Berita Karet November 2018

  1. Ekonomi Global Melemah, Ekspor Karet Tahun ini Berpotensi Turun
  2. Pertama di Indonesia, Pembangunan Jalan Pakai Aspal Campur Karet
  3. Pengusaha Karet Minta Pemerintah Dorong Insentif Hilir Produk Jadi Karet
  4. Harga Karet Membaik, Petani Berharap Harga Tetap Stabil
  5. Kemperin Dorong Investasi Hilir Produk Karet Selain Crumb Rubber
  6. Pabrik Karet di Sumut Tutup Satu Per Satu
  7. Atasi Penyakit Tanaman Karet, Bupati Musirawas Canangan Gardal JAP
  8. Harga Getah Karet di OKU Bergerak Naik
  9. Kementerian Pertanian Thailand akan Berikan Kompensasi kepada Petani Karet
  10. Tingginya Konsumsi Karet akan Mendorong Pertumbuhan Produksi di India

-------------------------------------------------------------

Ekonomi Global Melemah, Ekspor Karet Tahun ini Berpotensi Turun

Ekspor produk karet dan turunannya tahun ini diperkirakan bakal lebih rendah ketimbang tahun lalu. Penyebabnya karena pasar internasional menunjukkan sinyal beragam dan minimnya upaya nilai tambah produk karet turunan.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo mengatakan setidaknya tahun ini ekspor bakal lebih rendah 10% dari tahun lalu yang berada di kisaran 3,1 juta on. Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan penurunan ini.

"Pelemahan ekonomi global termasuk trade war effect, persepsi fundamental pasar yang kurang pas dan pasar yang lebih digerakkan oleh spekulan serta kurangnya keterlibatan pelaku perdagangan komoditi karet itu sendiri," katanya kepada Kontan.co.id, Senin (29/10).

Proyeksi ini menimbang catatan Gapkindo yang melihat ekspor karet Indonesia pada periode Januari hingga Agustus tahun ini turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pada tahun ini, hingga Agustus, volume ekspor turun 6,12% menjadi 2,052 juta ton dari 2,185 juta ton. Kemudian secara nilai turun 24,62% menjadi US$ 2,96 miliar dari US$ 3,926 miliar. Penurunan ini hampir setara US$ 1 miliar dan menjadi kekhawatiran industri karet.

Sedangkan dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor produk karet dan barang-barang dari karet hingga kuartal III tahun ini mencapai 2,8 juta ton atau turun 6,06% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 2,98 juta ton. Sedangkan pada kinerja bulanan, volume ekspor karet pada September turun 4,15% menjadi 311.724 ton dari bulan Agustus yang sebanyak 325.217 ton.

Kemudian dari sisi nilai, ekspor hingga kuartal III-2018 juga turun 12,25% menjadi US$5,86 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu di US$ 6,675 miliar. Kontribusi paling besar dari penjualan karet remah alias crumb rubber yang mengisi hingga 52% dari ekspor karet periode tersebut. Selanjutnya adalah produk ban luar dan ban dalam yang setara hingga 21%.

Padahal perang dagang antara Amerika Serikat dan China seharusnya berimbas baik pada kinerja ekspor karet Indonesia ke AS. Pasalnya, AS menutup kesempatan mengimpor bahan baku karet dari China, sehingga pasar tersebut seharusnya bisa diisi oleh Indonesia. 

Menurut Soedargo, produk yang berpotensi  masuk ke AS lebih besar adalah produk industri berupa SIR20 yang merupakan produk antara atau produk semi-mentah berupa olahan karet mentah yang siap dijadikan ban, conveyor belt maupun produk olahan lainnya.

Dengan demikian, bila terus mengutamakan ekspor SIR 20 alias crumb rubber, nilainya tidak sebanding bila mengekspor produk karet yang sudah diolah lebih lanjut menjadi ban, dock fender ataupun conveyor belt. Sayangnya, pemerintah dinilai tidak mendorong pertumbuhan kinerja maupun investasi dalam sektor hilirisasi lanjut tersebut.***

 KONTAN.CO.ID, 29/10/2018

---------------------------------------------------

 Pertama di Indonesia, Pembangunan Jalan Pakai Aspal Campur Karet

Penggunaan karet alam untuk campuran aspal telah dimulai di Sumsel, tepatnya di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Hal ini patut dikembangkan sekaligus untuk mengangkat harga karet alam yang terus anjlok di tingkat petani.

Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin mengatakan, inovasi ini merupakan solusi alternatif untuk mendongkrak pemanfaatan karet sebagai bahan campuran aspal. Diharapkan Infrastruktur jalan di Muba lebih baik dan harga karet juga ikut terdongkrak naik.
"Untuk tahap pertama ini kita bangun jalan aspal berbahan campuran karet di Desa Mulya Rejo B4 Kecamatan Sungai Lilin dengan panjang jalan 465 meter," ungkap Dodi Reza Jumat (12/10/2018).

Pembangunan jalan aspal berbahan campuran karet menggunakan teknologi pembangunan Aspal Hotmix menggunakan campuran Serbuk Karet Alam Teraktivasi (SKAT).  Untuk tahap awal pembangunan aspal berbahan campuran karet di Muba tersebut di sepanjang jalan 465 meter menyerap 8,49 ton karet alam milik petani.

"Ini sangat efektif dan membuktikan kalau implementasi pembangunan jalan aspal berbahan campuran karet akan mendongkrak harga karet di kalangan petani khususnya di bumi Serasan Sekate ini. Nah, implementasi pembangunan jalan aspal berbahan campuran karet ini sangat nyata ke depannya akan sangat membantu perekonomian petani karet," terangnya.

Sementara itu Plt Kepala Dinas PUPR Musi Banyuasin Herman Mayori menambahkan, pembangunan jalan aspal berbahan campuran karet di Muba menggunakan dana APBD Tahun 2018 dan menelan anggaran sebesar Rp1,8 miliar. "Untuk faktor ketahanan, metode pembangunan jalan aspal berbahan campuran karet ini lebih tahan dan kuat," katanya.

Ada tiga teknik yang bisa digunakan untuk pembangunan jalan aspal berbahan campuran karet yakni dengan teknologi aspal karet berbasis latek, aspal karet berbasis serbuk karet (SKAT), dan aspal karet berbasis masterbatch/kompon padat.

"Teknologi yang kita gunakan hari ini, menggunakan teknologi SKAT, yang merupakan implementasi yang pertama diterapkan di Indonesia. Ke depan kita akan berinovasi kembali menggunakan teknologi berbasis Lateks," ujarnya.***

Sindonews, 12/10/2018

--------------------------------------------------------

Pengusaha Karet Minta Pemerintah Dorong Insentif Hilir Produk Jadi Karet

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) berharap pemerintah dapat mempertimbangkan insentif dan dorongan untuk menciptakan iklim pertumbuhan pabrik hilirisasi produk karet.

Pasalnya, dorongan selama ini lebih pada produk antara karet remah, alias crumb rubber, dan tidak pada produk hilir jadi yang memiliki nilai tambah lebih.

Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo menyampaikan untuk saat ini, konsumsi industri dalam negeri pada produk karet alam jadi baru mencapai 600.000 ton per tahun. Sumber bahannya berasal dari karet remah (crumb rubber / SIR20) yang juga dipasok oleh anggota Gapkindo.

"Sektor ini masih bisa ditingkatkan. Karena kapasitas terpasang yang sudah melebihi produksi bahan baku karet alam dari tingkat hulunya adalah di sektor Industri antara, yaitu pengolahan karet remah," jelasnya kepada Kontan.co.id, Senin (29/10).

Memang industri karet sempat menyampaikan adanya kondisi kapasitas industri terpasang berlebih. Dalam catatan Kontan.co.id, kapasitas terpasang pengolahan karet sebesar 5,7 juta ton, tetapi produksi karet mentah yang jadi bahan baku hanya 3,4 juta ton.

Namun Moenardji meluruskan sektor yang mengalami kondisi jenuh terletak pada sektor industri antara, yaitu pada industri pengolahan karet remah yang juga anggota Gapkindo.

Moenardji menyampaikan, pihaknya senantiasa selalu mengingatkan pemerintah agar tidak membuka investasi pengolahan crumb rubber ini. Melainkan di sektor industrinya yang lebih hilir berupa ban, dock fender dan conveyor belt karena memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Oleh karenanya, pengusaha karet berharap pemerintah bisa mengeluarkan skema insentif untuk tingkatkan produktivitas hilir karet dalam negeri untuk memberi nilai tambah untuk perdagangan dalam dan luar negeri. ***

KONTAN CO.ID, 29/10/2018

-------------------------------------------------------------------

Harga Karet Membaik, Petani Berharap Harga Tetap Stabil

Harga karet di Bangka Belitung menunjukkan trend membaik. Petani saat ini menjual sekitar Rp 7000 per kg.

