BERITA KARET JANUARI 2019

  1. Harga Karet Perpotensi Ada Perbaikan, ini Pemicunya
  2. Indonesia Ajak Thailand Naikkan Konsumsi Karet Domestik
  3. Anggaran untuk Kakao & Kelapa Dipangkas, Karet Ditambah
  4. 200 Ha Kebun Karet di Sumsel Diremajakan Tahun Depan
  5. Ratusan Hektar Kebun Karet Di Sarolangun Diremajakan
  6. Gapkindo Berharap Harga Karet Kembali ke Nilai Fundamentalnya
  7. Spekulan Diduga Permainkan Harga Karet Global!
  8. Naik Turun Harga Karet Sepanjang 2018
  9. Produsen Karet Thailand Minta Pemerintah Perpanjang Kampanye ‘Toko untuk Bangsa’
  10. Dewan Karet India Perpanjang Batas Akhir Subsidi Penanaman

-----------------------------------------

HARGA KARET PERPOTENSI ADA PERBAIKAN, INI PEMICUNYA

Usai rapat International Tripartite Rubber Council (ITRC) pada pertengahan Desember 2018, pasar global merespon baik atas perbaikan harga komoditas karet.

"Catatan IRCO (International Rubber Consortium Limite di minggu ketiga setelah meeting ITRC, pasar merespon positif dimana harga naik menjadi US$ 1.35 per kg, dimana harga sebelumnya US$ 1.31 per kg," kata Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemdag), Kasan Muhri, Kamis (27/12).

Bukti respon pasar yang positif ini akan kembali dibicarakan lagi untuk perbaikan harga karet di 2019 dengan rapat ITRC di Januari 2019.

"Masih akan ada meeting lanjutan di Januari. Bukan keputusan harga tapi tidakan untuk memperbaiki harga karet yang saat ini masih rendah," ungkapnya.

Ia melanjutkan dalam meeting sebelumnya usulan harga adalah US$ 1.4 per kg hingga US$ 1.5 per kg yang akan dilakukan oleh tiga negara peserta ITRC yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand. "Ini yang akan di tunggu-tunggu pasar," tambahnya.

Menurut Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia ( Gapkindo) Moenardji Soedargo harga karet untuk Perdagangan TSR20 bulan Maret 2019 di Bursa SGX harga karet sudah membaik yakni di angka SGD 1.28 per kg.

Namun, Kasan menganggap harga tersebut masih rendah. "S$ 1.28 itu Singapura harganya lebih rendah daripada harga real di lapangan," ujar Kasan.

Moenardji menyebut, kenaikan harga karet, dipicu oleh potensi pasok dunia tidak sebesar yg diasumsikan pasar. Namun ia tidak juga akan menunggu pengumuman dari rapat ITRC tahun 2019.

"Pergerakan harga di Bulan Desember ini hingga hari ini sudah membaik dipicu oleh antisipasi bahwa ternyata fundamental pasar lebih bagus," jelasnya.

Catatan Kemdag menyebutkan bahwa ekspor di tahun 2018 dari Januari hingga November senilai US$ 5,9 miliar dengan volume 3,3 juta ton.

Ekspor di tahun ini dinilai turun 17% untuk nilainya dan naik 8% untuk volumenya. "Ini target 2018 turun karena harga juga turun, jadi di bawah target," ungkapnya. ***

KONTAN.co.id, 27/12/2018

-----------------------------------------------------------------------------

INDONESIA AJAK THAILAND NAIKKAN KONSUMSI KARET DOMESTIK

Indonesia mengajak Thailand untuk meningkatkan konsumsi domestik produk karetnya, demi mengurangi tekanan pelemahan harga komoditas tersebut di pasar global.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane mengatakan, dalam pertemuan  International Tripartite Rubber Council (ITRC) di Putrajaya, Malaysia pada 16 Desember negara anggota belum dapat menghasilkan keputusan yang bulat untuk mengerek harga karet global.

Untuk itu, menurutnya, para pengusaha dan pemerintah Indonesia berinisiatif untuk mengajak Thailand ikut serta meningkatkan konsumsi domestiknya demi mengurangi kelebihan pasokan karet global.

“Kenapa Thailand, karena mereka adalah negara produsen karet terbesar di ITRC saat ini. Mereka juga belum memiliki inisiatif seperti kita untuk menyerap produksi karetnya untuk kebutuhan domestik,” ujarnya, Rabu (26/12).

