BERITA KARET AGUSTUS 2018

  1. Ganggu Produksi, Penelitian Penyakit Gugur Daun Karet Perlu Ditingkatkan
  2. Gugur Daun Pohon Karet Bisa Sebabkan Produksi Turun 10%
  3. Kementan Jamin Produksi Karet Aman
  4. Dewan Karet Indonesia Minta Penyerapan Dalam Negeri Diperbesar
  5. Pengusaha Karet Tolak Wacana DNI Crumb Rubber
  6. Cari Dollar, PTPN Memperbesar Ekspor CPO dan Karet di Tahun Depan
  7. Kinerja Industri Kecil Sektor Karet & Plastik Melempem
  8. Kinerja Industri Kecil Sektor Karet & Plastik Melempem
  9. Banjir Landa Perkebunan di Thailand, Harga Karet Naik Lagi
  10. Aspal Karet Berpotensi Dongkrak Konsumsi Karet Mentah Indonesia
    ----------------------

Ganggu Produksi, Penelitian Penyakit Gugur Daun Karet Perlu Ditingkatkan

Direktur Pusat Penelitian Karet Bogor Gede Wibawa mengatakan  penyakit gugur daun pada pohon karet menjadi bahaya besar. Pada periode semester-I 2018, penyakit ini menyebabkan produksi karet turun 13%-14%.

Mengingat karet merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia, diperlukan perhatian khusus untuk menelusuri penyakit ini.

Gede menjelaskan, sebetulnya gugur daun merupakan penyakit tahunan yang umum tiba saat musim kemarau. Namun terdapat laporan dari sejumlah daerah yang mengalami gugur daun di luar musim kemarau dan hingga tiga kali, hasil identifikasi pusat penelitian menunjukkan ini sebagai serangan dari Neofusicoccum sp.

Sebelum tahun 2017 penyakit fusicoccum masih dianggap penyakit daun karet yang belum penting. Tapi tiba-tiba di Sumatra Utara terjadi gugur daun lebih dari satu kali, kata Gede.

Efeknya pada periode Januari-Juni 2018 terjadi gugur daun yang menurunkan produksi karet sebanyak 13%-14%. Kemudian pada periode bulan Juli, terjadi penurunan produksi 40%-50% dibandingkan tahun lalu.

Sayangnya luas penelitian yang dilakukan tim Gede baru mencapai lima provinsi dan mencakup 22.000 hektar. Provinsi tersebut adalah Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Riau, Jambi dan Kalimantan Barat. Padahal luas lahan karet nasional dalam catatannya melebihi 3,5 juta ha.

Karena itu, ia membutuhkan sample lebih luas sebelum bisa mengeluarkan proyeksi efeknya pada produksi karet nasional.

Gede yang juga menjabat sebagai Direktur Penelitian dan Pengembangan PT Riset Perkebunan Nusantara untuk tahap berikutnya, pihaknya telah bekerjasama dengan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Perlindungan Tanaman, Direktorat Jenderal Perkebunan untuk memperluas areal penelitian.

Menurut Gede, penyakit gugur daun dahulu pernah menyerang tanaman karet di Malaysia namun kini sudah tidak lagi. Sekarang pihaknya tengah mencari tahu penyebab penyebarannya. Selain penyakit gugur daun fusicoccum, penyakit gugur daun yang biasa menyerang komoditas karet adalah Oidium, Colletothricum dan Corynespora.

KONTAN, 06/08/2018

 --------------------------------

Gugur Daun Pohon Karet Bisa Sebabkan Produksi Turun 10%

Kondisi gugur daun pada pohon karet dapat menyebabkan gangguan produksi. Oleh karena itu, pemerintah harus mencari cara untuk menindaklanjuti kondisi tersebut.

Suharto Honggokusumo Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) menyatakan gugur daun ini sejatinya merupakan kondisi fisiologi yang umum terjadi.

Menurutnya keadaan ini bakal berlanjut hingga September. Produksi sudah turun 8% di semester pertama, dan di semester II bisa turun lebih besar lagi hingga 10% lebih, katanya.