Membaiknya harga karet ditengah terpuruknya harga sawit dapat menolong petani di Bangka Belitung. Akan tetapi, petani tetap harus menjaga mutu karet agar tetap tinggi, kata Saidi KM, Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung, kepada bangkapos.com, Selasa (22/10/2018).

Membaiknya harga karet ini lanjut Saidi, pemerintah juga harus tanggap. Kebutuhan petani untuk meningkatkan kualitas dan produksi karet juga harus dibantu.

Bantuan pemerintah tambah Saidi bisa saja dengan mempermudah atau menyediakan cuka karet bagi petani untuk menjaga mutu. Kemudian menyediakan pupuk yang baik agar produksi getah karet petani juga banyak.

Sementara Tohadi, petani karet dari Desa Saing, Kabupaten Bangka, saat dihubungi mengatakan agar pemerintah tetap bisa menstabilkan dan menaikkan harga karet. Jangan sampai, harga sawit sudah murah, harga karet pun tak membaik.***

Bangkapos, 23/10/2018

------------------------------------------------------------

 

Kemperin Dorong Investasi Hilir Produk Karet Selain Crumb Rubber

Kementerian Perindustrian (Kemperin) berusaha mendorong pengembangan investasi pada sektor hilir karet. Adapun produk yang didorong tidak hanya pada karet serpih alias crumb rubber saja, tapi juga pada produk hilir lainnya.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono menyatakan pengembangan investasi pada hilir ini terus dilakukan karena menimbang penyerapan manufaktur dalam negeri pada crumb rubber masih sangat jauh dibandingkan ekspornya.

"Sekarang masih sekitar 500.000 ton yang dipakai untuk ban, belt conveyor serta beberapa gasket karet dan selang karet, serta bantalan karet untuk pelabuhan dan lainnya. Itu dari total produksi crumb rubber 3 juta ton," katanya kepada Kontan.co.id, Senin (29/10).

Artinya dari produksi 3 juta ton tersebut, sebanyak 2,5 juta ton diekspor seluruhnya. Padahal karet serpih merupakan produk antara, alias bukan produk hilir seutuhnya, dan bila pemerintah dan industri sama-sama mendorong pengembangan karet manufaktur dalam negeri, bisa memberikan nilai tambah dalam perdagangan.

Achmad menyatakan pihaknya berupaya mendorong adanya investasi baru pada industri ban dan peralatan teknik lainnya.

Senada Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo melihat pemerintah seharusnya fokus pada pengembangan industri hilir karet. "Kalau mau tingkatkan kapasitasnya, harusnya lebih pada barang jadi daripada produk industri antaranya. Hal ini dapat meingkatkan nilai tambah penjualan," katanya.

Menurut Moenardji, konsumsi industri dalam negeri pada produk karet alam jadi baru mencapai 600.000 ton per tahun. Sumber bahannya berasal dari karet remah (crumb rubber / SIR20) yang juga dipasok oleh anggota Gapkindo.

KONTAN CO.ID, 29/10/2018

-------------------------------------------------------------

 Pabrik Karet  di Sumut Tutup Satu Per Satu

Sejumlah pabrik karet remah telah berhenti beroperasi atau mengurangi produksi karena kekurangan bahan olah karet dari petani. Pabrik pun mulai melakukan pemutusan hubungan kerja atau merumahkan karyawan.

Salah satu yang berhenti beroperasi adalah pabrik karet remah di Kecamatan babalan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Dua tahun terakhir, pabrik ini berhenti beroperasi karena tidak ada bahan baku.

Achmad Ramadan Harahap (27), mantan karyawan pabrik yang ditemui Kompas, Rabu (31/10/2018), mengatakan , ekonomi warga sempat bergairah  saat pabrik masih beroperasi. hampir semua pekerja yang  berjumlah sekitar 200 orang merupakan warga sekitar pabrik. Warung-warung milik warga pun bertumbuh. Truk pengangkut karet lalu lalang.

Kisah itu berubah dua tahun ini karena pabrik berhenti beroperasi. pantauan Kompas, tidak ada lagi aktifitas produksi di pabrik tersebut. Gerbaang pabrik tertutup rapat. Suasana di dalam pabrik lenggang dan tidak ada lagi orang di dalamnya.