Menurutnya, Pemerintah Thailand telah menyetujui skema tersebut dan tengah menyiapkan rencana untuk melakukan penyerapan besar-besaran produksi karetnya. Dia melanjutkan, ajakan diarahkan ke Thailand lantaran kondisi perkebunan dan industri karet Malaysia selama ini terbilang  aman. Pasalnya, Malaysia memiliki spesifikasi produksi karet jenis lateks yang permintaannya dan harga di pasar globalnya relatif stabil.

Adapun ITRC terdiri oleh tiga negara produsen karet besar dunia yakni Thailand, Indonesia dan Malaysia. Berdasarkan data Asosiasi Negara-Negara Produsen Karet Alam (Association of Natural Rubber Producing Countries/ ANRPC), sepanjang tahun ini produksi karet Thailand mencapai 4,82 juta ton, sementara Indonesia sebanyak 3,77 juta ton dan di Malaysia 600.000 ton.

Azis mengatakan, langkah perkuatan konsumsi domestik tersebut diambil lantaran skema pengurangan volume ekspor karet negara anggota ITRC melalui kerangka Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) belum dapat diputuskan dalam pertemun di Putrajaya, Malaysia.

Menurutnya, ketiga negara belum sepakat bagaimana pola pengawasan dan besaran moratorium ekspor karet di masing-masing negara, yang rencananya akan diaplikasikan pada tahun depan.

Terlebih dalam pertemuan tersebut, lanjutnya, ketiga negara menyimpulkan isu kelebihan pasokan karet global, yang membuat harga komoditas tersebut tertekan disebabkan oleh ulah para spekulan.

“Maka dari itu kita lawan sentimen negatif itu dengan setimen positif lain yakni kabar bahwa dua negara produsen karet besar dunia [Thailadn dan Indonesia] siapkan skema penyerapan besar-besaran untuk konsumsi domestik,” jelasnya.***

Bisnis.com, 27/12/2018

--------------------------------------------------------------------------

 ANGGARAN UNTUK KAKAO & KELAPA DIPANGKAS, KARET DITAMBAH

Kementerian Pertanian mengurangi alokasi anggaran pengembangan untuk kakao dan kelapa pada 2019. Adapun komoditas yang mendapat tambahan alokasi peluasan pengembangan adalah karet.

Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Kementerian Pertanian Irmijati Rahcmi mengakui untuk tahun depan alokasi anggaran pengembangan komoditas kakao dan karet dikurangi. Alasannya adalah terbatasnya anggaran yang ada.

Irmijati menjelaskan, pada tahun depan komoditas kakao mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp84,53 milliar untuk peremajaan lahan seluas 6.660 ha dan Rp15 milliar untuk perluasan sebesar 1.070 ha.

“Ada penurunan sekitar 30% dibandingkan dengan tahun ini dari segi pengembangan komoditas,” katanya, saat ditemui setelah Rapat Koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Kamis (27/12).

Pada 2018, Kementan melakukan pengembangan perkebunan kakao di lahan seluas 11.800 ha. Rinciannya adalah intensifikasi 1.030 ha, peremajaan 8.690 ha, dan perluasan 2.080 ha.

Adapun, untuk komoditas kelapa, Irmi mengatakan ada pengurangan areal pengembangan hampir 50%. "Kelapa total pengembangannya cuma 14.000 ha, separuh dari tahun sebelumnya," katanya.

Padahal  2018, Kelapa menjadi salah satu komoditas dengan luas pengembangan yang lumayan besar. Terhitung peremajaan dilaksanakan di 21 provinsi dengan luas 26.470 ha dan perluasan di 3 provinsi seluas 880 ha.

Adapun, komoditas yang mendapatkan alokasi lebih besar untuk pengembangannya adalah karet. Irmi mengatakan alokasi anggaran untuk peremajaan karet seluas 5.210 ha adalah Rp37,29 milliar ditambah perluasan 800 ha dengan alokasi anggaran Rp8,19 milliar.

Target tersebut meningkat dibandingkan dengan tahun ini yang peremajaannya hanya 2.090 ha ditambah intensifikasi 3.170 ha.

Irmi menjelaskan komoditas karet pada 2019 akan dikembangkan di sentra-sentra produksi di delapan provinsi yakni Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.

Sementara untuk kakao difokuskan di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Aceh, Sumatera Barat, Lampung, Gorontalo, Papua Barat, dan Sulawesi Barat.

Terakhir, komoditas kelapa difokuskan ke Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, Papua, Maluku Utara, dan Gorontalo.

Di sisi lain, tetap menargetkan pengembangan ketiga komoditas tersebut selama lima tahun ke depan. Irmi mengatakan, khusus untuk karet target peremajaan 700.000 ha serta kelapa dan kakao masing-masing 500.000 ha.

