Berita Karet Oktober 2018

  1. Workshop Perang Dagang Amerika Serikat dengan Cina: Pemanfaatan Peluang dan Antispasi
  2. Pertemuan Koordinasi Teknis Pengolahan Bokar Bersih
  3. Dekarindo: Penurunan Harga Karet Akibat Ketidakpastian Usaha
  4. Gempa Palu Diprediksi Tak Ganggu Ekspor, Harga Karet Ditutup Melemah
  5. Pelemahan Rupiah Beri Dampak Netral pada Industri Karet
  6. Target Produksi Diyakini Meleset
  7. Ratusan Pohon Kelapa Sawit dan Karet di Kawasan TNGL Ditertibkan KLHK
  8. Holding BUMN Perkebunan Genjot Ekspor CPO dan Karet
  9. Masuk Musim Penghujan, Petani Karet di OKU Kembali Bergairah
  10. Dodi Reza Alex: Kabupaten Muba akan Lakukan Hilirisasi Karet Aspal
  11. Myanmar Bergabung dengan ANRPC sebagai Anggota ke-13
  12. Pasca Banjir Kerala, Kelangkaan Karet Melanda Industri Hampir 20% Ban India
  13. Produksi Karet Alam Diperkirakan turun 20% akibat Banjir Kerala, Industri Ban India akan Terkena Dampak Negatif

----------------------------

Workshop Perang Dagang Amerika Serikat dengan Cina: Pemanfaatan Peluang dan Antispasi

Workshop diselenggarakan di Ruang Auditorium Gedung Utama Kementerian Perdagangan pada tanggal 18 September 2018.  Sebagai nara sumber dalam workshop ini adalah: 1) Iman Pambagyo (Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional, Kemendag, 2) Kasan Muhri (Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Kemendag), 3) Handito Joewono (Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor, Kadin Indonesia), dan 4) Kiki Verico (Wakil Direktur LPEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UI.

Workshop dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan dan dihadiri oleh para Pejabat Aselon I Kementerian Perdagangan, para pejabat/staf dari Kementerian/Lembaga  terkait serta Asosiasi dan Pelaku Usaha. Workshop dipandu oleh Sutriono Edi, Staf Ahli Menteri Bidang Pengamanan Pasar, Kemendag. Pada akhir acara, Menteri Perdagangan memberikan arahan kepada seluruh peserta workshop terkait peluang yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia sehubungan dengan adanya perang dagang AS dengan Cina

Beberapa catatan penting sebagai intisari hasil workshop disampaikan sebagai berikut :

  1. Perang dagang atau lebih tepatnya perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dengan Republik Rakyat Tiongkok (Cina), lebih disebabkan oleh motif politik sebagai realisasi salah satu komitmen Presiden Donald Trump dalam kampanyenya, yaitu meningkatkan restriksi impor dan menekan defisit neraca perdagangan khususnya dengan Cina dan Meksiko.
  2. AS mengalami defisit neraca perdagangannya dengan semua negara mitranya, yakni sebesar USD 1,1 triliun dalam tahun 2017. Cina sebagai eksportir terbesar ke AS, merupakan sumber defisit utama dengan nilai USD 405,7 milyar (2017).  Sementara Cina mengalami surplus sebesar USD 276,8 milyar.
  3. Indonesia merupakan negara pengekspor peringkat ke 19 di AS dan peringkat ke 16 di Cina. Neraca perdagangan Indonesia dengan AS mengalami surplus sebesar USD 9,6 milyar, sementara dengan Cina mengalami defisit sebesar USD 12,7 milyar. Bagi AS dan Cina dalam konteks perdagangan, Indonesia tidak menjadi isu sentral. Namun sebaliknya bagi Indonesia, AS dan Cina merupakan negara penting sebagai tujuan ekspor utama produk dan jasa yang dihasilkan Indonesia.
  4. Terjadinya perang dagang AS dengan Cina wajib disikapi dengan optimis oleh semua pihak termasuk pelaku ekonomi. Implikasi dari terjadinya perang dagang ini adalah :
  • Meningkatnya peluang ekspor bagi Indonesia ke kedua negara tersebut,
  • Menurunnya ekspor bahan baku/penolong Indonesia ke kedua negara tersebut,
  • Meningkatnya persaingan pasar atas produk yang menjadi target trade war.
  • Implikasi lanjutan adalah adanya tekanan terhadap harga bahan baku termasuk komoditas karet alam.
  1. Saat ini AS menempati pangsa 24% GDP dunia dan Cina sebesar 14%, jadi kedua negara ini menguasai 38% GDP. Dengan besarnya ukuran ekonomi kedua  negara tersebut maka jika perang dagang ini berlanjut maka dampaknya, baik secara langsung maupun tidak langsung cepat atau lambat akan dirasakan oleh seluruh negara lainnya. Namun demikian, kondisi ekonomi dunia yang sedang berlangsung saat ini dipahami sebagai dalam kondisi transisi  bukan dalam keseimbangan baru, sehingga kondisi ini diproyeksikan tidak akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

