BERITA KARET FEBRUARI 2019

  1. RI dan Malaysia Usulkan Pembatasan Ekspor 300.000 Ton Karet
  2. 2019, produksi karet diramal capai 3,8 juta ton
  3. Kumpulkan Pejabat, Darmin Putar Otak Dongkrak Harga Karet
  4. Solusi Pemerintah Dongkrak Harga Karet Petani
  5. Pemerintah Tuding Spekulan Sebabkan Harga Karet Anjlok
  6. Pemerintah Bakal Perluas Aspal Karet Hingga ke Jalan Daerah
  7. Lonjakan Harga Minyak Picu Kenaikan Harga Karet
  8. Gapkindo Minta Pemerintah Negosiasi Pembatasan Ekspor Karet
  9. Thailand Babat Pohon Karet untuk Mengejar Target Penurunan Produksi 30%

-----------------------------------------------------------------

RI dan Malaysia Usulkan Pembatasan Ekspor 300.000 Ton Karet

Tiga negara  produsen utama karet yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) yakni Indonesia, Malaysia, dan Thailand mengusulkan pembatasan ekspor  300.000 ton karet ke pasar luar negeri. Pembatasan itu bertujuan untuk meningkatkan harga karet yang sempat merosot pada 2018.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan menyatakan perkiraan pembatasan volume 300.000 ton telah melalui penghitungan oleh tim teknis. "Belum ada keputusan penerapannya, tetapi perkiraannya sebesar itu," kata Oke dalam sambungan telepon, Rabu (16/1).

Dia menjelaskan keputusan itu  belum bisa diterapkan karena  masih harus menunggu pertemuan antara ketiga negara ITRC.  Pertemuan tersebut semula dijadwalkan digelar akhir pekan ini, namun agaknya harus ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.

Meski demikian,  Indonesia dan Malaysia menurutnya sudah menyetujui usulan  pembatasan ekspor tersebut. "Tinggal menunggu persetujuan dari Thailand," ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),  ekspor karet dan produk ekspor karet sepanjang 2018 tercatat sebesar US$ 6,3 miliar, turun 17,65% dari ekspor tahun 2017 yang mencapai US$ 7,74 miliar. Karet merupakan komoditas ekspor terbanyak kelima Indonesia.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo menyebutkan produksi karet tahun lalu tercatat sebanyak 3,67 juta ton, naik 1,2% dari capaian produksi 2017 sebesar 3,62 juta ton. Meski demikian, volume ekspor turun 8,75% menjadi 2,99 juta ton dari 3,27 juta ton pada periode yang sama.

Secara nilai, Gapkindo menyebutkan ekspor karet sepanjang tahun lalu mencapai sebesar US$ 4,22 miliar, merosot 24,9% menjadi US$ 5,59 miliar pada 2017. "Pengaturan ekspor itu bertujuan agar harga karet kembali layak ," kata Moenardji.

Pergerakan harga karet per awal tahun ini sudah mulai membaik di level US$ 1,35 per kilogram sampai US$ 1,40 per kilogram dibanding Desember yang masih di kisaran US$ 1,20 per kilogram.

Adapun  sepanjang 2018, harga rata-rata harga karet mencapai sebesar US$ 1,41 per kilogram, turun 17,5% dari US$ 1,71 per kilogram. "Harga sudah mulai membaik, tetapi semoga bisa mencapai nilai fundamental," ujarnya.

Katadata.co.id 16/1/2019 

 --------------------------------------------------------

2019, produksi karet diramal capai 3,8 juta ton

Laju pertumbuhan produksi karet selama empat tahun ke depan diprediksi akan tumbuh berkisar 3,5% setiap tahunnya. Namun produksi bisa saja dibawah target. Sebab, saat ini petani karet mulai memilih enggan menanam karet. Sementara, pasar ekspor juga menahan diri membeli produksi karet nasional.

Direktorat Jendral Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) memprediksi produksi karet naik sekitar 3,5%. Rinciannya, pada tahun 2015 produksi karet sebesar 3,32 juta ton.

Lalu 2016 sebesar 3,43 juta ton, 2017 sebesar 3,68 juta ton. 2018 sebesar 3,68 juta ton dan terakhir pada 2019 sebesar 3,8 juta ton.

Lukman Zakaria, Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKARINDO) mengatakan, target produksi yang dicanangkan tidak realistis. Sebab, praktiknya di lapangan saat ini petani urung menanam karet.