Irmi mengatakan kemungkinan untuk merealisasikan target tersebut, pemerintah pusat akan meminta bantuan kepada pemerintah daerah. Pasalnya, kalau ketergantungan dengan dana dari pusat hal tersebut sulit terealisasi.

Skema penghimpunan dana seperti halnya kelapa sawit juga menjadi opsi lain. Namun, kata Irmi, masih perlu banyak diskusi dan pembahasan sebelum ketuk palu. Dia pun mengatakan belum dapat memastikan kapan skema tersebut bisa terealisasi untuk karet, kakao dan kelapa.

"Saya tidak bisa bilang tahun depan iya atau tidak, karena perlu dibahas lagi dan dipersiapkan infrastrukturnya.Kalau peremajaan benar dilakukan paling tidak untuk kakao seluas 500.000 ha butuh Rp10 triliun. Total itu baru tahun pertama," katanya. ***

Bisnis.com, 27/12/2018

-----------------------------------------------------------------------------

1.200 HA KEBUN KARET DI SUMSEL DIREMAJAKAN TAHUN DEPAN

Sebanyak 1.200 ha kebun karet di Sumatera Selatan akan diremajakan pada tahun 2019. Ribuan hektar kebun karet itu diremajakan dengan menggunakan dana dari APBN sebesar Rp 13 miliar.

Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpiyan mengatakan pemerintah mengucurkan alokasi dana itu untuk peremajaan demi meningkatkan produksi di tingkat petani karet.

"Awal tahun 2019 dananya sudah mulai dikucurkan, jumlah ini meningkat cukup besar jika dibandingkan anggaran dana tahun 2018. Di mana pada tahun 2018 Sumsel cuma dapat Rp 4 miliar dengan lahan replanting 410 ha," ujar Rudi, Senin (17/12/2018).

Peningkatan tersebut, kata Rudi, sebagai salah satu komitmen pemerintah dalam meningkatkan produktivitas karet petani. Meskipun, sejauh ini peremajaan yang dilakukan belum langsung mendukung kebutuhan petani secara keseluruhan.

"Kalau catatan kami, jumlah kebun karet yang masuk kategori tanaman tua atau rusak itu mencapai 192.222 ha. Itu dari total lahan perkebunan karet yang ada di Sumsel mencapai 1,3 juta ha lebih," katanya.

Hampir serupa dengan replanting sawit, nantinya petani karet juga mendapatkan subsidi APBN sekitar Rp 25 juta/ha. Hal ini pun dibatasi maksimal 2 ha untuk setiap petani.

Sementara berdasarkan Pusat Penelitian Karet Sumbawa Banyuasin, untuk sekali peremajaan kebun petani membutuhkan biaya kurang dari Rp 50 juta/ha. Artinya petani karet di Sumatera Selatan akan mendapat bantuan setengah biaya peremajaan dari pemerintah.

"Untuk satu hektare lahan, besaran dana tersebut sudah cukup untuk penyediaan benih 550 batang karet dan pupuk NPK. Termasuk racun hama, chainsaw serta beberapa kebutuhan pendukung lainnya," kata Rudi.

Untuk meringankan beban peremajaan, petani juga akan terbantu dengan cara menjual batang karet tua. Di mana tiap 100 batang karet dihargai Rp 16 jutaan.

"Untuk penyerahan bantuan nanti akan diserahkan melalui kelompok. Jadi tiap petani yang tergabung pada kelompok tani akan mendapatkan bagian secara bertahap mulai awal tahun," katanya.

Sambil menunggu karet dapat dipanen getahnya dalam kurun waktu 4-5 tahun, petani juga akan mendapat bimbingan tumpang sari dengan menanam seperti kopi, jagung, singkong dan tanaman lain.***

Detik.com, 17/12/2018

---------------------------------------------------------------------------------------- 

RATUSAN HEKTAR KEBUN KARET DI SAROLANGUN DIREMAJAKAN

Tercatat dari data yang dikeluarkan oleh pihak Dinas Tanaman Pangan Holtikultura Dan Perkebunan (TPHP), Kabupaten Sarolangun, sejak tahun 2017 hingga tahun ini 2018 Ratusan Hektar Kebun Karet milik masyarakat telah diremajakan.

Hal itu dikatakan oleh Kabid Perkebunan Alfian saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (31/12), bahwa bantuan itu langsung diserahkan kepada Poktan yang tersebar di beberapa Kecamatan dalam wilayah kabupaten Sarolangun yakni Kecamatan Sarolangun, Pauh, Air Hitam, dan Singkut Serta Bathin VIII.

