point Futures Andri Hardianto mengatakan, melemahnya harga karet disebabkan oleh beberapa sentimen negatif.

Pertama, kekhawatiran melemahnya ekonomi China pada kuartal IV/2017 yang cenderung melemah. Di samping itu, S&P Ratings memangkas peringkat utang China dari AA ke A+ pada bulan lalu.

Kedua, tidak adanya kesepakatan pemangkasan produksi antara anggota ITRC, yaitu Thailand, Indonesia, dan Malaysia. Keputusan ITRC itu berisiko membuat pasokan karet ke pasar global tetap melimpah.

Pada kuartal IV/2017, Andri memprediksi karet memiliki sedikit ruang untuk menguat karena faktor cuaca. Namun, faktor tersebut tidak terlalu mempengaruhi kondisi pasar yang masih dibayangi tingginya persediaan.

“Prediksi saya di kuartal IV ada potensi penguatan dengan kisaran terbatas, antara 205 yen per kg hingga 207 yen per kg,” kata Andri.

Bisnis Indonesia, 11/10/2017

---------------------------

Peringkat 10 Besar Penyumbang Devisa Dollar ke Indonesia

Devisa negara itu adalah KOENTJI : salah satu pilar yang menunjukkan kekuatan ekonomi sebuah negara. Devisa intinya adalah kekayaan sebuah negara dalam bentuk valuta asing (biasanya dalam dollar) dan bisa digunakan untuk transaksi internasional.

Makin tinggi cadangan devisa yang dkantongi negara, maka makin tajir kekuatan ekonomi negara itu.

Lalu industri apa saja yang menjadi 10 besar penyumbang devisa terbesar di negara ini? Jawabannya agak mengejutkan, dan kita akan lacak pagi ini.

Sumber devisa yang paling utama adalah dari hasil ekspor beragam produk ke luar negeri, kiriman valuta asing dari tenaga kerja kita di luar negeri, dan juga belanja wisatawan asing yang melancong ke tanah air.

Berikut peringkat 10 besar penyumbang devisa terbesar di Indonesia berdasar data terakhir (data didapat dari BPS dan Kementerian Perindustrian).

1. Devisa Hasil Ekspor Kelapa Sawit – Rp 239 triliun

2. Jasa Parisiwasata (Turis Asing) – Rp 190 triliun
3. Eskpor Tekstil – Rp 159 triliun
4. Ekspor Migas – Rp 170 triliun
5. Ekspor Batubara – Rp 150 triliun
6. Jasa TKI – Rp 140 triliun
7. Ekspor Elektronik – Rp Rp 80 triliun
8. Ekspor Hasil Kayu Hutan – Rp 70 triliun
9. Ekspor Karet – Rp 65 triliun
10. Ekspor Sepatu dan Sandal – Rp 60 triliun

Ada sejumlah catatan yang layak diracik berkaitan dengan data peringkat 10 besar penyumbang devisa Indonesia diatas. Mari kita ulik satu demi satu.

Catatan Devisa # 1 : Produk Jadul Terus Berdansa

Ditengah kemeriahan wacana tentang ekonomi digital, ecommerce, industri kreatif dan blah-blah lainnya, ternyata komoditi unggulan negeri ini adalah produk yang sudah jadi legenda sejak jaman kolonial : kelapa sawit. Produk jadul yang usianya sudah ratusan tahun.

Kelapa sawit (peringkat 1) dan Karet (peringkat 9) memang dua renewable products primadona negeri ini yang harus terus dipeliharan. Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar 1 dunia, dan produsen karet no. 2 terbesar dunia.

Yang perlu didorong adalah agar terjadi kenaikan produktivitas kelapa sawit per hektar. Saat ini rata-rata produktivitas kebun milik perusahaan modern adalah 20 ton sawit/hektar. Idealnya bisa naik jadi 30 ton.

Lalu juga perlu dikembangkan pengembangan produk turunan yang nilai tambahnya lebih tinggi, daripada sekedar ekspor sawit mentah atau hanya dalam bentuk CPO (crude palm oil).

Jika produktivitas kelapa sawit naik tajam dan pengembangan produk turunan sukses, maka sumbangan devisa dari produk jadul ini bisa makin masif.