Petani karet mulai beralih ke tanaman komoditas lain yang harganya lebih tinggi ketimbang karet. Persoalan harga menjadi masalah sensitif di kalangan petani untuk tetap semangat menanam karet.

Belum lagi soal infrastruktur misalnya jalan, transportasi dan izin perluasan lahan. Kalau persoalan tersebut masih jadi kendala sulit untuk mencapai target produksi yang berakhir dengan 3,8 juta ton.

Sementara harga karet belum juga menunjukkan tanda-tanda kenaikan membuat petani karet mengalihkan tanaman lain. Misalnya, kelapa sawit, palawijaya dan singkong. Hal ini telah terjadi di Sumatera Selatan dan Lampung yang telah menjadi sentra produksi karet.

Penyebabnya karena harga karet yang mencatat harga terendah sepanjang empat tahun terakhir. Pada tahun 2011 Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) mencatat harga karet sempat mencapai US$ 5 per kilogram (kg).

Lalu pada tahun 2012 mengalami penurunan hingga US$ 3 per kg dan bertahan sampai tahun 2013. Terakhir pada tahun 2014 melandai hingga mencapai US$ 2 per kg.

Padahal harga karet yang baru dirasakan petani untung mencapai US$ 3 per kg. Harga hingga Desember bertengger di kisaran US$ 1,48 per kg. Penyebabnya, negara-negara tujuan ekspor karet Indonesia menahan diri membeli komoditas ekspor terkait stock karet yang melimpah.

Terkendala perluasan lahan

Disamping itu, upaya meningkatkan produktifitas karet juga terkendala soal perluasan lahan. Lukman mengatakan, petani karet terdesak untuk memperluas lahan. Soalnya, petani kalah cepat dengan pengusaha yang membeli lahan.

“Tambahan lahan 0,5 ha sulit jadi memang tidak mungkin produksi bisa naik sebegitu tinggi. Paling berkisar di 3,2 juta ton sampai 3,3 juta ton setiap tahunnya,” jelas Lukman.

Kontan, 04/01/2019 

--------------------------------------------------------

Kumpulkan Pejabat, Darmin Putar Otak Dongkrak Harga Karet

Pemerintah sampai saat ini masih mencari cara agar harga karet dapat meningkat dan tetap memberikan keuntungan bagi petani. Maka dari itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pagi ini kembali mengumpulkan beberapa pejabat untuk rapat koordinasi (rakor) karet.

Berdasarkan agenda yang didapatkan detikFinance, Jumat (11/1/2019), rakor karet diagendakan pukul 09.00 WIB di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat. Adapun, peserta yang sudah hadir adalah Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Dapat diketahui, rakor karet saat ini bukan yang pertama kali dilakukan oleh pemerintah. Pada awal pekan ini, Darmin juga memimpin rapat yang sama dan telah menghasilkan solusi untuk meningkatkan harga karet.

Pemerintah akan menyerap 2.000 ton karet lokal untuk dicampur ke penggunaan aspal. Langkah ini dilakukan untuk mengerek naik harga karet yang tengah jatuh.

Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Kemenhub Budi Setiadi penggunaan aspal karet akan dilakukan di beberapa daerah produksi karet, seperti Sumatera Selatan, Jambi, Medan dan Kalimantan. Dengan begitu, diharapkan harga karet bisa meningkat.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan jalan yang akan menggunakan aspal karet ada sepanjang 93,66 kilometer (km). Adapun, dari total panjang banyaknya penggunaan ada sebanyak 2.542,20 ton untuk perbaikan atau tambalan jalan rusak.

"Kita akan angkat, jadi harga karet akan naik terutama di beberapa sentra karet di Indonesia Sumatera Selatan, Jambi, Medan dan Kalimantan. Karena sekarang harga karet agak turun. Nah, kita harapkan ada terbentuk satu harga untuk masyarakat," papar dia di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (7/1/2019).

Sementara itu, harga karet sempat jatuh di angka Rp 3.000 hingga 4.000 per kilogram (kg). Padahal, seharusnya harga karet idealnya berada di angka Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per kg.

Detik Finance, 11/01/2019 

----------------------------------------------

Solusi Pemerintah Dongkrak Harga Karet Petani

Pemerintah sepakat untuk memberikan pembinaan kepada para petani karet di Indonesia agar produknya bisa diserap dengan harga yang tinggi. Sampai saat ini, harga karet dari petani masih di bawah rata-rata harga jualnya.