       Respons Pemerintah Indonesia terhadap terjadinya perang dagang adalah sebagai berikut:

  • Melakukan pendekatan langsung (bilateral): cooperation & consultations
  • Meningkatkan kegiatan promosi dagang
  • Refokus dari produk primer ke produk industri/produk olahan
  • Mengelola impor dengan lebih baik
  • Mempercepat upaya peningkatan daya saing ekonomi
  • Memperkuat peranan sektor jasa secara nasional maupun untuk ekspor
  • Mempercepat penyelesaian perundingan perdagangan preferensi & Maksimalisasi pemanfaatannya.
  • Selanjutnya, hal yang penting lainnya adalah juga melakukan upaya mengurangi alasan negara lain untuk menempuh trade measures terhadap Indonesia serta upaya meminimalkan munculnya kebijakan-kebijakan yang melanggar atau berpotensi melanggar komitmen Indonesia dalam perdagangan internasional (WTO, ASEAN, FTAs/CEPAs).
  • Seperti telah dijelaskan di atas bahwa perang dagang AS dan Cina bisa berdampak terhadap menurunnya ekspor bahan baku komoditas primer termasuk karet dari  Indonesia ke kedua negara tersebut. Oleh karena itu strategi penting adalah menjaga akses ke pasar tradisional, dan membuka akses ke pasar baru. Kawasan seperti Afrika dan mungkin Eropa Timur perlu mendapat perhatian untuk penetrasi pasar baru.                                                                          

Sekretariat Gapkindo Pusat

-----------------------------------------

Pertemuan Koordinasi Teknis Pengolahan Bokar Bersih

Pertemuan Koordinasi Teknis Pengolahan Bokar Bersih diselenggarakan oleh Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian pada tanggal 24-27 September 2018 bertempat di Wyndham Opi Hotel, Palembang. Pada acara ini GAPKINDO Pusat menyampaikan materi di sesi awal hari kedua tanggal 25 September 2018 dengan judul Kondisi Terkini Mutu dan Tataniaga Bahan Olah Karet pada Industri Crumb Rubber. Acara dihadiri oleh Para Pejabat dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian; Direktorat Standaridisasi dan Pengendalian Mutu, Kementerian Perdagangan; Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Kementerian Perindustrian; Dinas Perkebunan Provinsi penghasil karet; Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan; Dinas di Kabupaten yang membidangi perkebunan; Pengurus UPPB dari daerah penghasil karet; Pusat Penelitian Karet; dan Pelaku Usaha Indusri Karet.

 Setelah menyampaikan materi dan diskusi cukup panjang, beberapa catatan yang dapat disampaikan terkait dengan peran GAPKINDO adalah sebagai berikut :

  • Kondisi mutu bokar pada saat ini diakui telah banyak mengalami perbaikan, walaupun masih belum seperti yang diharapkan. Oleh karena itu upaya terus menerus perlu dilakukan termasuk tumbuh dan berkembangnya kelembagaan Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) di masing-masing wilayah penghasil karet.
  • Sampai dengan September 2018 total UPPB yang telah terbentuk di 10 provinsi utama penghasil karet adalah 410 UPPB dan diantaranya 294 UPPB atau 71,7% sudah teregistrasi dengan volume produksi/transaksi sebesar lebih kurang 32.532 ton per tahun. Jumlah ini masih jauh (kurang dari 1%) dibandingkan dengan total produksi karet seluruh Indonesia yang mencapai 3,6 juta ton.
  • Dengan adanya perbaikan mutu dan adanya pemendekan rantai tata niaga, bokar yang diolah dan dipasarkan melalui UPPB sudah memperoleh harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan bokar yang ditransaksikan di luar UPPB. Harga yang lebih tinggi pada umumnya diperoleh melalui cara lelang. Oleh karena itu untuk selanjutnya, dalam upaya memberikan insentif bagi petani maka kelembagaan lelang di masing-masing UPPB dapat dikembangkan.
  • GAPKINDO Cabang diminta turut serta melakukan pengawalan dan pemantauan dalam proses pembentukan dan operasional UPPB di wilayah masing-masing bersama dengan dinas terkait di masing-masing wilayah yang membidangi perkebunan.
  • Di samping itu terdapat usulan dari peserta pertemuan, bahwa para pengusaha pabrik cumb rubber dapat menyalurkan dana CSR (corporate social responsibility) ke UPPB yang berprestasi sebagai upaya memberikan insentif bagi tumbuh dan berkembangnya unit-unit UPPB.
  • Dalam upaya mendorong terjadinya perbaikan mutu bokar, penegakan aturan melalui instrumen yang sudah ada (Permendag 54 Tahun 2016) dan/atau Perda/Pergub sebagai penjabaran peraturan tersebut, dipertimbangkan sebagai salah satu prioritas yang perlu didorong disertai edukasi yang terus menerus kepada petani melalui UPPB.
  • Program peremajaan karet rakyat yang dapat dilakukan melalui dana pemerintah, saat ini jauh dari angka luasan yang seharusnya diremajakan. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya dana. Dalam pertemuan ini, juga muncul wacana pemerintah untuk segera merealisasikan penghimpunan dana perkebunan karet, untuk salah satunya mendorong upaya peremajaan karet rakyat.
  • Namun demikian, penghimpunan dana perkebunan karet ini, perlu dikaji secara seksama, mengingat saat ini usaha perkebunan karet dalam kondisi yang kurang baik, di mana para pelaku usaha banyak yang sudah mengalami kerugian.  Pengenaan pungutan ini, pada akhirnya akan ditransmisikan pada harga di tingkat petani/pekebun, yang akan menjadi beban tambahan, dan memperparah tingkat kerugian.

