BERITA KARET DESEMBER 2017

BULLETIN KARET DESEMBER 2017 

  1. Siaran Pers International Tripartite Rubber Council (ITRC) Terkait Tren Penurunan Harga Karet Alam
  2. La Nina, Hujan Lebat dan Musim Gugur Daun Diperkirakan Menurunkan Pasokan Global Karet Alam
  3. Halcyon Agri akan Ambil Alih Divisi Polymer RCMA Group
  4. Dana Perkebunan Karet Memberatkan Petani
  5. Manfaatkan Karet Alam untuk Aspal
  6. Pabrik Karet Kritis, Petani Berhenti Menyadap karena Harga Anjlok
  7. Gapkindo : Stok Karet di Pabrik Sumut Menipis
  8. Kuartal III 2017, Produksi Karet Kirana Megantara Naik 10%
  9. Ekspor karet remah menopang Prasidha Aneka
  10. Holding BUMN Perkebunan Konversi 8.200 Kebun Karet Jadi Tebu
  11. Pamerindo Dukung Industri Plastik dan Karet

------------------------------------------------------

 Siaran Pers International Tripartite Rubber Council (ITRC) Terkait Tren Penurunan Harga Karet Alam

Pertemuan tigkat pejabat senior ITRC diselenggarakan di Chiang Mai, Thailand tanggal 29 Nopember 2017 yang dihadiri para pejabat dari Thailand, Indonesia dan Malaysia.

Pertemuan tersebut memberikan catatan terkait situasi pasokan dan permintaan karet alam dewasa ini dan menyatakan keprihatinannya mengingat kondisi harga tidak mencerminkan fundamental pasar yag ada.

Hal ini mengingat musim hujan yang berlangsung saat ini di sejumlah wilayah penghasil karet utama yang mengakibatkan penurunan pasokan. Selain itu, stok karet alam di negara-negara importir seperti China telah menunjukkan tren penurunan. 

Pertemuan ITRC juga menyatakan keprihatinannya mengenai dampak langsung dari rendahnya harga karet alam terhadap pendapatan dan kelangsungan hidup para petani karet rakyat di negara-negara anggota ITRC. 

Pertemuan tersebut menyepakati bahwa sejumlah langkah harus diterapkan segera termasuk pelaksanaan skema pengurangan ekspor atau Agreed Export Tinnage Scheme (AETS). Melalui skema ini, ketiga negara aggota ITRC akan membatasi ekspor karet alam untuk jangka waktu tertentu dengan tujuan untuk menyikapi tren penurunan harga karet alam dewasa ini. Dalam hal ini ITRC akan melaksanakan AETS yang kelima pada bulan Desember 2017.      

ITRC terus melanjutkan pelaksanaan langkah-langkah lainnya dengan tujuan untuk memastikan kelangsungan hidup para petani karet rakyat. ITRC meyakini bahwa tingkat harga yang adil dan remuneratif akan menguntungkan semua pemangku kepentingan dalam industri karet alam, khususnya para petani karet rakyat.***

-----------------------------

La Nina, Hujan Lebat dan Musim Gugur Daun Diperkirakan Menurunkan Pasokan Global Karet Alam

International Rubber Consortium Limited (IRCo) yang terdiri dari perwakilan Thailand, Indonesia dan Malaysia memperkirakan penurunan pasokan karet alam di pasar global di tengah-tengah kuatnya sentimen permintaan.

Lembaga tripartit tersebut menyatakan fenomena La Nina yang diperkirakan akan membawa hujan lebat dari Nopember 2017 sampai Januari 2018 akan mempengaruhi produksi karet alam disamping musim gugur daun yang akan mulai pada kuartal terakhir tahun 2017 yang juga diperkirakan akan menurunkan pasokan karet alam lebih dalam lagi di pasar global.

“Mengingat situasi pasokan dan permintaan karet alam dewasa ini, harga tidak mencerminkan fundamental pasar,” kata Presiden Komisaris IRCo, Mesah Tarigan yang didampingi anggota Dewan Direksi IRCo.

IRCo menyatakan terdapat sentimen yang kuat mendukung permintaan karet alam seperti meningkatkan tigkat pertumbuhan ekonomi global di tahun 2017 yang diproyeksikan mencapai 3,6%, lebih tinggi dibandingkan 3,2% pada tahun 2016 (berdasarkan data IMF bulan Oktober 2017).