Masa depan ekonomi negara itu bukan bergantung pada ekonomi digital dan e-commerce yang katanya serba gemerlap itu. Bukan.

Masa depan negeri ini ada pada KELAPA SAWIT dan KARET. Ingat selalu akan hal ini.

Catatan Devisa # 2 : Turis Asing Membawa Rezeki

Diam-diam, sektor pariwisata secara mengejutkan menjadi penyumbang devisa terbesar 2 negara ini.

Limpahan dolar datang dari uang belanja jutaan turis asing yang melancong ke negeri ini. Total ada Rp 190 triliun yang masuk karena wisman, dan memberikan multiplier effect yang sangat besar bagi penciptaan lapangan kerja dan ekonomi lokal.

Maka sambutlah turis asing dengan senyum keramahan

Target jumlah wisman tahun ini adalah 17 juta orang; masih kalah dari wisman ke Singapore (20 juta), Malaysia (25 jutaan) dan Thailand (30 jutaan).

Harusnya jumlah wisman ke Indonesia bisa tembus 50 juta.

Dengan destinasi kelas dunia seperti Bali, Wakatobi, Labuan Bajo, Raja Ampat, Bandung dan Jogja, maka mestinya angka wisman kita bisa segera tembus ke arah 50 juta. Kalau ini tercapai, maka hutang negara kita bisa cepat dilunasi.

Kampanye wisata Wonderful Indonesia perlu digalakkan. Sumber utama wisman ke Indonesia itu adalah warga Jepang, China, Malaysia, Singapore, dan Australia.

Fokuskan saja kampanye yang super kreatif dan viral campaign ke 5 negara itu. Gunakan prinsip Pareto – prioritas dana dan tenaga kepada key customers.

Manfaatkan aliansi dengan Alibaba untuk attract turis dari China. Lalu manfaatkan buzzer/akun-akun social media terkenal di Spore, Malaysia dan Aussie untuk promosikan keindahan nusantara.

50 Million Visitors for Wonderful Indonesia. Slogan yang hanya bisa diwujudkan melalui cara pemasaran yang super kreatif.

Catatan Devisa # 3 : Keringat dan Doa TKI demi Ibu Pertiwi

Sumbangan devisa dari jutaan TKI kita diluar negeri ternyata jumlahnya cukup mencengangkan, Rp 140 triliun per tahun dan terus tumbuh.

Mayoritas TKI kita memang masih berstatus buruh migran atau low-skilled workers, baik yang bekerja di Hongkong, Korea, Singapore, Malaysia dan sejumlah negara Timur Tengah.

Namun karena jumlahnya jutaan, maka para buruh migran itu mampu mengalirkan devisa trliunan ke kampung halamannya.

Fyi, tenaga kerja di luar negeri juga merupakan sumber devisa utama bagi negara Philipina, India dan banyak negara lainnya.

Ekspor tenaga kerja ke luar negeri. Ini sejatinya sebuah langkah brilian sepanjang jenis tenaga kerja yang diekspor makin tinggi ketrampilannya.

India termasuk sukses dalam mengekspor jutaan pekerja level medium and high skills (atau level manajer) ke seluruh dunia.

Expat India terkenal ada dimana-mana. Diaspora India mampu berikan devisa yang masif bagi negaranya.

Kabar baiknya : kini juga makin banyak lulusan SMK Indonesia yang dikirim menjadi teknisi di luar negeri (Jepang, Korea). Juga banyak perawat Indonesia yang diekspor ke Jepang dan Timur Tengah. Banyak juga lulusan akademi kelautan yang kerja di luar negeri.

Artinya : pelan-pelan level skills TKI yang kerja diluar negeri makin meningkat.

Saya membayangkan, lulusan SMK dan akademi teknik Indonesia yang andal makin banyak yang invasi ke Jepang, sebab mereka memang makin kekurangan penduduk dan pekerja teknisi muda.

Diaspora Indonesia semoga bisa meniru sukses India. Ekspor tenaga kerja berkualitas demi masa depan Ibu Pertiwi.