Sekretariat Gapkindo Pusat

------------------------

Dekarindo: Penurunan Harga Karet Akibat Ketidakpastian Usaha

Harga karet terus menunjukkan penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, berdasarkan data Bloomberg Selasa (11/9) pukul 15:52 WIB, harga karet berada di 165,5 yen per kilogram (kg).

Ketua Umum Dekarindo Aziz Pane mengatakan, adanya perang dagang yang tengah terjadi saat ini menyebabkan ketidakpastian pasar. Ketidakpastian pasar ini menjadi alasan penurunan harga karet lantaran tidak ada jaminan pasar.

Ketidakpatian pasar menyebabkan stok karet semakin banyak dan permintaan semakin sedikit. Pembeli pun takut untuk membeli barang dalam jumlah yang banyak, kata Aziz kepada Kontan.co.id, Senin (10/9).

Menurut Aziz, akibat penurunan harga karet ini, yang paling dirugikan adalah negara-negara produsen karet seperti Indonesia. Karena itu, Indonesia harus meningkatkan produksi barang-barang yang berbahan baku karet di dalam negeri. Dengan begitu, Indonesia tak akan bergantung pada pasar ekspor.

Aziz menilai langkah pemerintah untuk mengurangi impor produk berbahan karet dianggap tepat, karena Indonesia sebetulnya bisa memproduksi barang-barang tersebut di dalam negeri. Namun, dia meminta supaya pemerintah terus mendukung industri hilir karet ini.

Aziz memperkirakan, tahun ini produksi karet Indonesia akan sama seperti tahun lalu atau berkisar 3,6 - 3,8 juta ton. Dia pun memperkirakan, harga karet hingga akhir tahun akan terus tidak stabil atau terus mengalami naik turun.

Menurut Aziz, harga karet saat ini mengacu laporan Bloomberg masih di bawah US$ 1,5 per kg. Padahal kalau mau sehat, harga itu seharusnya minimum US$ 1,9 atau US$ 2 per kg, tegas Aziz. ***

KONTAN.CO.ID, 11/09/2018

------------------------------------------------

Gempa Palu Diprediksi Tak Ganggu Ekspor, Harga Karet Ditutup Melemah

Harga karet mengakhiri reli penguatan selama tiga hari berturut-turut pada perdagangan hari ini, Rabu (3/10/2018). Harga karet untuk kontrak teraktif Maret 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom), ditutup melemah 1,68% atau 2,9 poin ke level 169,50 yen per kg.

Padahal, harga karet dibuka di zona hijau dengan penguatan 0,35% atau 0,6 poin di posisi 173 yen per kg, setelah pada akhir perdagangan Selasa (2/10/2018) ditutup menguat 0,52% atau 0,9 poin ke level 172,40 yen per kg.

Harga karet melemah dari level tertinginya dalam satu bulan karena yen yang sempat rebound terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran mengenai masalah fiskal Italia.

Takaki Shigemoto, analis lembaga riset JSC di Tokyo, mengatakan harga karet juga melemah menyusul spekulasi bahwa gempa di Palu tidak akan mengganggu ekspor dari Indonesia, yang merupakan eksportir terbesar kedua di dunia,

Sumatra dan Kalimantan adalah daerah penghasil utama karet di Indonesia dan tidak terpengaruh oleh gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, kata Takaki seperti dikutip Bloomberg.

Nilai tukar yen terpantau melemah 0,11% atau 0,13 poin ke level 113,78 per dolar AS pada pukul 14.37 WIB, setelah melemah hingga level 113,85 per dolar AS pagi hari.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Maret 2019 di Tocom

Tanggal

Harga (Yen/Kg)

Perubahan

3/10/2018

169,50

-1,68%

2/10/2018

172,4

+0,52%

1/10/2018

171,50

+2,08%

28/9/2018

168,00

+0,54%

27/9/2018

167,10

-1,12%

Sumber: Bloomberg

Bisnis.com, 03/10/2018

------------------------------------

Pelemahan Rupiah Beri Dampak Netral pada Industri Karet

Pelemahan rupiah memberi dampak positif pada industri komoditas yang berbasis ekspor. Namun pada karet, efeknya dinilai bakal relatif netral.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo menyampaikan secara umum dalam dunia komoditas, bila dollar menguat maka harga komoditas akan cenderung tertekan. Tapi mengingat produksi karet diperkirakan akan turun, maka kondisi ini bisa membuat harga jadi stabil.