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Bambang mengatakan, pembinaan pemerintah kepada para petani karet tanah air adalah mengenai kualitas dari produk itu sendiri.


Pasalnya, pemerintah akan menggunakan karet dalam negeri sebagai campuran pembuatan aspal jalan.

"Ini sedang kita tindak lanjuti. Tapi kan harus ada spesifikasi teknis untuk bisa penuhi permintaan untuk dijadikan bahan dasar pengolahan karet untuk aspal. Jadi kita dorong treatment yang diberikan kepada petani," kata Bambang usai rakor karet di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Rakor karet dimulai pukul 09.00 WIB dan berlangsung sampai sekitar pukul 10.45 WIB. Turut hadir dalam rakor tersebut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan.

Dalam rakor itu, kata Bambang, pemerintah sudah menetapkan spesifikasi atau kualitas karet yang dijadikan sebagai campuran membuat aspal. Oleh karenanya, pembinaan terhadap petani untuk saat ini harus gencar dilakukan pemerintah.

Berdasarkan volume, kata Bambang, produksi karet nasional sebesar 3,7 juta ton. Sedangkan yang dibina pemerintah sebesar 220 ribu ton dan ini yang harus disesuaikan kualitasnya dengan ketentuan Kementerian PUPR dan Kementerian Perindustrian sebagai campuran aspal.

"Tinggal ditingkatkan lagi kualitasnya untuk penuhi pasar dalam negeri," ujar dia.
Dengan adanya penyesuaian kualitas, maka harga jual karet di tingkat petani pun akan mengalami peningkatan sebesar Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram (kg). Harga karet sempat jatuh di angka Rp 3.000 hingga 4.000 per kilogram (kg). Padahal, seharusnya harga karet idealnya berada di angka Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per kg.

"Dengan peningkatan mutu bongkar itu menjamin peningkatan harga Rp 5.000 per kg," ujar dia.


Tidak hanya itu, penetapan harga karet untuk campuran aspal diharapkan sebesar Rp 9.000-Rp 10.000 per kg. Sehingga ada keuntungan yang wajar didapat para petani.

"Artinya kita dorong petani hasilkan spek yang dibutuhkan itu supaya harganya bisa masuk. Jadi petani dapat untung yang wajar," tutup dia.

Detik Finance, 11/01/2019 

------------------------------------------------

Pemerintah Tuding Spekulan Sebabkan Harga Karet Anjlok

Pemerintah menilai ada hal yang beres terjadi di pasar karet internasional. Hal itu menyusul turunnya harga karet internasional. Padahal tak ada kelebihan pasokan.

"Pasti ada yang tidak beres," ujar Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Indonesia sebagai produsen karet turut terkena imbas anjloknya harga karet di pasar Internasional. Pemerintah pun sudah melakukan penelusuran mencari akar masalah itu ke bursa saham di Singapura dan China.

Usai penelusuran, pemerintah perlu adanya pembicaraan dengan pasar di Singapura dan China terkait harga karet yang terus anjlok. "Ada spekulan banyak yang memainkan informasi, sehingga kita sudah lihat stock-nya itu paling juga dua bulanan, tidak mesti menjatuhkan harga," kata dia.

Oleh karena itu ucap Darmin, pemerintah sedang mengajak Thailand dan Malaysia untuk ikut bicara soal anjloknya harga karet. "Kamj perlu duduk bersama, mengambil langkah supaya mekanisme benar," ucap Darmin.

Dalam satu tahun terakhir, harga karet mengalami penurunan. Berdasarkan data Tokyo Commodity Exchange (Tocom), harga latar level 206,80 yen per kilogram (kg) pada 4 Januari 2018 lalu. Pada November, harga karet tenggelam hingga 155,2 yen per kilogram (kg) pada 26 November 2018. Sedangkan pada 11 Januari 2019, harga karet ada di angka 183,2 yen per kg.

Kompas.com, 11/01/2019

--------------------------------------------------------------------

Pemerintah Bakal Perluas Aspal Karet Hingga ke Jalan Daerah

Pemerintah berencana memperluas penyerapan aspal karet ke jalan-jalan daerah, khususnya tingkat kabupaten/kota. Tujuannya adalah meningkatkan serapan karet dalam negeri dan menaikkan harga karet di tingkat petani.

 Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Achmad Sigit Dwiwahjono mengungkapkan kira-kira sepanjang 380.000 kilometer (km) jalan raya tingkat kabupaten dapat memanfaatkan kandungan karet sebanyak 7% dalam aspal.