IRCo juga mencatat bahwa peningkatan penjualan mobil di sejumlah pasar utama seperti China, Uni Eropa dan Jepang yang masing-masing tumbuh 4,8%, 3,7% dan 7,1% selama tiga kuartal pertama tahun 2017 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016, akan memberikan dampak langsung terhadap permintaan karet alam untuk produksi ban. [Sumber: European Automobile Manufacturers Association, China Association of Automobile Manufacturers (CAAM), Autodata Corporation, Reuters and Japanese Automobile Manufacturers Association (JAMA)]

Selain itu, IRCo melihat situasi pasar yang lebih baik untuk jenis komoditas lainnya seperti menguatnya harga minyak bumi dan komoditas lainnya seperti ditunjukkan di NYMEX dan GCSI Commodity Index.

Sementara itu, penggunaan karet alam mengalami peningkatan di Thailand, Indonesia dan Malaysia untuk konstruksi jalan raya dan jalan bebas hambatan.

“Ketiga negara akan secara kolektif memonitor dan mempertimbangkan langkah-langkah untuk meperkuat harga karet alam dengan mengingat bahwa mayoritas perkebunan karet dikelola oleh petani karet rakyat dan setiap penurunan harga akan membawa dampak langsung bagi pendapatan dan kesejahteraan mereka,” kata Mesah.

IRCo adalah sebuah perusahaan yang didirikan di bawah kerangka kerja International Tripertite Rubber Council (ITRC) dan dimiliki bersama oleh tiga produsen dan eksportir utama karet alam, yaitu pemerintah kerajaan Thailand, pemerintah Republik Indonesia dan pemerintah Malaysia. ***

Media OutReach, 08/11/ 2017

-------------------------------------------------

Halcyon Agri akan Ambil Alih Divisi Polymer RCMA Group

Halcyon Agri Corporation Limited, salah satu pengelola rantai pasokan karet alam terbesar di dunia telah menandatangani kesepakatan dengan RCMA Group Pte Ltd untuk mengakuisisi aset dan entitas divisi polymer perusahaan tersebut dengan nilai hingga US$33,8 juta.

Akusisi divisi polymer RCMA tersebut memberikan peluang kepada Halcyon Agri untuk mengkapitalisasi beberapa nama tertua di dunia dalam perdagangan karet alam, lateks dan karet sintetis yang akan memperkuat posisi pasar grup perusahaan tersebut. Selain itu, kombinasi antara Halcyon Agri dan divisi polymer RCMA akan menciptakan salah satu pusat distribusi terbesar di dunia untuk lateks dan karet ban khusus.

Robert Meyer, Direktur Eksekutif dan CEO Halcyon Agri mengatakan: “Akuisisi divisi polymer RCMA sejalan dengan strategi kami untuk memperluas kedalaman dan jangkauan operasi kami, dan memberikan kami alasan yang baik untuk menyongsong masa depan kami yang lebih cerah.” ***

-------------------

Dana Perkebunan Karet Memberatkan Petani

Rencana pemerintah memungut dana perkebunan karet pada awal 2018 dinilai memberatkan petani. Pasalnya, lima tahun terakhir kondisi petani karet terpuruk. Harga anjlok dari Rp 20.000 menjadi Rp 5.000/kg. Banyak kebun tidak terurus, terbengkalai, bahkan diganti tanaman lain.

Pabrik karet di Sumatera Utara, misalnya, hanya beroperasi tiga hari seminggu karena kekurangan bahan baku. Martiani Sebayang (25), petani dan tauke karet di Desa Rumah Sumbul, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hulu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat (1/12), mengatakan, dalam kondisi terpuruk seperti ini, petani berharap pemerintah memberi insentif, bukan malah menambah beban. Saat ini, Martiani hanya bisa mengumpulkan 15 ton karet/bulan dari petani. Padahal, tahun 2011 bisa terkumpul 100 ton karet/bulan.

 Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia Sumatera Utara Edy Irwansyah mengungkapkan, dalam lima tahun terakhir, industri karet nasional terpuruk karena harga karet remah di pasar dunia anjlok di bawah US$2 per kilogram dari US$4,52 pada 2011.