“Sejak Tahun 2017 lalu sampai sekarang kurang lebih 390 ha,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa replanting karet tersebut, menggunakan dana APBN yang dikelola langsung oleh pihak Provinsi, sementara Daerah lanjutnya hanya menyiapkan penerima dalam hal ini masyarakat melalui kelompok tani.

“kita hanya menerima barang saja dan hanya menentukan kelompok tani, anggrannya dari APBN provinsi,” terangnya.

Dijelaskan, bahwa tidak hanya bibit saja yang dibantu namun juga kelengkapan lainya seperti biaya pembersihan lahan perhektar yakni, 300 ribu per ha yang diserahkan langsung kepada Poktan, Pupuk, Herbisda, Singso persepuluh hektar satu Singso atau Alat pemotong.

“itu baru tahun ini saja, doakan saja tahun depan berkemungkinan luasan lahan akan bertambah mencapai 400 ha dari sebelumnya,” terangnya lagi.

Sisi lain, dia juga mengakui untuk memberikan bantuan repalanting tersebut pihaknya mengalami kesulitan dikarenakan harga getah karet yang tidak kunjung mengalami kenaikan, sehingga masyarakat banyak yang menolak dan meminta bibit kelapa sawit.

“Masyarakat banyak nolak karena harga karet rendah jadi mereka banyak meminta bibit Sawit, tapi iya itu tadi kita hanya dibantu karet oleh provinsi, untuk bantuan lainya kita terus berjuang menjemput bantuan Kopi, Coklat, Merica,” tandasnya. ***

Pena Jambi.com , 31/12/2018

--------------------------------------------------------------------------------------

 GAPKINDO BERHARAP HARGA KARET KEMBALI KE NILAI FUNDAMENTALNYA

Keputusan negara-negara produsen karet yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) untuk memperbaiki harga karet alam (NR) global disambut positif industri karet dalam negeri. Keputusan ini diharapkan dapat mengembalikan harga karet global sesuai nilai fundamentalnya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo mengatakan, anggota ITRC yang terdiri dari Thailand, Indonesia dan Malaysia telah berhasil mengidentifikasikan akar persoalan yang membuat harga karet tak kunjung naik selama bertahun-tahun. Kondisi ini dinilai positif karena ketiga negara akan segera mengambil langkah konkrit dalam waktu dekat untuk mengembalikan harga karet sesuai nilai kewajarannya.

"Kami menunggu dengan harapan positif agar ITRC dapat menentukan kebijakan yang tepat, yang bisa mengembalikan harga karet ketingkat yang sewajarnya, yang searah dengan gambaran fundamental sebenarnya,"ujar Moenardji kepada KONTAN, Kamis (13/12) malam.

Moenardji berharap, ketiga negara produsen karet ini akan mengambil kebijakan yang bisa menyadarkan pelaku pasar global akan kondisi yang riil harga karet yang sebenarnya.

"Pelaku Industri Gapkindo menunggu, mengharapkan dan akan mendukung keputusan ITRC karena pelaku Industri Gapkindo juga tidak nyaman dengan kondisi harga yang tertekan karena telah ikut menurunkan motivasi petani," tambahnya.

Ia melanjutkan, industri pengolahan Crumb Rubber dan petani itu, ibarat dua stakeholder nasional yang berada dalam satu kapal, yang dalam posisi tertekan oleh kondisi pasar karet dunia yang ternyata dilatarbelakangi oleh gambaran yang semu. Tidak akurat dan menyesatkan.

Karena itu, Gapkindo menunggu langkah ITRC selanjutnya. "Kami Gapkindo mendampingi delegasi Pemerintah dalam perundingan ITRC di mana pemerintah selalu mengupayakan terobosan yang terbaik bersama Thailand dan Malaysia,"tandasnya.

Tiga negara anggota ITRC melakukan pertemuan di Putrajaya, Malaysia pada 12-13 Desember 2018. Ketiga negara tersebut membahas penurunan harga karet yang berkepanjangan. Mereka sepakat harga karet sudah tidak wajar dan dikendalikan spekulan, sehingga pergerakan harga karet tidak didasarkan pada data yang akurat.

Karena itu, pada akhir tahun ini, ITRC akan mengambil langkah kongkret untuk memperbaiki harga karet dan menerapkannya pada awal tahun 2019. Mereka berharap pada tahun depan, harga karet kembali naik dan membawa kesejahteraan bagi jutaan petani. ***

KONTAN.co,id, 13/12/2018

----------------------------------------------------------------------------

SPEKULAN DIDUGA PERMAINKAN HARGA KARET GLOBAL!