Menuruh Ahmad, perrekonomian mereka terpuruk sejak pabrik tutup. Dia hanya bekerja serabutan dan lebih sering menganggur. Para pekerja lain juga banyak yang memilih merantau ke daerah lain untuk menghidupi keluarganya.

Pelaku usaha industri karet, Daud Husni Bastari, mengatakan, hampir semua pabrik karet remah mengalami hal serupa. Pabrik dengan kapasitas dan modal besar mampu brtahan, tapi tetap harus mengurangi  produksi.

Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara, Edy Irwansyah mengatakan, selain pabrik tutup, 30 pabrik karet remah di Sumut kini krisis bahan baku. Produksi getah karet dari petani terus berkurang. Hal ini dikarenakan petani berhenti menyadap akibat harga karet yang anjlok selama tujuh tahun ini.

Saat ini, kata edy, bahan olah karet dari petani hanya cukup untuk memproduksi sekitar 400.000 ton karet remah per tahun. padahal, kapasitas total pabrik di Sumut mencapai 820,000 ton per tahun. paling terdampak adalah pabrik kecil dengan kapasitas produksi di bawah 12.000 ton per tahun. Pabrik tidak efisien karena biaya operasional penuh, tetapi produksi berkurang.

Daud menambahkan, selama 50 tahun menggeluti industri karet remah, kondisi saat ini paling sulit. Satu-satunya jalan keluar menyelamatkan industri kareta adalah dengan menyelamatkan petani karet di hulu industri ini.

Pebisnis karet Asril Sutan Amir  mengatakan, petani karet yang berjumlah sekitar 2 juta orang di Indonesia minim perhatian pemerintah maupun industri pengguna karet remah, yakni, industri ban yang menyerap lebih 70 % produksi karet . Saat ini, harga getah karet di tingkat petani anjlok dari Rp 20000 menjadi Rp 6000  per kilogram.

Harian Kompas, 01/11/2018

------------------------------------------------------

Atasi Penyakit Tanaman Karet, Bupati Musirawas Canangan Gardal JAP

Bupati Musirawas, H Hendra Gunawan mencanangkan Gerakan Pengendalian Jamur Akar Putih (Gardal JAP) di Lapangan Desa Marga Tani Kecamatan Jayaloka Kabupaten Musirawas, Selasa (30/10/2018).

Pencanangan ditandai dengan melakukan aplikasi fungisida pada tanaman karet yang terserang penyakit JAP (Aplikasi APH) dan penyerahan bantuan kepada kelompok tani.

Pencanangan Gardal JAP ini dilakukan bersama Direktur Perlindungan Tanaman Kementerian Pertanian, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel dan Kabupaten Musirawas serta delapan kelompok tani yang tersebar di tiga kecamatan diwilayah Kabupaten Musirawas.

Diharapkan, dengan gerakan ini dapat menekan penyakit tanaman karet yang menyebabkan produktifitas karet menurun bahkan menyebabkan kematian pada tanaman karet.

Direktur Perlindungan Tanaman Kementerian Pertanian melalui Kasubid Pengendalian OPT Ir Arsiah, MSc mengungkapkan, gerakan ini merupakan salah satu upaya pemerintah pusat melalui kementerian perkebunan bersama seluruh pihak untuk membantu petani karet mengendalikan organisme pengganggu tanaman (Aplikasi OPT) melalui gerakan massal pada pusat-pusat serangan OPT sehingga tidak meluas pada area tanaman lainnya.

Dikatakan, khusus di Propinsi Sumsel, gerakan ini dimulai dari Kabupaten Musirawas dengan menargetkan 200 hektar lahan karet yang tersebar dikelola oleh delapan kelompok tani di tiga kecamatan di Kabupaten Musirawas yaitu Kecamatan Jayaloka, Muara Lakitan dan Tuah Negeri.

Dijelaskan, jamur akar putih atau Rigidoporus lignosus merupakan penyakit yang menyerang pada tanaman karet dN menjadi momok menakutkan bagi petani karet.

Penyakit ini jika terus dibiarkan akan berakibat fatal pada perkembangan tanaman karet di sekitarnya, untuk itu sebelum penyebaran penyakit ini meluas harus dilakukan gerakan pengendalian missal secara bersama-sama.

