BERITA KARET SEPTEMBER 2018

  1. Sekitar 1.000 Hektar Pohon Karet Bakal Diuji Coba Peremajaan
  2. Kementan: Sumber Dana Peremajaan dari Penjualan Pohon Karet
  3. Hanya ini yang Diharapkan Petani Karet di Loksado agar Semakin Semangat Merawat Kebun Karet
  4. Turunkan Produksi Karet untuk Naikkan Harga
  5. Tembus Rp 9.000, Petani Karet di Muba Harapkan Harga Karet Stabil
  6. Aspal Karet Berpotensi Dongkrak Konsumsi Karet Mentah Indonesia
  7. Dolar Naik Eksportir Karet Untung. Ketua Gapkindo: Pengusaha Tidak Melihat Itu Sebagai Keuntungan
  8. Harga Karet di Tocom Ditutup Melemah Akibat Lemahnya Fundamental

---------------------------------------

Sekitar 1.000 Hektar Pohon Karet Bakal Diuji Coba Peremajaan

Pemerintah dan pelaku usaha berencana melakukan uji coba peremajaan atau replanting pohon karet seluas 1.000 hektar karena kondisi usia pohon karet yang sudah tua.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Aziz Pane saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, mengatakan uji coba peremajaan karet akan dilakukan di Paya Pinang dan Mandailing, Sumatera Utara, masing-masing  seluas 500 hektar.  Lahan untuk kegiatan peremajaan karet itu sudah siap, tinggal dikosongkan lalu tebang, kata Aziz.

Ia menjelaskan lahan perkebunan karet di Indonesia saat ini sebagian besar tanamannya sudah berusia tua. Akibatnya produktivitas tanaman menjadi sangat rendah yang berujung pada rendahnya pendapatan petani.  Lebih-lebih dengan tekanan harga jual karet saat ini yang berada di kisaran US$1,3 sampai US$1,4 per kilogram, menjadi beban berat bagi petani.

Ada pun total lahan perkebunan karet saat ini mencapai 3,8 juta hektar, terdiri atas perkebunan  rakyat seluas 3,1 juta hektar, sisanya merupakan perkebunan besar swasta dan perkebunan milik negara. Oleh karena itu, meremajakan karet sama artinya dengan memakmurkan rakyat, ungkapnya.

Adapun dalam uji coba peremajaan pohon karet akan dilakukan paling cepat pada tahun ini dengan melibatkan para pelaku usaha, seperti Dekarindo, Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), dan Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI).

Untuk pembelian kayu pohon karet, Aziz mengatakan sudah ada dua perusahaan di bidang industri furnitur yang tertarik.***

Antara, 22/08/2018

----------------------------------------------------------------------

Kementan: Sumber Dana Peremajaan dari Penjualan Pohon Karet

Pemerintah akan melakukan peremajaan pohon karet tahun ini. Sumber pendanaan bakal berasal dari penjualan kayu karet. Demikian disampaikan Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Kementerian Pertanian Agus Wahyudi, usai menghadiri rapat koordinasi penanaman ulang karet di Kementerian Koordinasi Perekonomian, Selasa (21/8).

Menurutnya, peremajaan ini didorong karena menimbang karet sebagai komoditas ekspor dengan nilai jual yang besar. Maka dibutuhkan skema untuk memperbaiki keberlanjutan komoditas tersebut.

Agus memperhitungkan populasi kayu per hektar mencapai 450-500 batang. Bila diameter kayu karet mencapai 25 centimeter dengan tinggi 4 meter akan menghasilkan penjualan yang besar karena memiliki mutu yang tinggi.

Menurut Agus, dana hasil penjualan kayu karet itu diperkirakan bisa membiayai replanting karet kira-kira Rp 12 juta sampai Rp 18 juta per hektar.

Adapun luas lahan karet diperkirakan mencapai 3,6 juta hektar, dan yang dimiliki rakyat seluas 3,1 juta hektar.