Tiga negara anggota Dewan Karet Tripartit Internasional (International Tripartite Rubber Council/ITRC) yakni Indonesia, Thailand dan Malaysia menggelar pertemuan di Putrajaya, Malaysia, pada 12-13 Desember 2018.

Ketiga negara membahas harga karet alam yang terus anjlok di pasar internasional secara berkepanjangan dan tidak sesuai dengan fakta yang ada.

Pertemuan tersebut juga berusaha menganalisa situasi pasar karet global saat ini serta fundamental pasarnya, yakni suplai dan permintaan karet.

"Ketiga negara menyatakan kekhawatirannya bahwa pasar karet dunia telah dipengaruhi persepsi yang didasarkan pada data yang tidak akurat. Padahal, neraca suplai dan permintaan karet alam saat ini masih menunjukkan keseimbangan yang sehat," tulis siaran pers resmi ITRC, Kamis (13/12/2018).

Menurut ITRC, harga karet di berbagai pasar komoditas saat ini tidak mencerminkan fundamental pasar yang ada.

Harga rendah di bawah biaya produksi yang terus-menerus terjadi secara langsung telah berdampak buruk bagi pendapatan dan kesejahteraan jutaan petani karet dari seluruh negara produsen.

Sebagai upaya cepat tanggap untuk memperbaiki situasi pasar karet global yang dapat menguntungkan petani, pejabat dari ketiga negara anggota akan bertemu di akhir bulan ini untuk menetapkan langkah-langkah perdagangan (measures) yang akan diimplementasikan di awal 2019.

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Moenardji Soedargo, mengungkapkan hal yang sama bahwa telah terjadi gambaran fundamental suplai dan permintaan karet global yang tidak sesuai kondisi riil dan akhirnya didominasi spekulan.

"Seringkali terjadi ketidakakuratan dalam hal ini yang akhirnya menciptakan kesan seolah-olah suplai karet di tingkat global berlebihan [oversupply]," kata Moenardji kepada CNBC Indonesia, beberapa waktu lalu.

Selain itu, tata cara perdagangan (trading syle) komoditas karet di tingkat internasional menurut Moenardji seringkali cenderung tidak mencerminkan harga yang sebenarnya.

"Ini debatable dan tidak selalu masuk akal dan akhirnya menciptakan faktor terakhir, yakni spekulan. Harga menjadi tertekan," cetusnya.

Data Asosiasi Negara Produsen Karet Alam (Association of Natural Rubber Producing Countries/ ANRPC) mengestimasi produksi masing-masing negara anggota ITRC sepanjang tahun ini sebesar 4,819 juta ton (Thailand), 3,774 juta ton (Indonesia) dan 600 ribu ton (Malaysia).

Secara bersama-sama, ketiga negara menguasai sekitar 66% dari produksi karet global 2018 yang diproyeksi mencapai 13,895 juta ton.

Pertemuan ITRC di akhir bulan ini kemungkinan juga akan membahas masuknya Vietnam sebagai negara anggota keempat. Data ANRPC menyebutkan produksi karet alam Vietnam di tahun ini diproyeksi mencapai 1,1 juta ton.

Apabila digabungkan, maka keempat negara ini secara bersama-sama akan memproduksi sekitar 10,293 juta ton atau 74% dari seluruh produksi karet global.

"Dengan bergabungnya Vietnam, keempat produsen utama ini dapat lebih berperan aktif dalam mengendalikan suplai dan akhirnya mengontrol harga karet di pasar internasional agar lebih stabil," kata Moenardji.***

CNBC Indonesia, 14/12/2018

-------------------------------------------------------------------------------

NAIK TURUN HARGA KARET SEPANJANG 2018

Kekhawatiran atas prospek pertumbuhan ekonomi global dan gejolak harga minyak mentah menjadi perhatian utama di antara berbagai faktor yang memengaruhi pergerakan harga karet di bursa Tokyo sepanjang tahun 2018.

Pada akhir perdagangan Jumat (21/12/2018), pergerakan harga karet untuk kontrak teraktif Mei 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup melemah 0,75% atau 1,30 poin di level 173 yen per kg.

Harga karet terseret aksi jual meluas yang melanda pasar ekuitas di seluruh dunia di tengah rentannya sentimen untuk aset-aset berisiko akibat kekhawatiran mengenai pertumbuhan global.

