Prediksi 2019 : Produksi Karet Lesu

 

JAKARTA — Pelaku usaha memperkirakan produksi karet alam tahun ini belum kunjung membaik seiring dengan masih lesunya pasar komoditas tersebut secara global. Tahun lalu, pertumbuhan produksi karet hanya meningkat tipis, yakni 1,2%.

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) mencatat produksi karet pada Januari—November 2018 mencapai 3,674 juta ton atau hanya meningkat 1,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 3,629 juta ton.

“[Pada] 2019 ini trennya (produksi] mestinya turun karena harga terlalu rendah, petani kurang motivasi. Jadi, kalau nanti bisa sama saja dengan 2018 atau lebih baik sedikit, kita sudah senang, ujar Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo kepada Bisnis, Senin (11/2).

Peningkatan produksi ini, menurutnya, hanya bisa dicapai jika terjadi penaikan harga karet internasional seperti di Bursa Komoditas Singapura (Singapore Commodity Exchange /Sicom) setidaknya ke level US$150 sen—US$160 sen per kilogram.

Adapun, Gapkindo mencatat serapan karet alam dalam negeri mencapai 660.000 ton per 2018 atau meningkat 4,8% dari tahun sebelumnya sebesar 629.800 ton.

Seperti diketahui, pemerintah berencana menaikkan serapan karet dalam negeri melalui pemanfaatannya sebagai campuran aspal. Sejumlah rapat dengan para pihak terkait pun telah dilaksanakan.

Selain itu, Kementerian Pertanian juga menyiapkan anggaran untuk peremajaan karet yang mencakup areal seluas 5.210 ha.

Target tersebut meningkat dibandingkan dengan tahun lalu yang peremajaannya hanya 2.090 hektare.

Hal lain yang berpotensi mendorong produksi adalah rencana penggelontoran subsidi oleh pemerintah bagi para petani karet.

Maka dari itu, pemerintah akan mengguyur petani karet di Sumatra Selatan dengan subsidi sarana produksi dan subsidi tunai paling lambat awal Maret 2019.

Kabar gembira bagi petani karet itu disampaikan langsung oleh Gubernur Sumsel Herman Deru usai menghadiri rapat terbatas dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basoeki Hadimoeljono, serta Ketua Umum Gapkindo Moenarji Soedargo dan Wakil Ketum Gapkindo Alex K. Eddy di Kediaman Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, di Jakarta, Senin (1/2) pagi.

Deru mengatakan pemerintah, terutama presiden, sangat memerhatikan harga karet di tingkat petani.

“Makanya tadi dalam rapat ada dirumuskan formula baru dan saya juga mengusulkan ide untuk memberikan subsidi tunai. Jadi nanti petani karet akan diberi subsidi saprodi (sarana produksi) dan subsidi tunai,” katanya dalam keterangan pers, Senin (1/2).

Deru memaparkan pemberian bantuan subsidi itu paling lambat akan dilakukan awal Maret 2019 dan pihaknya sebagai pelaksana di lapangan akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian.

Dengan dua macam subsidi saat ini dan jangka menengah, kata Deru, diharapkan tak hanya produksi karet petani yang meningkat tapi juga pendapatan mereka.

Gubernur menjelaskan jika saat ini harga karet Rp 6.000 per kg - Rp 7.000 per kg, dengan subsidi saprodi biaya produksi petani bisa berkurang Rp1.000 per kg. “Selain itu diitambah lagi subsidi tunai Rp1.000 per kg, saya yakin pendapatan petani akan naik.”

Di sisi lain, kendati tidak mau berkomentar banyak terkait penyaluran subsidi ini, Moenardji berpendapat bahwa adanya subsidi dari pemerintah akan meringankan beban petani.

“Tetap diupayakan oleh semua pihak untuk memperbaiki harga di tataran internasional dan kalau mungkin kemudian diparalelkan program-program pemerintah itu, mungkin keduanya ini akan bisa membantu memberikan sumringah kepada petani,” ujarnya.

PEMBELIAN LANGSUNG

Deru mengatakan bahwa sebetulnya, pemerintah sudah melakukan pembelian langsung karet ke petani di Kawasan Betung, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Karet-karet tersebut dibeli langsung untuk tambahan campuran aspal seharga Rp 8.500 per kg.

Gubernur mengemukakan saat ini Sumsel masih menjadi daerah penyumbang penghasil karet terbesar di Indonesia mencapai 30%. Oleh karena itu, petani karet Sumsel mendapat perhatian yang cukup besar dari pemerintah. Subsidi tunai yang diusulkan tadi akan memperjelas bahwa bantuan ini bentuk perhatian dari pemerintah.

Dia mengatakan antisipasi pemerintah ini sangat tepat agar jangan sampai petani- petani karet menjadi tidak bersemangat mengelola lahan pertaniannya.

Oleh karena itu, Pemprov sebagai pelaksana di lapangan memastikan secepatnya penyaluran subsidi ini akan direalisasikan.

Sementara itu, berdasarkan data dari Gapkindo Sumsel, produksi karet Sumsel mencapai 1,24 juta ton pada 2017. Jumlah tersebut menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 1,08 juta ton.

“Namun demikian, Kita (Sumsel) masih menjadi penyumbang karet terbesar di Indonesia,” ujar Ketua Gap kindo Sumsel Alex Eddy.

Selasa, 12 Februari 2019

Juli E.R.Manalu & Dinda Wulandari This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.