Memang, produksi karet tahun ini diperkirakan bakal terkoreksi dari target awal di 3,77 juta ton. Penyebabnya adalah penyakit gugur daun akibat Neofusicoccum sp.

Mengutip pemberitaan Kontan sebelumnya, pihak Gapkindo menyatakan produksi karet pada semester pertama sudah turun 8%. Kemudian terdapat potensi pada semester kedua bisa turun 10%.

Sebelumnya, pihak Gapkindo memperkirakan harga SIR 20 pada bulan Agustus 2018 akan berkisar pada level US$ cent 130-150 per kg.

Sedangkan mengutip Bloomberg, harga karet di bursa Tokyo Commodity Exchange hari ini diperdagangkan di 168,1 JPY per kilogram. Harga ini jatuh dari posisi year on year di 233,5 JPY per kg. ***

KONTAN.CO.ID, 06/09/2018

-----------------------------------------------

Target Produksi Diyakini Meleset

Pelaku usaha memperkirakan produksi karet tahun ini meleset dari target yang dipatok sebesar 3,7 juta ton seiring dengan gangguan produksi dan jatuhnya harga di pasar global.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Erwin Tunas menyebutkan gangguan produksi dimaksud berasal dari serangan jamur fusicoccum penyebab gugur daun di Sumatra Selatan baru-baru ini.

Selain itu, tambahnya, harga karet yang kurang bersahabat bagi petani sehingga membuat mereka lebih memilih menganggurkan kebunnya dan melakukan pekerjaan lain.

“Memang belum dapat [data produksi per Agustus 2018]. [Namun], kelihatannya belum tercapai ini [target produksi]. Ada gangguan produksi di beberapa daerah,” katanya ketika dihubungi Bisnis, Senin (17/9).

Selain itu, permintaan karet di pasar global juga diindikasikan tidak terlalu kuat, yang terlihat dari penurunan kinerja ekspor komoditas itu pada enam bulan pertama tahun ini sebesar 5% secara tahunan.

Sebelumnya, Direktur Pusat Penelitian Karet Bogor Gede Wibawa mengatakan penyakit gugur daun terdeteksi pertama kali di perkebunan karet di Sumatra Utara pada 2016 yang diperkirakan akibat penggunaan bibit berkualitas rendah. Kemudian penyakit ini cepat menyebar ke kantong-kantong perkebunan karet lain di areal Sumatra.

Pada 2018, Gede memastikan bahwa penyakit gugur daun ini sudah tersebar di enam provinsi lainnya, yakni Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung.

Sepanjang Semester I/2018 pihaknya mencatat kasus serangan gugur daun terjadi di Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan dengan penurunan produksi sebesar 13,8%.

Hal yang senada terkait dengan melesetnya target produksi dikemukakan Ketua Umum Dewan Karet Indonesia Aziz Pane yang memperkirakan produksi tidak sampai 3,7 juta ton . Bahkan, Aziz menyebutkan kalau produksi bisa mencapai 3 juta ton saja sudah bagus.

Menurut Azis, faktor perang dagang AS dan China juga pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS, serta tidak mampunya Indonesia sebagai salah satu produsen dan pengekspor karet terbesar untuk menjadi pendikte atau penentu pasar, turut menjadi faktor penekan pasar karet.

Menurutnya, panasnya tensi perdagangan global membuat permintaan bahan baku produk ban itu tergerus.

Untuk itu, dirinya berharap agar seluruh negara Asia Tenggara yang tergabung dalam Asean dan merupakan produsen karet terbesar dunia bisa ikut bergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC). Dengan demikian, situasi pasar bisa lebih berpihak kepada negara produsen.

Vietnam, Indonesia, Thailand, dan Malaysia menyumbangkan 81% produksi karet dunia. ITRC juga diharapkan dapat menjaga pengembangan karet alam di Laos, Kamboja dan Myanmar, paparnya.

SUMATRA UTARA

Sementara itu, volume ekspor karet salah satu sentra produsen yakni Sumatra Utara (Sumut) pada Agustus kembali menurun setelah sempat bergerak normal pada Juli 2018.

Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut Edy Irwansyah menyebutkan ekspor bulanan karet Sumut pada Agustus 2018 melorot 1.471 ton atau 3,55% menjadi 40.018 ton dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Pada kondisi normal, rata-rata ekspor bulanan karet Sumatra Utara biasanya mencapai kisaran 40.000 ton angtara lain karena faktor permintaan dari negara konsumen utama yang berkurang, kata Edy melalui pesan singkatnya.