 Akibatnya, pasokan karet dari petani turun. ”Kebutuhan bahan baku karet untuk 28 pabrik karet remah di Sumatera Utara sekitar 800.000 ton per tahun. Pasokan dari petani kini hanya 400.000 ton per tahun,” katanya. Pabrik karet hanya beroperasi tiga hari per pekan. Bahkan ada satu pabrik berhenti beroperasi.

 ”Banyak pabrik yang bersiap merumahkan karyawan meskipun ini pilihan terakhir untuk bertahan,” katanya. Dalam kondisi itu petani dan pelaku industri selayaknya diberi insentif. Saat ini ada pembahasan pengutipan bea keluar atau dana perkebunan dari ekspor karet. Sebagian dana ini, menurut rencana, akan digunakan untuk meremajakan karet rakyat.***

KOMPAS, 02/12/2017

----------------

Manfaatkan Karet Alam untuk Aspal

INDONESIA memproduksi 3,2 juta ton karet dari total luas lahan perkebunan 3,4 juta ha. Itu menjadikan Indonesia penghasil karet terbesar kedua setelah Thailand. Sekitar 85% produksi karet dalam negeri masih diekspor dalam bentuk karet mentah dan sisanya untuk konsumsi domestik.

Namun, rendahnya permintaan ekspor karet mentah saat ini mengakibatkan kelebihan suplai. Harga karet dunia turun drastis dari US$4,7/kg pada 2011 menjadi US$1,3/kg pada 2016. Salah satu upaya untuk menstabilkan harga karet adalah meningkatkan konsumsi domestik.

Dalam rangka itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kementerian Perindustrian berupaya memanfaatkan karet alam dalam bidang infrastruktur. Salah satunya sebagai bahan tambahan untuk aspal (aspal karet). Balai Litbang Kementerian PUPR menerapkan teknologi aspal karet padat masterbatch di ruas Jalan Raya Parung, Bogor, pada 3–4 November 2017.

’’Karena kelebihan suplai di masyarakat, harga karet cenderung menurun. Akhirnya, dicoba diserap di pekerjaan seperti pintu air irigasi, bantalan untuk sandaran kapal, dan aspal jalanan,” ujar Kepala Balai Litbang Pekerjaan Perkerasan Jalan Nyoman Suaryana kemarin (6/11).

Penelitian dan pengembangan mengenai karet alam sebagai modifier aspal dilakukan Pusjatan sejak 2007. Karet alam yang digunakan adalah karet pekat (lateks) yang memiliki kandungan karet kering 60%. Namun, berdasar uji coba di lapangan, perkerasan dengan aspal karet memunculkan bercak putih. Selain itu, timbul kerusakan pada umur 18 bulan. Sebab, karet alam yang digunakan belum melalui vulkanisasi oleh sinar ultraviolet.

Hasil pengujian modifier karet alam dengan sistem vulkanisasi semi- EV ( efficient vulcanization) menunjukkan kinerja yang baik di laboratorium. Pada 2016, dilakukan penerapan untuk aspal karet cair 7% di ruas Ciawi–Benda. Penerapan dilakukan sepanjang 4 kilometer dengan panjang jalan aspal karet cair 2,5 km dan sisanya sebagai pembanding.

’’Setelah diterapkan secara visual, hasilnya bagus. Percampuran tidak bermasalah. Namun, masih ada kendala dalam produksi karet dengan aspal di pabrik. Karena alatnya belum tersedia, masih dikerjakan secara manual,’’ tuturnya.

Nyoman menambahkan, penggunaan karet padat masterbatch bisa mencapai 7% dari pengaplikasian kadar aspal. Pencampuran karet padat ke aspal membuat jalan lebih keras serta tahan cuaca dan beban. Ke depan, kinerja pengembangan aspal karet dievaluasi bertahap per tiga bulan. ’’Selanjutnya, kami coba lakukan di tempat-tempat yang dekat dengan sentral karet alam. Misalnya, Sumatera,’’ pungkasnya.***

Jawa Pos, 08/11/2017

-----------------------------

Pabrik Karet Kritis, Petani Berhenti Menyadap karena Harga Anjlok

Sebanyak 28 pabrik karet remah di Sumatera Utara kekurangan bahan baku. Sebagian besar pabrik hanya beroperasi tiga hari per pekan, bahkan ada yang menghentikan operasi. Krisis itu akibat banyak petani tak menyadap karet, menyusul harga anjlok Rp 6.000/kilogram. Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia Sumatera Utara Edy Irwansyah di Medan, Rabu (15/11), mengatakan, bahan baku karet yang ada di Sumatera Utara hanya 400 ton/tahun. Padahal, total kapasitas produksi mencapai 800.000 ton/tahun.