Data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) menunjukkan adanya penurunan kinerja produsen karet secara nasional di paruh pertama 2018. Dalam catatan Gapkindo, ekspor karet sampai Juni 2018 turun 8% dari tahun lalu.

Tahun ini produksi karet diperkirakan mencapai 3,77 juta ton naik dari tahun sebelumnya sekitar 3,5 juta ton. Mayoritas produksi karet ini berasal dari produksi perkebunan rakyat sebesar 3,1 juta ton, produksi perkebunan negara yang diperkirakan 258.000 ton, dan dari perkebunan swasta sebesar 410.000 ton.

Menurut Suharto bila terjadi kondisi kekurangan pasokan dari satu daerah, umumnya akan ada pengiriman dari daerah yang berlebih.

Wilayah Sumatra Selatan dan Lampung merupakan dua lokasi yang melaporkan kondisi gugur daun yang cukup parah.

Menurut Suharto, walau kondisi ini merupakan hal yang normal terjadi setiap tahun, namun ada baiknya bila pemerintah mengupayakan penelitian dan tindakan untuk mengurangi kondisi tersebut. ***

KONTAN, 06/08/2018

------------------------------------

Kementan Jamin Produksi Karet Aman


Kementerian Pertanian membantah adanya potensi penurunan produksi karet hingga 40% tahun ini akibat ancaman penyakit gugur daun yang disebabkan jamur fusicoccum.

Direktur Perlindungan Tanaman Perkebunan Dudi Gunadi menyebutkan pihaknya memang mendapat laporan terkait serangan fusicoccum di Sumatra Selatan seluas 90 ha di Musi Rawas Utara dan 200 ha di Prabumulih. Dia juga mengamini bahwa gugur daun pada karet akibat fusicoccum memang sangat berbahaya apalagi jika sampai menyerang daun muda. Namun, serangan tersebut telah berhasil dikendalikan.

Menurut Dudi, kegiatan pengendalian di Musi Rawas Utara dilakukan pada Februari sementara untuk di Prabumulih pada Juli tahun ini. Pengendalian dilakukan dengan cepat melalui cara fogging. Untuk meningkatkan efektivitasnya, fogging pun hanya bisa dilakukan pada waktu tertentu yakni di malam hari ketika pergerakan udara tidak terlalu tinggi.

Kendati telah melakukan penanggulangan, dia menyebutkan pihaknya bekerja sama dengan dinas terkait di provinsi dan kabupaten hingga saat ini masih terus memantau daun-daun muda pada tanaman karet untuk mencegah terulangnya kejadian yang sama.

Adapun untuk daerah lain, sejauh ini pihaknya belum mendapatkan laporan lebih lanjut terkait serangan fusicoccum.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa kemungkinan penurunan produksi hingga 40% memang mungkin terjadi tetapi hanya untuk wilayah yang terjangkit penyakir gugur daun ini. Berdasarkan data yang didapat pihaknya dari kedua lahan tersebut, luasan tanaman karet yang terkena penyakit fusicoccum hanya mencapai 290 ha.

Kalaupun memang serangan penyakit daun ini telah menjalar ke lahan seluas 22.000 ha seperti yang disebutkan oleh Direktur Pusat Penelitian Karet Bogor, Gede Wibawa sebelumnya, dia yakin bahwa potensi penurunan produksi karet nasional tidak akan sedrastis itu karena jumlah lahan terserang masih jauh di bawah total luasan lahan kebun karet yang mencapai 3 juta ha. ***

Bisnis.com, 01/08/2018

----------------------- 

Dewan Karet Indonesia Minta Penyerapan Dalam Negeri Diperbesar

Faktor eksternal dari luar negeri menyebabkan prospek industri berbasis karet jadi tak menentu. Pasalnya, terdapat kekhawatiran akan dampak dari perang dagang Amerika Serikat dengan China, serta adanya pelambatan sektor manufaktur di Eropa. Akibatnya permintaan karet dunia menjadi turun.