Menurutnya, tidak bisa dipungkiri bahwa adanya perang dagang China dan Amerika serta krisis yang terjadi di Tukri cukup berpengaruh.

Pihaknya mencatat, kendati bukan menjadi negara pengimpor terbesar, pada 2016, sebanyak 5% ekspor karet Sumut dikapalkan ke Turki.

Adapun posisi pertama negara tujuan ekspor masih diduduki oleh Jepang sebanyak 22% diikuti China dan AS masing-masing sebesar 12%, lalu India 8% dan Brasil 6%.

Secara lebih luas, kinerja ekspor Sumut sepanjang Januari hingga Agustus tahun ini juga melorot 9,78% atau mengalami penurunan sebesar 33.328 ton dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017.

Total ekspor karet Sumut pada Januari–Agustus 2018 hanya berada di angka 307.518 ton sementar di tahun sebelumnya angka tersebut mencapai 340.846 ton.

Sementara itu, total nilai ekspor karet dan barang dari karet asal sumut pada Januari-Juli 2018 mengalami penurunan sebesar 21.72% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatra Utara.

Nilai ekspor karet dan barang dari karet Sumut pada Januari Juli 2017 mencapai US$917,978 juta sedangkan pada tahun ini hanya mencapai US$715,6 juta.***

Bisnis Indonesia, 18/09/2018

------------------------------------

Ratusan Pohon Kelapa Sawit dan Karet di Kawasan TNGL Ditertibkan KLHK

Ratusan pohon kelapa sawit dan karet yang berada di dua desa yang masuk ke dalam areal Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara ditertibkan. Belakangan diketahui, langkah ini diambil Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai bentuk menjaga hutan.

Kepala Balai penegakan Hukum KLHK wilayah Sumatera, Edward Sembiring mengatakan, penertiban ini merupakan salah satu langkah persuasif yang harus dilakukan untuk menjaga hutan, khususnya di TNGL.

Penertiban tersebut merupakan operasi persuasif yang dilakukan petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser kepada para petani dan penggarap, yang telah menguasai dan menanami lahan yang masuk dalam kawasan TNGL, tutur Edward, Jumat (7/9). 

Penertiban dilakukan dengan menumbangkan ratusan pohon kelapa sawit dan pohon karet penggarap di dua desa, yakni Desa Sekoci Kecamatan Besitang dan Desa Timbang Lawan, Kecamatan Bahorok.

Namun demikian, para penggarap yang tanamannya dirobohkan akan diberikan hak kerja sama pengelolaan hutan penyangga di sekitar TNGL.  Syaratnya, para penggarap ini harus menanam tanaman hutan seperti durian, jengkol, mahoni atau tanaman buah-buahan yang berkayu besar. 

Dalam penertiban tersebut, sebanyak 230 batang pohon di Desa Sekoci dimusnahkan. Luasan tanam pohon ini hampir mencapai 2 hektar. Sementara usia tanam pohon diketahui berkisar antara tiga hingga lima tahun.

Sementara itu, di Kecamatan Bahorok, jumlah pohon karet yang ditumbangkan mencapai 400 batang. Luas tanamnya mencapai lima hektar.

Ada juga sebagian petani penggarap yang menyerahkan tanamannya secara sukarela. Karena itu, dengan kerja sama ini diharapkan para petani dan penggarap dapat sama-sama menjaga hutan, khususnya di kawasan TNGL, pungkas Edward.***

Trubus.id, 07/09/2018

---------------------------------------------------

Holding BUMN Perkebunan Genjot Ekspor CPO dan Karet

Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Holding) terus genjot penjualan ekspor minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dan karet pada 2018.

Di tengah menguatnya nilai tukar dolar AS, kegiatan ekspor ini akan menambah pendapatan perseroan dan membantu pemerintah dalam meningkatkan hasil devisa negara. 

Direktur Utama PTPN Holding Dolly P Pulungan mengatakan perusahaan akan terus menggenjot kegiatan ekspor pada tahun ini dan tahun depan untuk membantu meningkatkan devisa negara dan untuk menguatkan posisi Indonesia di pasar CPO dunia.

Dolly menuturkan, perseroan menargetkan ekspor sekitar 300.000 ton pada 2018. Sedangkan pada 2019 bisa mencapai 2,5 juta ton. Sangat disayangkan bila PTPN tidak memperlebar volume ekspornya, karena komoditas ini merupakan salah-satu penyumbang devisa terbesar Indonesia dimana tahun lalu memberikan kontribusi nilai ekspor yang sangat besar.

Sementara itu, di Pelabuhan Dumai, Direktur Pemasaran PTPN Holding Kadek K Laksana melepas pengapalan ekspor CPO menggunakan kapal MT Sea Star ke India sebanyak 13.000 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 6,85 juta melalui pelabuhan Dumai, Riau.  Kadek menjelaskan, ekspor CPO ini berasal dari PTPN III sebanyak 8.500 ton dan PTPN V sebanyak 4.500 ton.