Catatan Devisa # 4 : Fokus pada 3 Trio Maut

Ini catatan yang terakhir. Daftar 10 penyumbang devisa terbesar Indonesia diatas memberikan inspirasi : kita harus prioritaskan energi, kekuatan kreatif dan dana pengembangan pada 10 sektor ini.

Namun kalau mau diperas lagi menjadi 3 sektor unggulan utama yang perlu habis-habisan dikembangkan maka saya akan memilih : 1) kelapa sawit 2) pariwisata dan 3) karet.

Migas dan batubara adalah non-renewable products, jadi kelak akan habis. Minyak bumi dan batubara sebenarnya juga “dirty energy” yang menyumbang global warming. Makanya tak perlu jadi prioritas.

Saya memilih sawit, karet dan pariwisata karena terinspirasi konsep “comparative advantage” dari ekonom klasik David Ricardo.

Comparative advantage artinya adalah negara Anda punya keunggulan unik yang amat sulit ditiru negara lain (mungkin karena faktor geografis, kondisi alam dan sejarah negara itu).

Tak banyak negara yang bisa produksi sawit dan karet (makanya Indonesia produsen terbesar dunia untuk dua produk ini). Lokasi geografis Indonesia yang memungkinkan kita jadi raja untuk dua Komoditi ini secara global. Ini adalah berkah alam yang harus disadari dan dimanfaatkan.

 Potensi parisiwasata Indonesia juga amat kaya karana “berkah alam semesta” (keajaiban alam yang tak mungkin direplikasi negara lain).

 Alokasi anggaran, energi dan kekuatan kreatif harusnya difokuskan pada trio keunggulan komparatif ini.

 Sebab keunggulan komparatif dari trio produk sawit, karet dan pariwisata ini adalah penentu masa depan ekonomi Ibu Pertiwi.

DEMIKIANLAH, 4 catatan yang layak dihadirkan berkaitan dengan data 10 Besar Penyumbang Devisa Indonesia.

 Blog Strategi + Manajemen, 23/10/2017

-------------------------------

Harga Karet Rendah, Petani Karet Thailand Ancam Demo

Petani karet di Thailand, salah satu eksportir karet alam terbesar di dunia, mengancam melakukan demonstrasi di ibukota Bangkok jika pemerintah militer tidak membantu menopang penurunan harga komoditas tersebut.
Harga karet alam Thailand turun dari 179,25 baht ($ 5,41) per kg pada 2011 menjadi 47,75 baht pada Jumat (10/11). Namun pihak berwenang Thailand mengatakan, penurunan harga juga terjadi pada produsen komoditas utama lainnya.
Protes jarang terjadi di negara Asia Tenggara yang diperintah oleh junta dimana larangan pertemuan publik telah berlangsung sejak kudeta tahun 2014.
Dewan Karet Alam Thailand mengatakan bahwa para petani di selatan yang menanam karet meminta pihak berwenang untuk memberikan bantuan.
"Harga karet sekarang lebih rendah dari biaya produksi," kata Uthai Sonlucksub, Presiden Dewan Karet, kepada Reuters.
Sejumlah petani dari selatan ingin melakukan demonstrasi pada hari Senin dan menuduh Otoritas Karet Thailand, sebuah agen pemerintah, salah urus, kata Uthai. Dia tidak memberikan rincian tentang jenis bantuan yang diinginkan petani.

Thailand, bersama dengan Indonesia dan Malaysia, menghasilkan hampir 70 % karet alam dunia. Ketiga negara sepakat tahun lalu untuk memangkas ekspor guna meningkatkan harga pasar namun target mereka belum terpenuhi.
Otoritas karet Thailand membantah tuduhan salah urus.
"Harga karet saat ini rendah di semua negara penghasil karet utama. Kami melakukan yang terbaik," kata Sunan Nuanphromsakul, wakil gubernur otoritas.
Petani karet Thailand secara politis kuat. Pada tahun 2013, ratusan petani melakukan demonstrasi di seluruh negeri, memblokir jalan dan bandara regional di selatan.