”Terjadi kapasitas menganggur 50%. Ini menyebabkan membengkaknya biaya produksi hingga 50%,” katanya.

Edy menyatakan, krisis bahan baku sangat memukul pabrik karet remah, terutama dalam sebulan terakhir. Pabrik mengalami kerugian karena harus membayar biaya tenaga kerja dan operasional mesin secara penuh, padahal produksi hanya sekitar 50% dari kapasitas terpasang.

Menurut Edy, ada satu pabrik untuk sementara telah menghentikan total operasional. Ada beberapa pabrik bisa beroperasi setiap hari, tapi mereka hanya setengah hari. Beberapa pabrik memilih beroperasi tiga hari dalam sepekan. Sejumlah pabrik harus tetap beroperasi untuk memenuhi kontrak dengan pembeli di pasar internasional. Mereka pun membeli bahan baku hingga dari Kalimantan meskipun harganya lebih mahal.

Edy menyatakan, jika kondisi ini terus berlanjut, pabrik-pabrik telah bersiap mengambil opsi perumahan karyawan meskipun itu sebenarnya menjadi pilihan terakhir bagi perusahaan. Diungkapkan, krisis bahan baku ini adalah ancaman serius bagi industri karet secara nasional. Ini sebuah ironi karena Indonesia sebagai penghasil karet terbesar kedua di dunia, setelah Thailand. Jika pemerintah tidak segera mengatasi, industri karet Indonesia bisa terpuruk.

Petani Terpuruk

Menurut Edy, krisis bahan baku terjadi karena petani karet terpuruk dan tidak mendapat perhatian. ”Petani yang pernah menikmati harga karet hingga Rp 20.000/kg pada 2011, kini hanya pasrah pada harga sekitar Rp 6.000/kg,” katanya.

Harga rendah di tingkat petani terjadi sebagai dampak penurunan harga karet remah di pasar dunia. Saat ini harga karet remah jenis TSR (technical specified rubber) 20 di bursa Singapore Commodity Exchange (Sicom) selalu berada di bawah US$2 per kg. Padahal, tahun 2011 pernah menyentuh US$4,52/kg.

Martiani Sebayang (25), petani dan tauke karet di Desa Rumah Sumbul, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hulu, Kabupaten Deli Serdang, menyatakan, dalam tiga tahun terakhir para petani di desa itu menebangi pohon karet. Kini petani hanya punya sekitar 2 ha per keluarga dari sebelumnya 5-10 ha. Batang karet dijual sekitar Rp 20 juta/ha.

”Sebenarnya kami tidak ingin menebang tanaman karet warisan keluarga kami. Ini seperti menebang masa depan kami,” katanya.

Mereka juga kesulitan mencari pekerja harian lepas untuk menyadap karet karena upah penyadap rendah. Seorang pekerja hanya bisa menyadap sekitar 12 kg getah karet per hari yang dijual sekitar Rp 72.000. Dengan sistem bagi hasil, penyadap dan pemilik mendapat masing-masing Rp 36.000 per hari. ”Bagaimana kami bertahan dengan pendapatan seperti itu,” katanya. ***

KOMPAS, 16/11/2017

-----------------

Gapkindo : Stok Karet di Pabrik Sumut Menipis

Pabrikan karet di Sumatera Utara terancam berhenti beroperasi karena pasokan bahan baku menipis dalam satu bulan terakhir.

"Pengusaha semakin mengeluhkan semakin menipisnya pasokan bahan baku. Saat ini bahan baku hanya cukup untuk 3-4 hari," ujar Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah di Medan, Rabu.

Pengusaha.mengkhawatirkan pasokan yang berkurang akan mengganggu pemenuhan kontrak ekspor karet untuk akhir tahun 2017 dan awal tahun 2018.

Padahal sebelumnyapun, operasional pabrikan karet di Sumut hanya sekitar 50 persen dari total kapasitas terpasang yang kurang lebih 800ribu ton.