Pasar saham dunia melanjutkan aksi jualnya pada perdagangan Jumat ketika prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve semakin meresahkan investor bahwa pertumbuhan ekonomi global sedang melambat.

Menambah kekhawatiran pasar adalah laporan dakwaan oleh Departemen Kehakiman AS terhadap beberapa warga China atas tuduhan operasi spionase yang telah berlangsung selama satu dekade untuk mencuri kekayaan intelektual dan data lainnya dari perusahaan-perusahan di AS.

Meski Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin telah menegaskan bahwa kasus ini tidak terkait dengan negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung antara AS dan China, pasar tetap mengkhawatirkan dampaknya terhadap eskalasi tensi antara dua ekonomi terbesar di dunia ini.

“Tensi antara AS dan China dilihat negatif bagi [prospek] pertumbuhan China dan permintaan untuk bahan-bahan bakunya,” terang Makiko Tsugata, analis di Mizuho Securities, seperti dilansir Bloomberg.

Senada dengan Tsugata, Senior Research and Analyst PT Asia Tradepoint Futures, Andri Hardianto, mengutarakan prospek perlambatan ekonomi global utamanya terkait dengan perang dagang AS-China menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi komoditas pada umumnya.

“Saat ini memang AS-China sedang berada dalam masa jeda 90 hari [untuk bernegosiasi dan tidak mengenakan tarif lebih lanjut], tetapi jika perang dagang AS-China berlanjut [setelah periode itu berakhir], maka akan memengaruhi momentum pertumbuhan ekonomi,” jelas Andri saat dihubungi Bisnis.com.

Pertumbuhan ekonomi yang tersendat, lanjutnya, sudah pasti berdampak pada prospek permintaan global dan akhirnya pada harga komoditas.

Di tengah kekhawatiran geopolitik ini, harga karet juga terdampak oleh pergerakan nilai tukar yen terhadap dolar AS. Berkurangnya daya tarik aset berisiko mendongkrak minat investor terhadap yen sebagai aset safe haven dalam beberapa waktu terakhir.

Apresiasi nilai tukar yen diketahui membuat harga komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang ini menjadi relatif lebih mahal bagi para pembeli luar negeri. Alhasil, permintaan akan komoditas ini berpotensi menyusut.

Sebaliknya, tak jarang harga karet diuntungkan dari pelemahan nilai tukar yen terhadap dolar AS, salah satunya setelah pemerintah AS dan China dikabarkan mencapai kesepakatan 'gencatan senjata' pengenaan tarif pada 1 Desember.

“Minat investor untuk kontrak berjangka karet meningkat seiring melemahnya mata uang Jepang yang membuat komoditas berdenominasi yen ini lebih terjangkau bagi pembeli asing,” ujar Kazuhiko Saito, analis perusahaan broker Fujitomi.

Mengingat perannya sebagai bahan baku pembuatan ban, karet jelas juga mendapatkan keuntungan atas terdorongnya prospek permintaan dari para eksportir ban.

Awal bulan ini saja, harga karet terdongkrak antisipasi bahwa permintaan dari eksportir-eksportir ban dapat meningkat setelah China berjanji untuk menindaklanjuti ‘gencatan senjata’ perdagangan yang dicapai dengan AS di Buenos Aires, Argentina.

“Hal tersebut telah mendorong optimisme pertumbuhan pengiriman ban ketika volume mobil yang tidak terjual di China mencapai level tertinggi yang pernah ada,” kata Zhang Weiwei, analis New Era Futures.

Penjualan mobil di China telah menurun selama lima bulan berturut-turut dan berada di jalur untuk penurunan pertama secara tahunan dalam setidaknya dua dekade saat konflik perdagangan dengan AS membebani permintaan dan daya belanja.

Namun, Zhang juga mengingatkan bahwa penguatan harga dapat terjadi sementara karena secara fundamental belum terlihat adanya peningkatan saat kondisi kelebihan suplai bertahan, utamanya di China.

Jumlah stok karet yang dimonitor oleh Shanghai Futures Exchange dilaporkan berekspansi 4,9% pekan lalu, peningkatan terbesar sejak November 2017.

Efek Minyak & Harapan Pengendalian Produksi

Setelah mengawali tahun ini dengan pergerakan yang relatif kuat, harga minyak mentah kian merosot karena tak mampu membendung ancaman sentimen kelebihan pasokan.

Sepanjang tahun berjalan hingga perdagangan 21 Desember 2018 (year-to-date) harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat telah melorot sekitar 22%.