Karena itu, Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Aziz Pane mengatakan pemerintah harus mencari cara untuk meningkatkan penyerapan karet di dalam negeri.

Sebelumnya Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) menyatakan terjadi penurunan kinerja produsen karet secara nasional di paruh pertama 2018. Dalam catatan Gapkindo, ekspor karet sampai Juni 2018 turun 8% dari tahun lalu.

Penurunan ini tercermin pada sejumlah laporan keuangan emiten pada sektor karet. Misalnya pada PT Kirana Megatara Tbk (KMTR) yang periode semester-I 2018 lalu mengalami koreksi penjualan karet sebanyak 22,7% jadi Rp 5,16 triliun atau setara 260.103 ton. Padahal setahun sebelumnya sempat menjual hingga Rp 6,68 triliun atau setara volume 262.103 ton.

Aziz menyatakan pengaruhnya murni dari sisi luar negeri. Pasalnya kondisi perang dagang AS-China membuat China defensif dan berusaha mengurangi beban devisa negara. Tak hanya itu, efek Brexit dari Inggris ternyata berpengaruh pada industri otomotif di Eropa.

Karena itu, Aziz berpesan pemerintah harus mulai mencari cara untuk beralih meningkatkan penyerapan karet alam dalam negeri. Selain melalui industri manufaktur ban yang sudah ada, pilihan berikutnya adalah pada sektor ban vulkanisir.

Menurut Aziz, opsi industri ban vulkanisir jauh lebih baik daripada alternatif aspal berbasis crumb rubber. Pasalnya, industri ban vulkanisir dalam skala kecil maupun besar sudah ada dan bisa langsung digerakkan. Berbeda dengan aspal karet yang bakal butuh proses panjang lagi.

Dalam perhitungan Aziz, industri ban baru umumnya menyerap hingga 250.000 ton karet alam, industri ban vulkanisir bisa menyerap 96.000 - 110.000 ton sedangkan aspal karet hanya 200.000 ton. ***

KONTAN.CO.ID, 06/08/2018

---------------------------------- 

Pengusaha Karet Tolak Wacana DNI Crumb Rubber

Pengusaha dan asosiasi yang bergerak dalam industri karet menolak wacana pemerintah yang melalui Kementerian Perindustrian bakal merevisi status crumb rubber dari Daftar Negatif Investasi (DNI). 

Pasalnya, jumlah kapasitas pabrik terpasang sudah jauh melampaui produksi karet alam tahunan. Artinya, ketimbang membuka kanal investasi untuk asing semakin menambah pabrik, lebih baik pemerintah fokus pada peremajaan lahan karet untuk tingkatkan produktivitasnya.

Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Suharto Honggokusumo mempertanyakan langkah Menteri Perindustrian yang berencana merubah status DNI crumb rubber. 

Produksi pabrik karet di Indonesia telah mencapai 5,7 juta ton sedangkan produksi karet nasional per tahun adalah 3,4 juta ton. Artinya masih ada banyak ruang pada pabrik eksisting untuk mengolah crumb rubber ketimbang membuka pabrik baru.

Direktur PT Kirana Megatara Tbk, Daniel Tirta Kristiadi menyatakan, pemerintah tidak perlu membuka industri crumb rubber yang baru. Yang diperlukan adalah terobosan inovasi karet aspal dari crumb rubber melalui produk karet olahan Standar Indonesian Rubber (SIR).

Daniel memperkirakan bila kebijakan itu diterapkan, jumlah bahan karet pencampuran aspal bakal mencapai 50.000-60.000 ton karet dalam setahun, kebutuhan tersebut juga dapat dipenuhi melalui stok dalam negeri sehingga pemerintah tidak perlu mencari bahan dasar hingga keluar negeri.