Kepala Dinas Perkebunan Propinsi Sumsel, Ir H Fakhrurozi Raiz, MM dalam sambutanya mengatakan, kegiatan Gerdal JAP ini secara garis besar terdiri dari kegiatan fisik dan non fisik seperti melakukan sanitasi kebun, aplikasi fungisida dan tricoderma.

Kemudian melakukan sosialisasi dan penyuluhan, rencana kerja dan pengadaab bahan dan alat pengendalian JAP.

Bupati Musirawas, H Hendra Gunawan dalam sambuatanya menyambut baik gerakan yang dipelopori oleh Kementerian Pertanian melalui Direktorat Perlindungan Tanaman ini.

Diharakan dengan adanya gerakan ini dapat membantu masyarakat dalam penanggulangan penyakit JAP dan meningkatakan produktivitas tanaman karet.

Bupati juga mengajak seluruh masyarakat khususnya anggota kelompok tani yang menjadi target gerakan ini dapat bersama-sama untuk menyukseskan gerakan ini dengan tetap mengacu pada semangat kebersamaan dan gotong royong serta ikut mensosialisasikan cara-cara penanggulangan penyakit JAP ini.

Usai membuka secara resmi dan melakukan pencanangan Gardal JAP, bupati beserta rombongan menuju ke salah satu kebun karet warga yang mulai terserang penyakit JAP dan melakukan penanggulangan dengan menggunakan aplikasi APH yakni melakukan penyiraman fungisida ke akar pohon yang telah terserang.

Pada kesempatan itu, bupati bersama Kelompok tani mendapatkan penjelasan tentang JAP oleh petugas UPTD Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel.***

SRIPKU.COM, 31/10/2018

-------------------------------------------------------------

Harga Getah Karet di OKU Bergerak Naik

Sudah hampir sebulan terakhir harga getah karet di Kabupaten Ogan Komering Ulu bergerak naik, meskipun belum terlalu signifikan namun kenaikan ini  membuat petani gembira.

Seperti dituturkan  Ismail (40) kepada SRIPO Kamis (25/10/2018), harga getah karet yang ditimbang dua mingguan sekarang dihargai Rp 9.900 per kg. Harga ini mengalami kenaikan dibandingkan dengan bulan lalu yang masih Rp 8.500 per kg.

Kenaikan ini memang belum seberapa jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang saat itu harga karet sempat menyentuh angka Rp 20.000 per kg. Namun setidaknya harapan petani sudah mulai tumbuh. Petani berharap kedepan harga komoditas andalan di Bumi Sebimbing Sekundang ini akan terus bergerak naik.

Bagi petani, satu-satunya harapan adalah naiknnya harga karet, petani menilai wajar apabila pemerintah ikut memperhatikan harga getah karet agar petani juga ikut sejahterah. 

Sementara itu berdasarkan catatan Sripoku.com  tanaman karet memang menjadi tanaman primadona di Kabupaten OKU,  luas areal perkebunan karet  alam milik rakyat  yang terdata saja mencapai 71.807,5 Ha dengan total produksi yang terdata 52.447,47 ton per tahun.

Jumlah ini  baru yang terdata saja, sedangkan yang tidak terdata jumlahnya diperkirakan masih banyak. Sedangkan perkebunan besar milik perusahaan terdata baru 918,09 ha dengan total produksi sekitar 1.893,48 ton per tahun.

Di sisi lain, informasi dilapangan menyebutkan  perekonomian rakyat Kabupaten yang berjuluk Bumi Sebimbing Sekundang ini memang ditopang dari dua komuditas yakni karet dan sawit.

Namun karet memang lebih besar dibandingkan sawit, karena petani bisa membuka kebun sendiri dan bisa langsung menjual sendiri mengingat banyak tauke karet yang langsung datang ke desa-desa.

Sebaliknya untuk komoditas sawit memang masih bergantung ke perusahan perkebunan, artinya petani tidak bisa menjual sesuka hati.*** 

SRIPOKU.COM, 25/10/2018

----------------------------------------------------------------

Kementerian Pertanian Thailand akan Berikan Kompensasi kepada Petani Karet

Kementerian Pertanian dan Koperasi berencana untuk menawarkan kompensasi sebsar 3.000 Baht untuk setiap rai kebun karet (setara dengan 1.600 meter persegi) kepada petani karet yang sepakat untuk tidak menyadap lateks karet di perkebunan karet mereka selama tiga bulan.

“Ini adalah langkah yang kami rencanakan untuk mengatasi jatuhnya harga karet,” kata Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand Grisada Boonrach kemarin.