"Jalan raya kabupaten itu panjangnya empat kali lipat jalan nasional. Sekitar ratusan ribu ton karet bisa diserap tergantung volume aspalnya, Kementerian PUPR yang tahu," kata Sigit usai rapat koordinasi terbatas perekonomian di Senin (21/1/2019).

Untuk itu, Kemenperin berencana memperluas kapasitas industri pengolahan karet. Seperti diketahui, ada tiga alternatif teknologi yang dapat digunakan dalam mengolah aspal karet yakni latex, masterbatch, dan skat."Ada yang sudah siap industrinya, ada beberapa yang perlu penanganan khusus," imbuhnya.

Pemerintah sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp 20 miliar untuk membeli karet sebagai campuran aspal. Anggaran tersebut dialokasikan melalui Kementerian PUPR dan diprioritaskan bagi revitalisasi aspal jalan nasional di Sumatera Selatan, Lampung, Jambi dan Sumatera Utara.

Dia menegaskan upaya pencampuran karet pada aspal dilakukan untuk meningkatkan serapan komoditas karet di dalam negeri. Dari sisi pembangunan jalan, aspal yang menggunakan campuran karet memiliki kualitas yang lebih baik, yakni daya tahannya lebih lama.

"Kan kalau di pusat sudah jalan (pemanfaatan aspal karet). Kita akan memperluas lagi untuk pemda. Pemda didorong untuk menggunakan aspal karet. Aspal karret memiliki kualitas yang lebih baik dan daya tahannya lebih lama," katanya.

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Bambang menyatakan Kementan berkomitmen meningkatkan harga karet petani. Salah satunya dengan menjadikan karet sebagai bahan campuran aspal. "Ternyata kualitas aspal yang dibuat dengan bahan campuran karet itu jauh lebih bagus dibanding sebelumnya. Tetapi kesadaran pihak untuk memanfaatkan itu yang belum ada," ujar Bambang

Saat ini, Bambang mengakui kualitas komoditas karet tidak begitu baik dan belum memenuhi standar pasar. Ini menjadi salah satu penyebab mengapa harga komoditas karet menurun. Melalui pembinaan petani untuk meningkatkan kualitas komoditas karet, serta pengolahan karet sebagai bahan campuran aspal, Bambang berharap mampu membuat harga komoditas ini naik di kisaran Rp 9.000 sampai Rp 10.000 per kg.

Data Kementerian Pertanian menyebutkan harga karet khususnya yang bermutu rendah berdasarkan kadar karet kering (K3) pada pekan awal Januari 2019 lalu, sempat menyentuh kisaran Rp6.000 per kg, hingga mampu dari posisi terendahnya di kisaran Rp 3.000-4.000 km.

Sebagai informasi saja, pada 2017-2018 Kementerian PU-Pera telah menggunakan aspal karet pada sebagian proyek preservasi Jalan Muara Beliti-Tebing Tinggi-Lahat sepanjang 125 km.Dari total panjang tersebut, terdapat 4,37 km yang menggunakan aspal karet dengan ketebalan 4 cm. Porsi bahan karet atau brown crepe yang digunakan adalah sekitar 7% atau 81 ton karet alam per km.

Kabarbisnis.com, 21/01/2019 

--------------------------------------------

Lonjakan Harga Minyak Picu Kenaikan Harga Karet

Harga karet berhasil rebound dari pelemahannya dan berakhir di zona positif pada perdagangan hari ini, Jumat (1/2/2019), di tengah meningkatnya daya tarik aset berisiko.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Juli 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup menguat 0,67% atau 1,20 poin di level 179 yen per kg, setelah berakhir melorot 1,06% di posisi 177,80 pada Kamis (31/1/2019).

Harga karet sempat melanjutkan pelemahannya ketika dibuka turun 0,11% atau 0,20 poin di posisi 177,60 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, harga karet bergerak di level 179,10–180,00.

Dilansir dari Bloomberg, harga karet menguat seiring dengan meningkatnya daya tarik untuk aset berisiko yang didorong optimisme soal perundingan perdagangan Amerika Serikat (AS)-China serta prospek penaikan suku bunga yang dovish oleh bank sentral AS Federal Reserve.

Dalam pertemuan kebijakan (FOMC meeting) selama dua hari yang berakhir pada Rabu (30/1/2019), The Fed memutuskan mempertahankan tingkat suku bunganya di 2,25%-2,50% dan berjanji akan bersabar dalam hal penaikan biaya pinjaman lebih lanjut.