Agus menyampaikan, untuk tahap ini yang dibahas adalah peremajaan kelapa sawit (yang sudah berlangsung) dan karet. Berikutnya juga akan dibahas peremajaan kelapa. ***

KONTAN.co.id, 21/08/2018

--------------------------------------------------------------

Hanya ini yang Diharapkan Petani Karet di Loksado agar Semakin Semangat Merawat Kebun Karet

Imis, salah satu petani karet di Desa Loksado berharap harga karet bisa kembali tinggi. Sehingga dirinya dan para petani karet lainnya bisa semangat untuk merawat karet di kebun.

Menurut Imis, petani seperti dirinya, tidak memiliki banyak pilihan selain berkebun dan bertani untuk memenuhi keperluan hidup. Berkebun karet menjadi pilihan agar dapur terus bisa mengepul.

Gito, Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) mengungkapkan, ada sekitar 17.977 petani karet tersebar di Kecamatan Kandangan, Padang Batung, Loksado, Sungai Raya, Simpur, Angkinang dan Telaga Langsat. Mereka tetap bertahan berkebun meski harga karet sedang anjlok.

Menurut Gito, produksi karet per hektar di HSS sekitar 979 kilogram per bulannya, sedangkan  harga saat ini relatif rendah yakni Rp 7.000-an.

Produksi secara keseluruhan di HSS pertengahan semester menghasilkan 9.594 ton karet.***

BANJARMASINPOST.CO.ID, 27/08/2018

-----------------------------------------------------------

Turunkan Produksi Karet untuk Naikkan Harga

Harga karet rendah sudah berjalan 5 tahun, dimulai dari 2014 harganya US$1,8/kg, terus turun sampai US$1,3/kg tahun 2016. Tahun 2017 ada musibah banjir di Thailand sehingga harga sempat naik US$1,6/kg tetapi tahun 2018 kembali turun.

Penyebabnya adalah masih banyaknya stok dan pasokan dunia, tahun 2017 ada kelebihan pasokan 2,5 juta ton, dan tahun 2018 diperkirakan sebesar 2,7 juta ton dan akan terus ada sampai 2023. Terjadi kondisi di mana pasokan lebih tinggi dari permintaan.

Pakar perkaretan Karyudi mengatakan harus ada upaya berupa gerakan internasional produsen karet Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia untuk menurunkan produksi guna menaikkan harga. Tidak perlu menghentikan sadap, tetapi cukup dengan mengurangi intensitasnya.

Pada perusahaan besar misanya dari tiga hari sekali (D3) jadi 4 hari sekali (D4) . Produksi akan turun 10% tetapi akan lebih menguntungkan daripada 3 hari sekali tetapi harga seperti sekarang.

Petani juga tidak perlu berhenti menyadap agar tetap mendapat penghasilan. Cukup mengurangi sadap dari setiap hari menjadi dua hari sekali, sedangkan yang biasa menyadap dua hari sekali menjadi tiga hari sekali.

Bila semua produsen melaksanakan hal ini maka produksi karet dunia akan turun 10%. Dalam waktu setahun akan ada penurunan produksi sampai 1,3 juta ton dan ini jumlah yang cukup signifikan sehingga harga akan terdongkrak naik.

Tahun 2017 produksi karet dunia sekitar 12,8 juta ton, sedang tahun 2018 diperkirakan 13,4 juta ton. Stok lama masih menumpuk ditambah tahun berjalan produksi meningkat. Kondisi ini dimanfaatkan spekulan sehingga harga karet terus terpuruk.

Karyudi mengatakan harga karet biasanya mengikuti harga minyak. Bila harga minyak turun harga karet juga turun dan sebaliknya. Tetapi tahun 2018 ini aneh, harga minyak naik tetapi harga karet malah turun. Spekulan benar-benar memanfaatkan situasi ini.

Indonesia perlu memanfaatkan organisasi internasional yaitu ITRC (International Tripartite Rubber Council). Selama ini wakil Indonesia di organisasi ini adalah Kementerian Perdagangan. Masalahnya Kementerian Perdagangan sering kesulitan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian untuk melaksanakan kebijakan.