Dia mengatakan telah mengisntruksikan Otoritas Karet Thailand untuk mengadakan konsultasi dengan Dewan Negara Bagian tentang kemungkinan untuk mendapatkan dana pinjaman sebesar 9 miliar Baht, dimana pemerintah bertindak sebagai penjamin untuk pelaksanaan rencana tersebut.

Grisda mengharapkan Dewan Negara Bagian segera memberikan responnya minggu depan sehingga rencana tersebut sudah bisa dilaksanakan antara Nopember tahun ini dan April tahun depan. Dengan demikian, Thailand akan dapat memangkas produksi karet sekitar 200.000 ton.

Dia mengatakan otoritas akan mengupulkan peralatan menyadap karet dari petani untuk memastikan bahwa peserta program tersebut tidak melakukan penyadapan karet secara diam-diam (di luar pengetahuan otoritas).

Menurut Grisada, ada sekitar 24 juta rai (sekitar 3,8 juta ha) kebun karet di Thailand dengan total produksi karet sekitar 4 juta ton  per tahun.

“Jika produksi karet berkurang menjadi di bawah 4 juta ton, harga akan meningkat,” kata dia.

Mengenai stok karet sebanyak 100.000 ton yang tersimpan di gudang-gudang Otoritas Karet Thailand, Grisada mengatakan otoritas dan Otoritas Pembangkitan Listrik Thailand kini sedang mengadakan percobaan untuk mengubah karet menjadi energi.

Terkait dengan hal itu Grisada juga mengadakan konferensi video kemarin tentang proyek guna mempromosikan penanaman jagung oleh para petani padi selama bulan Nopember 2018 sampai September 2019 daripada menanam padi di luar musimnya. Pertemuan itu ditujukan untuk menjelaskan rincian proyek kepada kelompok kerja tingkat propinsi dan distrik yang baru terbentuk di 33 propinsi. Mereka mencakup 2 juta rai areal sawah yang lebih cocok ditanami jagung dari pada padi pada saat di luar musim tanam padi.

Proyek yang sudah disetujui kabinet itu akan menyediakan pinjaman dengan tingkat suku Bungan 0,01% bagi petani untuk biaya produksi 2.000 Baht per rai hingga luasan 15 rai. Pinjaman dengan tingkat suku bunga 1% untuk lembaga pertanian yang mengumpulkan jagung untuk dijual kepada pihak swasta, dan anggaran pemerintah untuk memberikan jaminan asuransi sebesar 65 Baht per rai (jadi, petani yang terkena bencana gagal panen akan mendapatkan kompensasi 1.500 Baht per rai). ***

The Nation, 05/10/2018

------------------------------------------------------------------

Tingginya Konsumsi Karet akan Mendorong Pertumbuhan Produksi di India

Proyeksi pertumbuhan konsumsi karet India yang cukup tinggi yang merupakan akibat wajar dari perkembangan ekonomi secara keseluruhan akan mendorong peningkatan produksi karet walaupun harga karet yang sedang jatuh dewasa ini telah menimbulkan dampak yang cukup dalam kepada petani, kata Sheela Thomas, sekretaris komisi reformasi administrasi.

Sheela Thomas, mantan ketua Dewan Karet dan sekretaris jenderal Asosiasi Negara-negara Produsen Karet (ANRPC), mengatakan dalam pidato pembukaan India Rubber Meet (IRM) di Kochi, kemarin, konsumsi karet per kapita, yang merupakan indikator dasar dari industrialisasi berbasis karet, hanya 1,2 kg di India yang masih jauh di bawah 3,69 kg rata-rata dunia, bahkan di China angkanya mencapai 6,59 kg.

“Jadi, ekonomi kita akan memicu pertumbuhan produksi dan konsumsi karet di dalam negeri,” katanya.

Dia mengatakan aspek kunci yang perlu dipertimbangkan adalah kerentanan usaha mikro, kecil dan menengah dalam manufaktur produk karet terhadap dampak dari perkembangan yang terjadi di pasar dunia.

“Bahkan, pemain besar sekalipun seperti produsen ban harus berhadapan dengan persaingan ketat dengan produk impor dari negara-negara seperti China, Korea Selatan dan Jepang,” tuturnya.

Untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut Sheela menyarankan pendekatan multiaspek dengan mengkombinasikan instrumen institusional, pengembangan dan regulasi.***   

IndiaTimes.com, 30/10/2018