Demonstrasi tersebut akhirnya berubah menjadi gerakan politik yang lebih besar yang menyebabkan penggulingan pada tahun 2014 sebuah pemerintahan sipil yang dipimpin oleh Perdana Menteri Yingluck Shinawatra.
Lembaran karet Thailand, yang menjadi patokan, tercatat berada diposisi di 43,60 baht per kg pada hari Kamis, kurang dari setengah dari harga tertinggi  tahun ini yang tercapai pada bulan Januari.

Reuters, 10/11/2017

---------------------------

Thailand Kurangi Pasokan, Harga Karet Kembali Menguat

Harga karet kembali menguat pada awal perdagangan hari ini, Kamis (2/11/2017) menyusul upaya Thailand untuk mengendalikan pasokan.

Harga karet untuk pengiriman bulan April 2018, kontrak paling aktif di bursa Tokyo Commodity Exchange (TOCOM), menguat 0.81% atau 1,60 poin menjadi 200 yen per kilogram (kg) pada 1031 GMT.

Sebelumnya, harga karet dibuka 0,5 poin lebih rendah atau 0,25% pada level 107,90 yen per kg setelah perdagangan kemarin ditutup lebih tinggi 2,90% atau 5,60 poin menjadi 198,40 yen per kg.

Seperti dilaporkan Bloomberg, Thailand Rubber Trade Authority akan kembali memangkas pasokan karet pada tahun fiskal berjalan yang dimulai 1 Oktober untuk mengendalikan harga. 

Thailand mentargetkan untuk menebang perkebunan karet seluas 64.000 ha dan mendorong petani untuk membudidayakan tanaman lain. Pada musim sebelumnya, pemerintah juga telah memangkas produksi pada perkebunan karet seluas 67.637 ha.

“Kondisi harga karet yang rendah saat ini berpotensi membuat industry manufaktur untuk mulai mengurangi produksi,” kata Tataki Shigemoto, analis dari JSC, seperti dikutip oleh Bloomberg.

 Sementara itu, mata uang yen Jepang mengalami apresiasi sebesar 0,25% atau 0,28 poin menjadi 113,90 yen per dollar AS pada 10.53 malam.  ***

Chi Duc Ngo blogsopt, 02/11/2017

----------------------------------------

Pemerintah Malaysia Setujui Dana 200 Juta Ringgit untuk Bantu Petani dan Penyadap Karet

Pemerintah Malaysia menyetujui alokasi dana sebesar 200 juta ringgit untuk sejumlah inisiatif khususnya untuk membantu petani rakyat dan penyadap karet, kata Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak.

Dia mengatakan sector perkebunan rakyat akan diberi insentif baru melalui sejumlah langkah antara lain infrastruktur modern sehingga para penyadap dapat memproduksi lateks lebih banyak dibandingkan dengan cuplump.

“Alokasi ini tidak termasuk bantuan musim hujan (Monsoon Season Aid/MSA), ini hanya untuk pengembangan sector perkebunan rakyat dan penyadap karet sehingga mereka bisa mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi,” kata Najib pada acara ‘Leaders with the People’ dan pembagian MSA kepada pekebun rakyat dan penyadap karet di Dataran Lembaga Kemajuan Wilayah Kedah hari ini.

Hadir pula dalam acara tersebut Menteri Besar Kedah Datuk Seri Ahmad Bashah Md Hanipah dan Menteri Industri Perkebunan dan Komoditi Datuk Seri Mah Siew Keong. 

Najib mengatakan langkah lainnya mencakup pengenalan klon karet baru yaitu Klon 1Malaysia yang dapat menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman karet yang ditanam dengan bahan tanam yang dipergunakan selama ini.

“Fokus kita sekarang adalah mengevaluasi apakah metoda penyadapan karet dapat dimodernisasi dengan memperkenalkan teknologi baru yang dapat menghasilkan produksi karet yang lebih tinggi. System penyadapan intensitas rendah merupakan metoda baru yang dapat diperkenalkan kepada para pekebun rakyat,” kata Najib.

Pada aspek permintaan, kata PM Najib, pihaknya sudah menginstruksikan bahwa karet akan digunakan untuk melapisi bagian permukaan jalan tertentu. Walaupun biaya awal untuk membangun jalan yang mengandung 15% karet lebih tinggi, namun pemerintah akan dapat menghemat biaya pemeliharaan jalan.