Gencarnya kegiatan ekspor CPO ini menurut dia, merupakan program peningkatan ekspor untuk memperkuat struktur bisnis perusahaan serta membantu pemerintah untuk meningkatkan penerimaan devisa.

Ia mengungkapkan realisasi ekspor CPO hingga September 2018 mencapai 150.000 ton atau meningkat 438% dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Selain ekspor CPO, menurut Kadek, PTPN Holding melakukan peningkatan ekspor untuk produk turunan kelapa sawit seperti Palm Kernel Oil (PKO) dan Palm Kernel Meal (PKM) dengan membuka pasar-pasar baru seperti negara-negara Eropa dan Korea. 

Selain itu, Kadek mengungkapkan pada hari yang sama Perseroan juga melepas pengapalan ekspor karet menggunakan kapal MSC Pylos HE838R ke Rusia sebanyak 897 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 1,3 juta melalui pelabuhan Belawan, Sumatera Utara dengan jumlah 49 kontainer. Proses stuffing di mulai pada 13 September sampai 23 September.

Ia menambahkan, untuk komoditas karet, target ekspor pada 2018 sebesar 76.000 ton atau meningkat 21% dari realiasi tahun lalu.

Kadek menambahkan, total ekspor PTPN Holding untuk seluruh komoditas sawit, karet, teh, kopi,dan lain-lain pada tahun ini diperkirakan sebesar 411.000 ton dan diharapkan bisa menghasilkan devisa US$ 376 juta atau naik 100% dari realisasi hasil penjualan ekspor 2017. 

Sesuai arahan Kementerian BUMN, selain meningkatkan ekspor PTPN Holding juga melakukan substitusi impor untuk komponen produk terutama pupuk melalui sinergi BUMN dengan Pupuk Indonesia untuk pemenuhan kebutuhan pupuk di PTPN Group, kata Dolly.

SEVP Koordinator PTPN III, Suhendri, mengungkapkan PTPN III (stand alone) juga menargetkan penjualan ekspor CPO sampai dengan akhir tahun ini mencapai 93.000 ton dengan perolehan nilai ekspor US$ 46 juta atau meningkat 3.274% dari tahun lalu, sedangkan penjualan ekspor Karet 22.250 ton dengan nilai ekspor US$ 33 juta atau naik 3,91%. 

Menurut Suhendri, momentum ini merupakan peluang untuk memperluas pasar baru yang saat ini kondisi pasar lokal sedang jenuh. Selain itu, untuk mendukung capaian target ekspor PTPN Holding dan membantu pemerintah menghasilkan devisa negara

Liputan6.com, 22/09/2018

-------------------------------------------------

Masuk Musim Penghujan, Petani Karet di OKU Kembali Bergairah

Memasuki musim penghujan ini para petani menjadi riang gembira karena  tenaman menjadi subur kembali setelah beberapa bulan dilanda kekeringan.

Seperti Wiwin (16) kepada Sripoku.com (3/9/2018) setelah musim penghujan ini diharapkan karet mulai bergetah. Selama musim kemarau melanda, karet benar-benar tidak bergetah.

Wiwin mengatakan tetangganya hanya memperoleh 2 keping karet selama dua minggu terakhir musim kemarau ini, padahal dalam kondisi normal dia mampu memproduksi karet sampai 12 keping. Dia berharap dengan mulai masuknya musim hujan maka produksi karet akan kembali normal.

Apalagi saat ini harga getah karet juga berangsur naik, kalau getahnya banyak maka petani akan mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sudah dua minggu terkahir harga karet yang ditimbang dua mingguan Rp 8.900/kg.

Selain petani, sejumlah warga di Kota Baturaja juga mengaku gembira memasuki musim hujan di bulan September ini, beberapa sumur-sumur yang sebelumnya kering kini mulai berisi air.

SRIPOKU.COM, 03/09/2018

------------------------------------------------

Dodi Reza Alex: Kabupaten Muba akan Lakukan Hilirisasi Karet Aspal

Bupati Muba H Dodi Reza Alex Noerdin menghadiri acara perayaan Hari Ulang Tahun Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia ke-50 di Grand Ballroom Hotel Ritz Carlton Jakarta Pusat, Senin (24/9/2018).

Sebagai Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Sumatera Selatan dan juga Bupati Muba, Dodi berharap Kadin dapat terus berkiprah dalam mewadahi dan memajukan perdagangan dan idustri di Indonesia.

Diungkapkan Dodi, dalam waktu dekat ini Kabupaten Muba akan mencoba melakukan hilirisasi aspal karet dengan memanfaatkan bahan baku karet dari perkebunan masyarakat, sebagai bahan baku campuran aspal untuk pengaspalan infrastuktur di daerahnya.

Dalam peningkatan sumber daya manusia, pemerintah daerah sangat peduli tentang pendidikan dan kesehatan sehingga Pemkab Muba dijuluki sebagai pelopor pendidikan gratis dan sekolah gratis dan sampai saat ini terus ditingkatkan, melalui pemberian beasiswa kepada anak berprestasi.