Menurut dia, kesulitan bahan baku terjadi akibat pasokan dari pedagang pengumpul terus berkurang menyusul tidak menderesnya petani karena harga karet turun.

Pasokan semakin lemah karena juga lagi musim hujan.

Harga bahan olah karet atau bokar petani di Sumut hanya sekitar Rp5.000 hingga Rp7.000 per kilogram.

Harga itu dinilai petani tidak sesuai dengan biaya produksi atau tidak mencukupi biaya hidup sehingga petani memilih tidak menyadao getah dan beralih profesi seperti menjadi buruh bangunan dan pabrikan.

"Petani mengaku karet itu baru akan bisa menghidupi mereka kalau harganya minimal Rp10.000 per kg," ujar Edy.

Dia mengakui, penurunan harga bokar di tingkat petani dipengaruhi harga jual yang turun di pasar internasional.

Harga jual SIR20 di Oktober 2017 misalnya tinggal 1,43 dolar AS per kg dari di Januari 2017 yang sempat mencapai 2,11 dolar AS per kg.

"Kalau harga turun terus, maka sangat dikhawatirkan pasokan semakin bahkan tidak ada dan pabrikan karet semakin tidak bisa beroperasi atau malah tutup," katanya.

Ia mengaku, selama ini untuk menutupi kekurangan pasokan dari Sumut, pengusaha mendatangkan bokar dari Aceh, Lampung, Kalimantan dan Sulawesi.

"Pasokan bokar dari daerah lain itu untuk menjaga kepercayaaan pembeli dari luar negeri dan menghindari denda," ujar Edy.

Petani karet di Labuhanbatu, Sumut, K Siregar mengaku sudah lebih dari satu tahun tidak mengurus kebun karetnya dan beralih menjadi supir angkutan kota dan antarkota.

"Mana lagi bisa mengandalkan karet untuk biaya hidup kalau harga karet hanya di sekitar Rp5.000 per kg," katanya.

Dulu, kata dia, patokan harga karet yakni satu kilogram karet sama dengan dua kilogram beras.

"Sekarang satu kilogram beras aja paling.murah Rp8.000 per kg," katanya. ***

Antaranews.com, 15/11/2017

-----------------------------

Kuartal III 2017, Produksi Karet Kirana Megantara Naik 10%

Jakarta - PT Kirana Megatara Tbk (KMTR) mencatatkan kenaikan volume produksi karet pada kuartal III tahun 2017. Produksi karet periode Januari hingga September 2017 naik lebih dari 10%.

Direktur Kirana Megatara, Daniel Tirta Kristiadi mengatakan, produksi karet KMTR tercatat sekitar 400.000 ton. Angka tersebut dinilai Daniel masih sesuai dengan target yang dipasang oleh KMTR.

Kenaikan produksi dinilai akibat perbaikan harga karet. Perbaikan harga tersebut berdampak kepada ketertarikan petani karet untuk melakukan produksi. " Pada tahun sebelumnya, saat kuartal I harga rendah sehingga produksi ikut turun," kata Daniel.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, saat ini harga karet sudah lebih baik. "Harga saat ini lebih baik dari tahun lalu walaupun masih belum mencapai harga yang remunerative bagi petani kita," terang Daniel.

Saat ini harga karet masih berada pada kisaran US$ 1,5 per kilogram (kg). Sementara tahun 2016, harga karet hanya sebesar US$ 1 per kg. Namun, hargaremunerative menurut Daniel berkisar pada angka US$ 1,7 per kg.

Harga tinggi akan berdampak pada pendapatan petani karet. Pendapatan tersebut akan meningkatkan minat menanam petani karet sehingga keberlangsungan bahan baku dapat terjaga.

Meski begitu diperlukan bantuan pemerintah untuk menjaga pertumbuhan industri karet. Hal itu bisa dilakukan dengan intensifikasi program peremajaan karet. Selain itu juga dapat dilakukan bantuan kredit kepada petani karet.

KMTR menargetkan produksi karet hingga akhir tahun 2017 sebesar 500.000 ton. Angka tersebut tidak banyak bertambah dari pencapaian kuartal III.