Dari pada pemerintah menambah pabrik, sebaiknya beralih pada pengembangan lahan karet di Indonesia. Permintaan dunia dan kebutuhan nasional terhadap karet terus bertambah, namun luas areal lahan karet tidak banyak berubah. ***

KONTAN.CO.ID, 15/07/2018

------------------------------------------- 

Cari Dollar, PTPN Memperbesar Ekspor CPO dan Karet di Tahun Depan

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) akan mengekspor sebagian besar produk kelapa sawit dan karetnya di tahun depan. Dengan demikian PTPN bisa mendapatkan dana tunai dalam bentuk dollar AS untuk meminimalisir potensi selisih kurs ketika melakukan investasi, kata Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III Dolly P. Pulungan.

Tahun depan, PTPN berencana akan mengekspor 2,5 juta ton crude palm oil (CPO) dari target produksi sebesar 3,2 juta ton. Sementara, tahun depan target produksi karet diperkirakan mencapai 180.000 ton. Sayangnya, Dolly tak menyebutkan berapa besar ekspor karet yang dilakukan.

Dolly membeberkan, tahun ini PTPN sudah melakukan ekspor CPO. Hanya saja, ekspor yang dilakukan masih dalam jumlah kecil. Tahun ini, ekspor CPO diperkirakan masih sekitar 400.000 ton dari total produksi 2,7 juta ton.

Meski produk sawit Indonesia tengah mengalami berbagai hambatan dari sejumlah tantangan, Dolly yakin, sawit yang dihasilkan PTPN tak seperti yang dituduhkan berbagai negara. Dia pun mengatakan, PTPN akan menyasar pasar Afrika, India, China, Pakistan juga Asia Selatan.

Tak hanya itu, PTPN pun akan mencoba berinvestasi di sektor biodiesel di tahun depan. Menurut Dolly, investasi ini didorong oleh adanya program pemerintah yang ingin meningkatkan penggunaan biodiesel. Menurut Dolly, nantinya kapasitas produksi pabrik biodiesel milik PTPN sebesar 250.000 ton per tahun. ***

KONTAN.CO.ID, 23/07/2018

Kinerja Industri Kecil Sektor Karet & Plastik Melempem
Badan Pusat Statistik mencatat produksi manufaktur mikro dan kecil pada industri karet, barang dari karet dan plastik hingga triwulan II/2018 turun hingga 3,45% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (y-o-y). Jika melihat kinerja secara triwulan, produksi anjlok lebih dalam hingga 5,57%.

Kondisi ini justru berkebalikan dengan industri sedang dan besar. Data BPS menunjukan pertumbuhan sektor ini sangat baik dimana secara tahunan mencapai 17,28% secara y-o-y. Meski secara triwulan hanya tumbuh 0,23%.

Gati Wibawaningsih, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian menuturkan dari data ini terlihat tidak terdapat ekosistem yang saling mendukung antara industri kecil dan industri menengah sampai besar pada IKM karet dan plastik. Tekanan bagi IKM juga semakin besar karena kecepatan kemajuan teknologi dalam industri karet dan plastik.

Gati mengatakan pihaknya akan mendorong program link and match antara industri besar dengan IKM. Dengan pola ini maka IKM akan memiliki pasar yang lebih pasti untuk supply ke industri besar selain ke pengguna akhir. Selama ini produk IKM belum memiliki pasar yang pasti yang bisa menjadi jaminan penyerapan produk yang dihasilkan sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk tetap tumbuh. ***

Bisnis.com, 02/08/2018

-------------------------------------

Banjir Landa Perkebunan di Thailand, Harga Karet Naik Lagi


Harga karet terus naik pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Senin (30/7/2018), di tengah laporan hujan lebat yang melanda bagian utara Thailand.

Harga karet untuk pengiriman Desember 2018 di Tokyo Commodity Exchange (TOCOM), ditutup menguat 1,01% atau 1,70 poin di level 170 yen per kilogram (kg).

Harga bahan baku utama ban ini melanjutkan penguatannya dengan dibuka naik 0,36% atau 0,60 poin di posisi 168,90 yen, setelah mampu membukukan rebound dan berakhir naik 0,48% atau 0,80 poin di posisi 168,30 yen per kg pada Jumat (27/7).