Menurut Karyudi, sebaiknya Presiden yang langsung ikut sidang ITRC. Malaysia dan Thailand nanti akan mengirim Perdana Menterinya. Kalau kepala negara sudah mengambil keputusan maka pasti akan diikuti.***

Perkebunannews, 04/09/2018

----------------------------------------------------------------------------

Tembus Rp 9.000, Petani Karet di Muba Harapkan Harga Karet Stabil

Harga karet yang tak menentu membuat petani karet menjerit, namun memasuki akhir Agustus harga getah karet di wilayah Kecamatan Keluang Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mulai membaik.

Naiknya harga karet tersebut karena permintaan getah karet yang cukup tinggi di tingkat pengepul.

Berdasarkan informasi yang dihimpun memasuki awal Agustus lalu harga karet  menyentuh sekitar Rp8.500 per kilogram, kemudian pada pertengahan bulan harga naik menjadi Rp8.700, dan lalu pada akhir bulan ini, harga meningkat menjadi Rp9.000 tiap kilogram. 

Peningkatan harga tersebut disambut baik oleh petani, karena saat musim kemarau seperti saat ini produksi getah menurun. Seperti yang di ungkapan Kamto (55), dirinya mengaku senang mendengar kabar harga menembus angka Rp9.000 dan berharap harga  tidak lagi mengalami penurunan. 

Menurut dia, saat produksi karet menurun akibat musim kemarau sudah selayaknya harga naik, karena jika tidak penghasilan petani akan menurun drastis. 

Sementara, Budiman salah satu pedagang dan pengepul mengaku bahwa akhir-akhir ini dirinya memang agak  kesulitan mendapatkan karet karena pengaruh musim kemarau, beberapa petani bahkan tidak menyadap pohon karet karena getah yang dihasilkan sedikit.***

SRIPOKU.COM, 28/08/2018

-------------------------------------

Aspal Karet Berpotensi Dongkrak Konsumsi Karet Mentah Indonesia

Pemerintah pusat bersama Pusat Penelitian Karet di Bogor sedang menggodok beberapa alternatif untuk meningkatkan konsumsi karet lokal Indonesia. Salah satunya dengan meningkatkan penggunaan karet untuk pembangunan jalan atau disebut aspal karet.

Produksi karet mentah di Indonesia yang mencapai 3,5 juta ton, tidak sebanding dengan jumlah konsumsi lokal yang hanya menyerap sekitar 15%-nya saja. Membludaknya jumlah ekspor dari negara lain juga terus memicu penurunan harga karet di Indonesia.

Direktur Pusat Penelitian Karet Gede Wibawa mengatakan mereka sedang berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk pembangunan aspal karet di beberapa provinsi di Indonesia.

Jika program pembangunan aspal karet sudah merata, konsumsi karet lokal bisa meningkat hingga 80.000-120.000 ton, atau peningkatan hingga 25% dari total konsumsi karet Indonesia per tahunnya.

Teknologi pencampuran aspal dan karet sudah ada, tapi pasar dalam negeri belum terbuka sehingga masih perlu waktu untuk uji coba lebih lanjut, walaupun di beberapa kota sudah digunakan. Demikian diungkapkan Gede pada pembukaan International Plant Protection Workshop on Integrated Disease Management in Rubber Plantation di Bogor belum lama ini.

Penggunaan karet untuk pembangunan aspal jalanan, tidak sampai dua kali lipat harganya. Hanya sekitar 15% jika dihitung per m2. Umumnya untuk setiap m2 lebih mahal 15-20% tergantung lokasi. Tapi keawetannya bisa mencapai setidaknya bertambah 50%. Untuk per satuan luas per satuan waktunya, tetap bisa lebih murah. Beberapa kota sudah mencoba pembangunan aspal karet, seperti di Sukabumi, Jawa Barat (Jabar) dan Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan (Sumsel).

Dua daerah tersebut menjadi pilot project untuk kualitas aspal karet, yang bisa bertahan tiga kali lipat lebih kokoh dan tahan lama. Kualitas karet Indonesia juga tidak kalah bersaing dengan produsen karet negara lain, seperti Tiongkok dan Thailand.

Produksi karet di Sumsel juga masuk kategori cukup baik, karena harga karetnya bisa mencapai 80% dari harga Free On Board (FOB) karet. Meskipun harga karet saat ini menurun drastis dibandingkan 10 tahun lalu.