PT KIRANA MEGATARA  sudah mulai lakukan peremajaan karet di beberapa area Sumatra Selatan November ini, dan akan dilanjutkan di Jambi pada pertengahan Desember. Total luas kebun karet rakyat yang diremajakan tahun ini sebanyak 500 ha. Dengan bantuan biaya untuk pembersihan pohon karet tua, bibit unggul, dan pupuk. ***

Industry.co.id, 05/11/2017

------------------------------------

Ekspor karet remah menopang Prasidha Aneka

PT Prasidha Aneka Niaga Tbk mencatatkan penjualan bersih per kuartal III-2017 sebesar Rp 1,09 triliun. Angka ini naik 59,8%  dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni sebesar Rp 686,2 miliar.

Lie Sukiantono Budinarta, Direktur Keuangan Prasidha Aneka Niaga menjelaskan, kinerja Prasidha sepanjang tahun ini sebagian besar disumbang penjualan karet remah. Perusahaan ini memasok produk itu ke pabrik produsen ban seperti Michelin.

Menurutnya, peningkatan penjualan karet remah terjadi lantaran tidak ada lagi pembatasan ekspor seperti yang terjadi pada tahun 2016. "Kondisi itu kami manfaatkan sehingga kuantitas penjualan ekspor karet remah meningkat sebesar 41,17% dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya," ujar Sukiantono dalam acara paparan publik di Jakarta, Jumat (17/11).

Dari sisi kuantitas, perseroan menargetkan penjualan karet remah sampai akhir tahun nanti mencapai 42.000 ton. Dari target tersebut, hingga September 2017 perusahaan hasil bumi ini sudah merealisasikan penjualan hingga 32.906 ton karet remah.

Kenaikkan tersebut juga diikuti oleh kenaikan nilai penjualan sebesar 90,2% menjadi Rp 772,5 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang ada di angka Rp 405,9 miliar.

Penjualan karet remah yang meningkat ternyata belum diikuti oleh kenaikan penjualan kopi. Sepanjang 2017, Prasidha semula menargetkan penjualan biji kopi sebanyak 1.337 ton. Hingga September 2017, perseroan ini cuma merealisasikan 100 ton saja, lantaran harga sedang murah.

Sukiantono menyebut, sepanjang tahun ini harga biji kopi yang murah berdampak pada kinerja keuangan perusahaan. "Jadi margin kami menipis," kata Sukianto. Turunnya penjualan biji kopi tidak lantas diikuti oleh penurunan kopi olahan. Perseroan masih optimistis, penjualan kopi olahan sampai akhir tahun bisa 4.200 ton.

Hingga kuartal III ini, Prasidha sudah mencatatkan  volume penjualan 3.490 ton dengan nilai Rp 321,5 miliar atau tumbuh 20,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang ada di angka Rp 266,9 miliar. 

Sukiantono menyebut, pada tahun 2018, perseroan  ini menargetkan total penjualan mencapai Rp 1,5 triliun. Dari target tersebut, nilai penjualan biji kopi ditargetkan bakal mencapai Rp 28,2 miliar, sementara karet remah dan kopi olahan masing-masing ditargetkan Rp 1,1 triliun dan Rp 399 miliar.

Upayanya mencapai target itu adalah dengan  menambah pasar ekspor baru. Apalagi,  pemerintah akan berbarter komoditas karet dengan pesawat Sukhoi Rusia. ***

Kontan.co.id, 18/11/2017

--------------------------------------------

Holding BUMN Perkebunan Konversi 8.200 Kebun Karet Jadi Tebu

Holding BUMN perkebunan, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) akan meningkatkan produktivitas. Peningkatan ini salah satunya dengan mengkonversi sejumlah lahan yang tidak produktif menjadi lahan tebu.

Direktur Utama PTPN III Dasuki Amsir mengungkapkan, setidaknya akan ada 8.200 hektare (ha) lahan dari beberapa anak usahanya yang akan dikonversi menjadi lahan tebu.

"Untuk mengurangi ketergantungan kepada petani, kita tahun depan akan konversi 7.000 hektare lahan PTPN XII dan 1.200 hektar di PTPN IX, sebelumnya lahan karet menjadi lahan tebu," ujar Dasuki di Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Upaya ini dilakukan untuk menjaga produktivitas perusaahan dalam hal produksi gula, mengingat saat ini dari seluruh pabrik gula yang dikelolanya saat ini, 90 persen tergantung pada petani tebu.

Dasuki mengaku saat ini produksi gula perusahaan sekitar 870 ribu ton tebu per hari. Diharapkan pada tahun depan akan meningkat menjadi 1,1 juta ton tebu per hari.