The Fed juga bergeser ke sikap yang lebih dovish terkait pelepasan aset yang sedang berlangsung, dengan menyatakan siap untuk menyesuaikan rencananya berdasarkan perkembangan ekonomi dan keuangan.

Di sisi lain, China berjanji untuk memperbesar pembelian barang-barang dari Amerika Serikat (AS) setelah putaran perundingan terbaru antara kedua negara berakhir di Washington.

Kantor berita Xinhua hari ini melaporkan bahwa China setuju untuk meningkatkan impor produk-produk dan jasa pertanian, energi, maupun industri AS, meskipun tidak ada detail lebih lanjut mengenai produk dan jasa yang dimaksud.

Baik AS maupun China menyatakan telah membuat kemajuan dalam perundingan perdagangan yang telah berlangsung selama dua hari terakhir di Washington dan sepakat untuk bertemu kembali di Beijing.

“Pelaku pasar sedang dalam sentimen positif untuk aset berisiko dan itu mendorong harga naik,” ujar Naohiro Niimura, mitra di perusahaan riset Market Risko Advisory.

Dukungan lebih lanjut datang dari harga minyak mentah, yang telah melonjak lebih dari 25% dari level terendahnya pada Desember 2018, sehingga turut mendorong karet sintetis sebagai alternatif untuk karet alam menjadi lebih mahal.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2019 terpantau naik 0,17% ke level US$53,88 per barel pada pukul 14.34 WIB. Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman April 2019 naik 0,30% atau 0,18 poin ke level US$61,02 per barel.

Sejalan dengan karet di Tocom, harga karet untuk kontrak teraktif Mei 2019 di Shanghai Futures Exchange berhasilrebound dari pelemahannya dan berakhir menguat 85 poin atau 0,75% di 11.410 yuan per ton.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Juli 2019 di Tocom

Tanggal      

Harga (Yen/Kg)  

Perubahan

1/2/2019

179,00

+0,67%

31/1/2019

177,80

-1,06%

30/1/2019

179,70

+1,58%

29/1/2019

176,90

-2,10%

Sumber: Bloomberg Bisnis.com, 01/02/2019 

----------------------------------------------

Gapkindo Minta Pemerintah Negosiasi Pembatasan Ekspor Karet

Para pelaku usaha komoditas karet berharap pemerintah mengintensifkan negosiasi terkait kesepakatan pembatasan volume ekspor karet dengan negara produsen yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council. Negosiasi kesepakatan itu dinilai penting untuk menaikkan harga karet di tingkat internasional dan meluruskan persepsi pasar mengenai stok karet di pasar dunia.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo menyampaikan hal itu di Jakarta, Senin (14/01). “Pemerintah harus melakukan diplomasi dengan negara produsen karet. Gapkindo mendukung diplomasi atau negosiasi lebih intens,” kata Moenardji.

Negara produsen karet alam yang tergabung dalam  International Tripartite Rubber Council (ITRC) adalah Thailand, Malaysia dan Indonesia. Saat ini harga karet cukup rendah yakni US$ 1,4  per kilogram.

“Awal Desember lalu harganya US$ 1,2 per kilogram. Harga karet diharapkan naik ke level US$ 1,5 hingga US$ 1,6 per kilogram,” kata Moenardji.

Karena itu perlu negosiasi dengan  negara produsen karet di ITRC untuk menyepakati pembatasan ekspor agar dapat menaikkan harga komoditas karet. Dia berharap dalam jangka waktu tiak terlalu lama, kesepakatan itu sudah bisa dihasilkan oleh ketiga negara tersebut.

Penurunan harga karet di pasar internasional saat ini dinilai tidak terlepas dari pengaruh perdagangan bursa komoditas di Singapura dan stok produk karet jenis khusus atau tertentu (Standard China Whole Rubber Field/SCR-WF) di China yang menimbulkan persepsi bahwa stok produk karet jenis umum (TSR 20) yang secara volume banyak diperdagangankan dan digunakan industri pengguna, seperti industri ban, berlimpah.

Kelebihan stok karet jenis khusus di China yang berbeda dengan jenis umum (TSR 20) yang secara volume banyak diperdagangkan dan digunakan industri pabrikan, kata Moenardji, ikut memengaruhi bursa perdagangan karet di Singapura sehingga membuat harga tertekan.