Selain aspal karet, penggunaan bantalan karet di jembatan dan rubber seal juga menjadi alternatif konsumsi karet lokal. Tapi masih butuh proses dan anggaran yang cukup tinggi, katanya. ***

Liputan6.com, 02/08/2018

--------------------------------------------------------- 

Dolar Naik Eksportir Karet Untung. Ketua Gapkindo: Pengusaha Tidak Melihat Itu Sebagai Keuntungan

Pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi sejak beberapa waktu terakhir memberikan keuntungan tersendiri bagi eksportir karet.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Provinsi Sumatera Selatan, Alex K Eddy mengatakan faktor pelemahan Rupiah ini bagi eksportir sejujurnya menguntungkan tapi pengusaha tidak melihat itu sebagai suatu keuntungan jika dilihat dari sisi perekonomian nasional, sebab untuk jangka panjang sangat berbahaya dan tak begitu bagus.

Menurut Alex, kondisi Dolar dewasa ini mendatangkan sisi positif dan negatif. Sisi positifnya pengusaha bisa membeli karet dari petani dengan harga yang tak terlalu terpuruk.

Sebagai perantara, pihaknya memperkirakan harga beli karet di pabrik sekitar Rp 18.000 per kg kering atau Rp 9.000-an per kg karet basah.

Alex menambahkan, pihaknya percaya kondisi saat ini (penguatan Dolar) tak akan berlangsung lama dan bisa segera pulih, sebab pemerintah pasti tidak akan tinggal diam.

Dijelaskannya, sejak awal tahun 2018, harga karet belum menunjukkan perbaikan. Hingga 5 September 2018 harga karet berada US$1,31 per kg, angka ini jauh menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni, sekitar US$1,6 per kg.

Sampai kuartal ketiga ini harga masih rendah, langkah perbaikan bisa dilakukan seperti hilirisasi berupa industri ban, mebel dari karet atau lantai dari karet.

Sementara itu, Kepala Kanwil DJBC Sumbagtim, M Aflah Farobi menambahkan, komoditas karet merupakan ekspor nonmigas yang sangat mendominasi untuk wilayah Sumsel khususnya.

Untuk ekspor melemahnya Rupiah terhadap US dollar memang menguntungkan, tapi bagi impor merugikan. Karena stabilitas nilai tukar Rupiah menjadi  penting. Masyarakat yang memiliki valuta asing sebaiknya dikonversi ke Rupiah untuk membantu penguatan dan mengurangi belanja barang impor terutama untuk barang konsumsi, tutur Aflah. ***

SRIPOKU.COM, 05/09/2018

----------------------------------------------------------------- 

Harga Karet di Tocom Ditutup Melemah Akibat Lemahnya Fundamental

Harga karet berjangka acuan di Bursa Komoditas Tokyo (TOCOM) ditutup melemah pada Kamis tanggal. 20 September 2018 mengakhiri penguatan selama tiga hari berturut-turut akibat lesunya pasar Shanghai dan lemahnya dukungan faktor fundamental yang mengakibatkan tekanan terhadap harga.

Shen Xiaoxia, analis Zheshang Futures mengatakan harga karet berjangka mengalami banyak lonjakan pekan ini, namun tidak ada banyak perubahan di sisi fundamental.

Harga karet berjangka Tokyo menyentuh harga terendah dalam 22 bulan terakhir pekan lalu akibat tetap tingginya stok dan relatif tidak bergeraknya permintaan.

Kontrak karet untuk penyerahan bulan Januari di Bursa Komoditi Tokyo ditutup 2,3 yen (US$0,0208) lebih rendah di level 176,5 yen per kg.

Kontrak karet teraktif di Bursa Berjangka Shanghai untuk penyerahan bulan Januari turun 295 yuan (US$42,92) ditutup pada level 12.375 yuan per ton.

Kontrak karet untuk penyerahan bulan September di Bursa Komoditas Singapura (SICOM) ditutup di level US$ sen 136,7 per kg, turun 2.5 sen. 

 (US$1 = 110,4900 yen)

(US$1 = 6,8740 yuan) ***

Theedgemarkets.com, 23/08/2018