TIdak hanya meningkatkan jaminan ketersediaan tebu melalui pembukaan lahan mandiri, PTPN holding juga melakukan revitalisasi pabrik gula yang dimiliki. Saat ini rata-rata usia pabrik gula yang dimiliki di atas 100 tahun.

Setidaknya, akan ada 7 pabrik gula yang akan direvitalisasi. Pabrik itu adalah PG Mojo, PG Rendeng, PG Jatiroto, PG Asem Bagus, PG Bunga Mayang, PG Cinta Manis dan PG Gempolkrep.

"Selain itu, kita juga akan buka pabrik gula baru yang lebih modern, hingga 2020 kita akan ada satu pabrik gula baru lagi di Comal, kapasitas 600 ribu TCD," tutupnya. *** Liputan6.com, 14/11/2017

-----------------------------------------

Pamerindo Dukung Industri Plastik dan Karet

INDUSTRI plastik dan karet Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sektor penting yang mencakup hulu hingga hilir dan menjadi pendukung kemajuan industri terkait lainnya. Karena itu, Pamerindo Indonesia melangsungkan pameran Plastics and Rubber Indonesia 2017 yang berlangsung Rabu–Sabtu (15–18/11) di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

’’Plastik dan karet khusus dari hilir untuk pemenuhan domestik pada 2016 telah menyerap USD 21 miliar. Kita harus kembangkan untuk menjadi industri prioritas,’’ ujar Direktur Industri Kimia Hilir Kementerian Perindustrian Taufik Bazawier saat membuka pameran Plastics and Rubber Indonesia 2017 kemarin (15/11).

Kementerian Perindustrian mencatat, jumlah industri plastik hingga kini mencapai 925 perusahaan yang memproduksi berbagai macam produk plastik. Sektor tersebut menyerap 37.327 tenaga kerja dan memiliki total produksi 4,68 juta ton. Pertumbuhan industri kemasan plastik yang merupakan sektor kimia hilir sangat tinggi dan memiliki potensi besar.

Hal itu juga disepakati Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Andhi S. Lukman. Dia menyebut plastik masih menjadi salah satu favorit di industri pangan olahan karena sifatnya yang elastis, mudah dibentuk, kuat, dan terjangkau. ’’Kemasan memiliki fungsi penting yang dapat menjaga keawetan dan higienitas produk yang dijual serta fungsi penyimpanan dan distribusi,’’ ucap Andhi.

Berdasar data Kemenperin, meski penggunaan bahan konsumsi plastik di Indonesia besar, yakni 20 kilogram per kapita, totalnya 2,5 juta ton per kapita per tahun. Namun, jumlah tersebut di ASEAN masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan Singapura yang mencapai 40 kilogram per kapita per tahun.

Pemerintah telah mengatur dan menerapkan standar khusus untuk kemasan pangan yang bisa dijadikan acuan bagi para pelaku usaha di industri pengguna kemasan. Melalui pameran itu, Andhi berharap industri pangan olahan di Indonesia bisa lebih memperluas wawasan dalam peningkatan daya saing. Termasuk update teknologi terbaru. Sehingga memiliki daya saing global yang berdampak pada pertumbuhan industri pangan olahan,’’ katanya.

Pamerindo Indonesia selaku organizer penyelenggara pameran sangat mendukung kebijakan pemerintah melalui Kementerian Perindustrian yang menetapkan industri plastik hilir sebagai sektor prioritas pengembangan pada 2015–2019.

’’Untuk mendukung itu, kami hadirkan beragam mesin injection moulding yang mampu menghasilkan bentuk kemasan plastik sesuai dengan yang diinginkan. Bahkan, dari mutu kualitas, kecepatan, hingga ketepatan dari kemasan yang dihasilkan didapat dari mesin-mesin berteknologi tersebut,’’ papar Project Director Pamerindo Indonesia Wiwiek Roberto.

Pameran Plastics and Rubber Indonesia 2017 menggunakan tujuh hall pameran dengan luas sekitar 21.650 meter persegi. Diikuti lebih dari 600 perusahaan dari 24 negara dan 7 pavilion seperti Tiongkok, Jerman, India, Italia, Korea, Singapura, dan Taiwan. ***

Jawa Pos, 16/11/2017