Tajamnya kemerosotan harga minyak mentah serta merta menyeret harga karet turun karena membebani ekspektasi bahwa harga karet sintetis juga akan melemah. Sepanjang periode yang sama (year-to-date) harga karet di bursa Tocom telah merosot sekitar 28%, berdasarkan data Bloomberg.

Seperti diketahui, karet sintetis yang menjadi bahan subtitusi utama karet alam dibuat dari polimer turunan minyak, sehingga pergerakan harganya jelas dipengaruhi harga minyak yang menjadi bahan baku asalnya.

“Harga minyak mentah yang lebih rendah membebani karet,” ujar Gu Jiong, analis di perusahaan broker Yutaka Shoji.

Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan kaitan antara minyak dan karet sangat dekat dan korelasional, meskipun derajatnya bervariasi pada kerangka waktu tertentu.

“Pelemahan minyak tentu menekan karet dan bisa juga sebaliknya. Secara medium term atau untuk tahun berjalan 2018, relasi [antara karet dan minyak] masih dekat, cenderung lemah,” jelasnya kepada Bisnis.com.

Kendati demikian, karet mampu membatasi pelemahan yang dialaminya didukung wacana pemangkasan ekspor oleh tiga negara penghasil karet top dunia dalam beberapa waktu terakhir.

Harga karet kontrak Mei 2019 di bursa Tocom bahkan mengakhiri perdagangan Kamis (20/12) dengan lonjakan nyaris 2% di tengah ekspektasi bahwa Thailand, Malaysia, dan Indonesia akan mencapai kesepakatan dalam langkah-langkah pengendalian produksi guna menopang harga karet.

“Harga kembali pulih setelah sejumlah produsen utama mempertimbangkan mengambil langkah-langkah tambahan untuk mendorong pasar,” kata Takaki Shigemoto, analis di perusahaan riset JSC.

Pejabat otoritas dari masing-masing ketiga negara tersebut dijadwalkan akan bertemu sebelum akhir tahun demi mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan harga mulai awal 2019.

Berdasarkan data Bisnis, Indonesia telah menyuarakan kembali pengendalian volume ekspor karet oleh anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) demi mendongkrak harga komoditas perkebunan tersebut.

Tahun lalu, dalam pertemuan yang digelar di Bangkok, Thailand pada 22 Desember 2017, ketiga negara produsen karet sepakat untuk memangkas volume ekspor karet sebesar 350.000 ton melalui kerangka Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) atau pembatasan ekspor karet sampai dengan Maret 2018.

Dalam pembatasan tersebut, Indonesia mendapatkan jatah untuk memangkas ekspor karetnya hingga 95.190 ton, Thailand 234.810 ton, dan Malaysia 20.000 ton. Namun, upaya tersebut gagal mengerek harga karet secara signifikan.

Pasalnya, harga karet di Tokyo Commodity Exchange pada akhir Maret 2018 hanya mencapai 187,86 yen/kg, jauh di bawah harga tertinggi yang pernah dicapai selama 5 tahun terakhir pada Januari 2017 yang menyentuh 295 yen/kg.

“Hasil evaluasi kami beberapa waktu lalu, ada kebocoran dan ketidakpatuhan di tingkat produsen di 3 negara dalam melaksanakan AETS. Untuk itu, pertama-tama kami akan menegaskan pentingnya kepatuhan demi kepentingan bersama produsen karet,” terang Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo.

Untuk itu, salah satu upaya paling mendesak yang perlu dilakukan oleh ITRC adalah menarik Vietnam untuk masuk menjadi anggota ITRC.

“Saat ini, 3 negara anggota ITRC hanya mampu menguasai pasar karet global sebesar 71%. Namun, pangsa pasar karet yang dikuasai bisa meningkat menjadi 90% apabila Vietnam bergabung dalam ITRC,” jelas Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane, seperti diberitakan Bisnis.com.

Menurut Analis PT Asia Tradepoint Futures, Andri Hardianto, kesepakatan yang dicapai ITRC tentunya akan menopang harga karet yang telah terbebani pelemahan harga minyak mentah.

Namun, ia mengingatkan bahwa seperti halnya OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) beserta sekutu-sekutunya, keberhasilan kesepakatan ITRC akan ditentukan oleh tingkat kepatuhan masing-masing anggotanya.

“Tidak boleh memikirkan kepentingan masing-masing, ketiga negara [atau jika ditambah dengan Vietnam] harus sama-sama mematuhi kesepakatan itu,” ujar Andri.

Sementara itu, Analis Wahyu Tribowo Laksono menambahkan bahwa faktor terkait pelemahan minyak dan permintaan masih akan menjadi ancaman bagi pergerakan harga karet di masa mendatang.