Sementara, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani dalam sambutannya mengatakan saat ini tenaga kerja Indonesia sangat minim yang mengecam pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi

Sangat berbeda dengan sejarah yang telah ditorehkan Indonesia yang dulu memiliki Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat pendidikan di Asia Tenggara.

Kemudian Kerajaan Majapahit dan pembangunan Candi Borobudur, salah satu situs terbesar Agama Budha di dunia. ***

SRIPOKU.COM, 25/09/2018

--------------------------------------------------------------

Myanmar Bergabung dengan ANRPC sebagai Anggota ke-13

Republik Persatuan Myanmar telah bergabung dengan Asosiasi Negara-negara Penghasil Karet Alam atau ANRPC, organisasi antara pemerintahan yang didirikan pada tahun 1970 sebagai wadah untuk kerjasama multilateral diantara Negara-negara produsen karet alam.

Dengan masuknya Myanmar maka ANRPC kini memiliki 13 negara anggota yang mewakili 90,5% dari produksi karet alam dunia.

Kementerian Pertanian, Peternakan dan Irigasi akan mewakili pemerintah Myanmar di ANRPC. Atas nama pemerintah Myanmar, Dr. Ye Tint Tun, Direktur Jenderal Departemen Pertanian, Kementerian Pertanian, Peternakan dan Irigasi menandatangani dokumen aksesi Myanmar di ANRPC. Sebelumnya Parlemen Myanmar dalam pertemuan regular tanggal 7 Agustus 2018 menyetujui proposal yang diajukan Kementerian Pertanian.

Mynamar memproduksi 242.000 ton karet alam selama Juli 2017-Juni2018 dari kebun karet yang sudah menghasilkan seluas 311.000 ha di Negara tersebut.

Mengingat sebagian besar kebun karet yang sudah menghasilkan didominasi klon-klon dengan potensi produksi yang relatif rendah, rata-rata produktivitas tahunan kebun karet di Myanmar sebesar 777 kg per ha. Negara tersebut juga memiliki 346.000 ha perkebunan karet muda yang belum memasuki periode menghasilkan.

Produksi tahunan diharapkan akan melampaui 500.000 ton ketika tanaman-tanaman muda tersebut mulai dapat disadap sekitar enam tahun kemudian. Dari empat perusahaan produsen ban di Myanmar yang ada saat ini, tiga diantaranya adalah perusahaan milik Negara. Negara tersebut mengekspor sekitar 150.000 ton karet alam setiap tahunnya termasuk perdagangan lintas batas negara.

Sementara itu, pemerintah Thailand menyelenggarakan pertemuan ANRPC ke-41, pertemun Komite Eksekutif ke-48, Konferensi Karet Tahunan ke-11, dan pertemuan tahunan tiga forum lainnya di Chiang Rai di Thailand bagian Utara dari tanggal 8 sampai 13 Oktober 2018. Selain 13 pemerintahan negara anggota ANRPC, beberapa negara non-anggota juga akan hadir dalam pertemuan tersebut sebagai pemantau.

Konferensi Karet Tahunan dengan mengusung tema “Adapting for the Emerging Mega Trends” akan di selenggarakan pada 8 Oktober.

 Rubber Asia, 25/09/2018

--------------------------------------------------------

Pasca Banjir Kerala, Kelangkaan Karet Melanda Industri Hampir 20% Ban India

Industri ban India diperkirakan akan terkena dampak negatif dari kemungkinan turunnya produksi karet sebesar 18-20% menyusul banjir yang melanda Kerala, ungkap sebuah laporan pada hari Kamis.

Menurut laporan yang dikeluarkan sebuah lembaga pemeringkat ICRA, karet alam yang memberikan kontribusi sebesar 35% dari total biaya input di industri ban, diperkirkan akan mengalami kelangkaan akibat banjir dan akan menekan margin operasi industri ban.

Karet alam merupakan salah satu tanaman utama yang dibudidayakan pada 20% lebih areal budidaya di Kerala dan negara bagian di selatan India ini memberikan kontribusi terbesar yaitu 84% dari total produksi karet India, diikuti oleh Karnataka, Tamil Nadu, dan negara bagian di utara-timur seperti Assam, Tripura, Meghalaya dan lain-lain.

Menurut K. Srikumar, wakil presiden (corporate ratings) ICRA, mengatakan lembaganya memperkirakan produksi karet alam akan menurun 120.000 sampai 140.000 ton atau sekiatar 18-20% selama tahun fiscal 2019. Mengingat karet alam merupakan bahan baku kritis, penurunan tajam dalam produksi akan membawa dampak terhadap industri ban India. Secara volume karet alam mewakili 32% dari total input bahan baku dan secara nilai 35%.

India merupakan konsumen terbesar kedua setelah China dengan mengkonsumsi 8% dari total produksi karet alam dunia.