“Sektor ini (karet) masih memiliki masa depan yang cerah, dan permintaan karet masih ada. Kayu dari batang pohon karet juga merupakan sumber untuk produksi mebel, pasokan kayu, permintaannya sangat tinggi,” kata dia.

“Di Amerika misalnya permintaan kayu karet sangat tinggi, sehingga pemerintah akan melanjutkan pengembangan sector karet termasuk pekebun rakyat,” tutur Najib.

Untuk membatasi mengatasi dampak musim hujan bagi pekebun rakyat dan penyadap karet, Perdana Menteri mengatakan pemberian bantuan 200 juta ringgit per bulan selama tiga bulan (Nopember, Desember dan Januari) akan dilanjutkan tahun depan.

Untuk tahun 2017 ini pembayarannya akan dilakukan mulai hari ini secara langsung kepada para penerima melalui rekening bank mereka atau dalam keadaan tertentu akan dibagikan secara tunai.

Menurut Najib, lebih dari 500.000 pekebun rakyat dan penyadap karet di seluruh negeri akan mendapatkan manfaat dari bantuan senilai 200 juta ringgit, termasuk75.000 warga Kedah yang mendapat alokasi sebesar 45 juta ringgit.

Selain itu, lanjut PM Najib, masyarakat Kedah akan mendapatkan suntikan dana sebesar 1 miliar ringgit dari pemerintah pusat yang mencakup berbagai insentif termasuk bantuan yang disebut 1Malaysia People’s Aid. *** 

Malaymail Online, 01/11/2017

------------------------------------------

 Hasil Pertemuan International Rubber Consortium Limited (IRCo), 3 Nopember 2017 di Bangkok, Thailand

Dewan Direksi International Rubber Consortium (IRCo) mengadakan pertemuan pada tanggal 3 Nopember 2017. Dewan Direksi ITCo terdiri dari perwakilan dari Thailand, Indonesia dan Malaysia, sebuah konsorsium yang didirikan di bawah kerangka kerja International Tripartite Rubber Council (ITRC).

Pertemuan ditujukan untuk membahas situasi pasokan dan permintaan karet alam saat ini dan adanya pandangan bahwa harga tidak mencerminkan factor fundamental di pasar. Hal itu juga mengingat fenomena La Nina yang sudah dekat yang diperkirakan akan terjadi pada bulan Nopember 2017 sampai Januari 2018. Hal ini akan membawa hujan lebat dan akan mempengaruhi produksi karet alam. Selain itu, musin gugur daun akan segera mulai pada kuartal terakhir tahun 2017 yang diperkirakan akan memberikan kontribusi terhadap penurunan produksi karet alam di pasar global.

Pertemuan juga mencatat sentiment kuat yang mendukung permintaan karet alam termasuk:

  1. Membaiknya pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2017 yang diproyeksikan mencapai 3,6% dibandingkan 3,2% pada tahun 2016 (berdasarkan data IMF Oktober 2017)
  2. Peningkatan penjualan kendaraan bermotor roda empat di sejumlah negara utama dunia seperti China, UE dn Jepang yang masing-masing tumbuh 4,8%, 3,7% dan 7,1% pada periode Januari-September 2017 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 (sumber: European Automobile Manufacturers Association, China Association of Automobile Manufacturers/CAAM, Autodata Corporation, Reuters and Japanese Automobile Manufacturers Association/JAMA). Hal ini memberikan dampak langsung terhadap permintaan karet alam untuk produksi ban.
  3. Menguatnya harga minyak bumi dan komoditas lainnya seperti ditunjukkan di NYMEX dan GCSI Commodity Index; dan
  4. Meningkatnya penggunaan karet alam oleh ketiga negara termasuk penggunaan karet alam untuk pembangunan jalan raya dan jalan bebas hambatan.

Pertemuan itu menyepakati bahwa ketiga negara akan memonitor secara kolektif dan mempertimbangkan langkah-langkah untuk memperkuat harga karet alam. Hal ini mengingat mayoritas kebun karet dikelola oleh pekebun rakyat dan setiap penurunan harga memiliki dampak langsung terhadap pendapatan dan kesejahteraan mereka.