“Jika ITRC tegas soal kebijakan pemangkasan rebound karet pun bisa kuat. Hanya saja faktor pelemahan minyak dan permintaan masih akan menjadi ancaman bagi karet ke depan, salah satunya sentimen negatif dari China,” jelas Wahyu.

Hal ini mengingat peran penting China terhadap pasar karet alami dengan kontribusinya sekitar 40% dari konsumsi global. Oleh karenanya, perkembangan perdagangan China dengan AS berikutnya perlu dicermati karena berdampak pada sentimen permintaan. ***

Bisnis.com, 22/12/2018

-------------------------------------------------------------------------------------

PRODUSEN KARET THAILAND MINTA PEMERINTAH PERPANJANG KAMPANYE ‘TOKO UNTUK BANGSA’

Kalangan produsen karet di Thailand mendesak pemerintah untuk memperpanjang kampanye ‘Toko untuk Bangsa untuk mendorong penjualan produk-produk berbasis karet.

Berbicara setelah pertemuannya dengan perwakilan dari industri karet pada Jumat, Menteri Pertanian dan Koperasi Grisada Boonrach mengatakan para pengusaha karet, petani dan penyadap meminta pemerintah untuk meperpanjang kampanye “Toko untuk Bangsa’ yang akan berakhir pada tanggal 16 Januari 2019 untuk periode 3-6 bulan berikutnya. Permintaan itu dilakukan karena mereka telah melihat dan merasakan adanya kenaikan penjualan lateks 2.000 ton sebagai dampak dari pelaksanaan kampanye tersebut. Kenaikan volume penjualan lateks tersebut setara dengan total penjualan lateks sejak Januari 2018. Jika pemerintah meperpanjang kampanye tersebut mereka yakin pasar akan mampu menyerap lateks hingga 7,000 ton.

Perwakilan industri karet juga mengusulkan agar lembaga pemerintah membeli produk-produk berbasis karet seperti bantal, matras, dan boneka/alat peraga untuk rumah sakit. Mereka meyakinkan bahwa dengan bantuan lembaga pemerintah tersebut maka kelebihan pasokan karet akan berkurang sekitar 200.000 ton.   

Grisada mengatakan sebuah komite akan segera ditunjuk untuk mengkaji proposal tersebut sedangan usulan mengenai perpanjangan kampanye ‘Toko untuk Bangsa’ akan dibahas dalam siding kabinet  minggu berikutnya. ***

Global Rubber Market.com, 08/12/2018

--------------------------------------------------------------------------------------

DEWAN KARET INDIA PERPANJANG BATAS AKHIR SUBSIDI PENANAMAN

Dewan Karet India telah mengumumkan bahwa batas akhir untuk menyerahkan pengajuan permohonan bantuan finansial untuk peremajaan dan penanaman baru oleh petani di bawah Skema Pembangunan Perkebunan Karet diperpanjang hingga 31 Januari 2019.

Permohonan pengajuan bangtuan finansial itu diperuntukkan bagi kegiatan peremajaan dan penanaman kebun karet baru yang dilakukan pada tahun 2017. Permohonan dalam bentuk isian formulir tersebut yang dilengkapi dengan dokumen mengenai areal kebun karet dimaksud harus sudah diterima di kantor pembangunan regional Dewan Karet India pada atau sebelum tanggal 31 Januari 2019. Formulir aplikasi dapat diunduh dari website Dewan Karet India www.rubberboard .org.in.

Di wilayah penanaman karet tradisional di negara bagian Kerala dan Tamil Nadu, petani yang memliki luas areal kebun karet total 2 ha atau kurang termasuk peremajaan atau penanaman baru selama tahun berjalan diperbolehkan untuk mendapatkan bantuan untuk luasan hingga 1 ha. Bantuan finansial tersebut berupa uang senilai 25.000 rupee per ha untuk peremajaan dan penanaman baru termasuk 5.000 rupee untuk biaya bahan tanaman.

Untuk wilayah penanaman karet non-tradisional dan wilayah India Timur Laut, petani dengan kepemilikan areal penanaman karet 5 ha atau kurang termasuk kegiatan karet baru atau peremajaan selama tahun berjalan bisa mendapatkan bantuan keuangan penanaman untuk areal dengan luasan hingga 2 ha. Bantuan keuangan tersebut sebesar 40.000 rupee per ha untuk peremajaan dan penanaman baru termasuk 5.000 rupee untuk biaya bahan tanam bersertifikat. ***

Rubber Asia.com, 02/01/2019

--oo00oo--