Wakaupun India juga menjadi salah satu produsen utama karet alam dengan kontribusi produksi sebesar 5% dari produksi global, negara tersebut tetap saja menjadi negara net importer karet alam.

Selama tahun fiscal 2018 India memproduksi 690.000 ton karet alam, namun mengkonsumsi 1,1 juta ton dimana kekurangannya diimpor dari Indonesia, Thailand, Vietnam dan lain-lain, kata lembaga itu.  

Import karet alam mewakili 40% dari total konsumsi selama lima tahun terakhir dan diperkirakan akan mencapai 50% selama tahun fiscal berjalan akibat penurunan produksi karet alam domestik.

Dengan permintaan yang melampaui pasokan, harga karet alam di pasar domestik telah mengalami kenaikan lebih dari 10% selama bulan April-Agustus 2018, termasuk kenaikan 5% lebih selama satu bulan terakhir.

Srikumar mengatakan sejalan dengan kenaikan harga di pasar domestik akibat kelangkaan pasokan, produsen ban di dalam negeri akan mengimpor karet dengan harga yang lebih rendah dari harga di pasar domestik saat ini. Namun demikian dengan perkiraan kenaikan harga karet alam di pasar domestik dan global dan diperparah dengan melemahnya nilai tukar rupee, produsen ban akan mengalami tekanan terhadap marjin operasinya sekitar 100 basis poin pada tahun fiscal 2019.

Thenewsminute.com, 07/09/2018

----------------------------------------------------------

Produksi Karet Alam Diperkirakan turun 20% akibat Banjir Kerala, Industri Ban India akan Terkena Dampak Negatif

Banjir terburuk dalam satu abad terakhir di Kerala pada bulan Juli dan Agustus diperkirakan akan membawa dampak negatif terhadap industri ban India. Karet alam yang menyumbang 35% dari biaya input di industri ban diperkirakan akan mengalami kelangkaan akibat banjir, menimbulkan tekanan terhadap marjin operasi produsen ban, kata ICRA.   

Menurut K. Srikumar, wakil presiden Corporate Sector ratings ICRA, banjir dan tanah longsor di beberapa kecamatan, serta kemungkinan ancaman penyakit pada tanaman yang belum siap sadap, akan menurunkan produksi karet alam selama beberapa bulan mendatang yang merupakan musim sadap yang kritis.

Produksi karet alam diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar 120.000 sampai 140.000 ton atau turun 18-20% selama tahun fiscal 2019. Mengingat karet alam merupkan bahan baku kritis, penurunan produksi karet alam akan membawa dampak terhadap industri ban India.

Srikumar mengatakan karet alam menyumbang 32% secara volume dan 35% secara nilai dari total bahan baku industri ban disamping bahan baku lainnya seperti karet sintetis yang merupkan turunan dari minyak bumi, carbon black, benang, dan bahan kimia karet. Produsen ban juga menggunakan karet alam dan karet sintetis yang sampai batas-batas tertentu komposisinya dapat diubah, tergantung kepada pergerakan harga dan kebutuhan spesifikasi produk akhirnya.

Mengingat harga karet alam terus meningkat akibat kelangkaan pasokan, produsen ban domestik kembali harus mengimpor karet alam dengan harga yang kini lebih rendah dari harga di pasar domestik. Namun dengan perkirakan kenaikanharga di pasar domestic dan global dewasa ini, yang diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupee, produsen ban akan kembali mengalami tekanan pada marjin mereka. ICRA memperkirakan akan terjadi kontraksi 1000 basis poin dalam marjin profit operasi pada tahun fiskal 2019.

Karet alam merupakan salah satu tanaman utama yang dibudidayakan pada 20% lebih areal budidaya di Kerala dan negara bagian di selatan India ini memberikan kontribusi terbesar yaitu 84% dari total produksi karet India, diikuti oleh Karnataka, Tamil Nadu, dan negara bagian di utara-timur seperti Assam, Tripura, dan Meghalaya.

India merupakan konsumen karet alam terbesar kedua (mengkonsumsi 8% dari total produksi dunia) setelah China. Walaupun India menjadi salah satu produsen karet alam dunia dengan kontribusi lebih dari 5% produksi global, negara tersebut tetap menjadi net importer. Selama tahun fiscal 2018 India memproduksi 690.000 ton karet alam, namun mengkonsumsi 1.11 juta ton dimana untuk mengisi kesenjangan pasokan itu seluruhnya diimpor dari Indonesia, Thailand dan Vietnam. Impor karet alam mengisi sekitar 40% dari total kebutuhan karet alam India dalam lima tahun terakhir ini, namun diperkirakan pada tahun fiskal 2019 akan meningkat menjadi 50% akibat penurunan produksi di dalam negeri. Dengan demikian, impor karet alam dipekirakan akan mencapai 530.000 smapai 550.000 ton pada tahun fiskal 2019 yang merupkaan rekor tertinggi selama ini.     

 Financial Express, 07/09/2018