Adapun harga karet pengiriman Januari 2019, kontrak teraktif di TOCOM, hari ini berakhir menguat 0,95% di posisi 169,60 yen per kg.

Menurut Hideshi Matsunaga, analis Sunward Trading, laporan mengenai hujan lebat dan banjir yang melanda perkebunan karet di bagian utara Thailand telah menimbulkan kekhawatiran tentang pengiriman dari eksportir karet terbesar itu.

Banyak perkebunan karet dilaporkan terendam dan akses jalan ke beberapa komunitas terputus di provinsi Mukdahan, Thailand, menyusul hujan lebat di wilayah timur laut, demikian dilaporkan kantor berita Bloomberg.

Turut menopang karet, nilai tukar yen hari ini terpantau terdepresiasi 0,03% atau 0,03 poin ke posisi 111,06 per dolar AS pada pukul 14.43 WIB, setelah berakhir menguat 0,18% atau 0,20 poin di posisi 111,03 pada perdagangan Jumat.

Seperti diketahui, pelemahan yen memberi angin segar bagi karet, yang dapat mengangkat harga komoditas ini dengan adanya potensi peningkatan permintaan dari pembeli.

Bisnis.com, 30/07/2018

------------------------------------------------

Aspal Karet Berpotensi Dongkrak Konsumsi Karet Mentah Indonesia


Pemerintah pusat bersama Pusat Penelitian Karet di Bogor sedang menggodok beberapa alternatif untuk meningkatkan konsumsi karet lokal Indonesia. Salah satunya dengan meningkatkan penggunaan karet untuk pembangunan jalan atau disebut aspal karet.

Produksi karet mentah di Indonesia yang mencapai 3,5 juta ton, tidak sebanding dengan jumlah konsumsi lokal yang hanya menyerap sekitar 15% saja. Membludaknya jumlah ekspor dari negara lain juga terus memicu penurunan harga karet di Indonesia.

Direktur Pusat Penelitian Karet Gede Wibawa mengatakan lembaganya sedang berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk pembangunan aspal karet di beberapa provinsi di Indonesia.

Jika program pembangunan aspal karet sudah merata, konsumsi karet lokal bisa meningkat hingga 80.000-120.000 ton, atau peningkatan hingga 25% dari total produksi karet Indonesia per tahunnya, kata Gede di sela-sela pembukaan International Plant Protection Workshop on Integrated Disease Management in Rubber Plantation, Kamis (2/8/2018).

Menurut Gede, teknologi pencampuran aspal dan karet sudah ada, tapi memang pasar dalam negeri belum terbuka. Masih perlu waktu untuk diuji coba lebih lanjut, walau di beberapa kota sudah digunakan.

Penggunaan karet untuk pembangunan aspal jalanan, tidak sampai dua kali lipat harganya. Hanya sekitar 15% jika dihitung per m2. Per m2 lebih mahal 15-20% tergantung lokasi. Tapi keawetannya bisa mencapai setidaknya bertambah 50%. Untuk per satuan luas per satuan waktunya, tetap bisa lebih murah. Beberapa kota sudah mencoba pembangunan aspal karet, seperti di Sukabumi, Jawa Barat dan Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.

Dua daerah tersebut menjadi pilot project untuk kualitas aspal karet, yang bisa bertahan tiga kali lipat lebih kokoh dan tahan lama. Kualitas karet Indonesia juga tidak kalah bersaing dengan produsen karet negara lain, seperti Tiongkok dan Thailand.

Produksi karet di Sumsel juga masuk kategori cukup baik, karena harga karetnya bisa mencapai 80% dari Free On Board (FOB) karet. Meskipun harga karet saat ini menurun drastis dibandingkan 10 tahun lalu.

Selain untuk aspal karet, penggunaan bantalan karet di jembatan dan rubber seal juga menjadi alternatif konsumsi karet lokal. Tapi masih butuh proses dan anggaran yang cukup tinggi, katanya. ***

Liputan6.com, 02/08/2018