Selain itu, penentuan harga di bursa Singapura tidak merefleksikan dengan baik kondisi fundamental stok dan perdagangan karet jenis TSR 20 yang banyak diperdagangkan.

Moenardji menambahkan, produksi karet Indonesia mencapai 3,6 juta ton per tahun. Konsumsi karet di dalam negeri untuk industri pengguna, seperti industri ban sebesar 600.000 ton. Dengan demikian volume ekspor karet mencapai 3 juta ton per tahun. dengan harga karet yang rendah, harga di tingkat petani semakin tertekan.

Kerja sama

Deputi Bidang Kordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Kordinator Perekonomian Musdhalifah Machmud, mengatakan, pemerintah brupaya mengoptimalkan kerja sama dengan negara produsen lain, yakni Thailand dan Malaysia untuk mengendalikan harga karet internasional.

Selain itu, ungkap Musdhalifah, pemerintah mengupayakan agar permintaan di pasar domestik dapat ditingkatkan melalui kordinasi dengan kementerian terkait dan pemerintah daerah untuk pemanfaatan produk karet alam. Misalnya penggunaan karet untuk aspal jalan dan bantalan kereta api.

“Secara teknis, ini masih terus dibahas dan dipelajari,” katanya.

Akan tetapi menurut Musdhalifah, harga karet mulai naik dari US$ 1,2 per kilogram menjadi US$ 1,4 per kilogram. Ke depan, program penanaman kembali tanaman karet diperlukan.

Harian Kompas, 15/01/2019 

---------------------------------------------------

Thailand Babat Pohon Karet untuk Mengejar Target Penurunan Produksi 30%

Thailand, eksportir karet alam terbesar dunia berencana untuk memangkas produksi karet  sepertiganya dalam kurun waktu lima tahun mendatang dalam upaya untuk mendongkrak harga karet yang kini terus bergerak di sekitar level terendah sejak tahun 2016.

Negara tersebut akan menebang pohon-pohon tua dan menggantinya dengan tanaman lain untuk mengatasi kelebihan pasokan, kata Menteri Pertanian Grisada Boonrach.

Tujuannya adalah untuk mengurangi produksi menjadi 3 juta ton dari 4,5 juta ton saat ini dan mengurangi luasan kebun karet menjadi 2,4 juta ha dari saat ini 4,2 juta ha, kata Grisada dalam sebuah wawancara di Bangkok, Selasa.

Negara produsen karet teresar dunia itu sedang berusaha untuk mendongkrak harga yang telah merosot lebih dari 50% dalam kurun waktu delapan tahun terakhir menyusul kenaikan pasokan pasca peremajaan. Melemahnya peetumbuhan global dan anjloknya harga minyak bumi yang merupakan sumber bahan baku untuk pembuatan karet sintetis, juga mengancam permintaan.

Thailand, Indonesia dan Malaysia akan bertemu bulan ini untuk memutuskan langkah-langkah untuk mendukung kenaikan harga walaupun upaya-upaya terdahulu untuk mengendalikan ekspor telah gagal mencegah penurunan harga.

Otoritas Thailand berencana untuk menebang kebun karet yang berumur 25 tahun hingga 300.000 ha per tahun sampai target kenaikan harga tercapai, kata Grisada.

Rencana yang sejalan dengan usulan dari Rubber Authority of Thailand itu akan mengembalikan produksi karet alam Thailand ke level di awal dekade ini.

Thailand juga telah mempromosikan peningkatan konsumsi domestik sebagai langkah jangka pendek untuk mendorong harga.

Menggunakan karet untuk pembuatan sarung tangan tidak terlalu banyak mengurangi volume karet alam, sehingga pembangunan jalan dengan menggunakna campuran karet alam pun kini  menjadi proyek utama. Hampir 90% dari produksi kini ditujukan untuk pasar ekspor.

Program ‘Satu Desa Satu Kilometer’ mendorong lebih dari 75.000 desa-desa kecil di seluruh Thailand untuk mengganti jalan-jalan berkerikil dengan jalan berbahan dari karet. 

Grisada mengatakan permukaan karet lebih baik dan lebih tahan terhadap kondisi cuaca.

Kini terdapat 12 pilot projects dan kementerian pertanian akan memberikan penjelasan singkat kepada para perwakilan dari tiap provinsi mengenai pembangunan jalan berbahan karet pada tanggal 11 Januari.

Proyek tersebut diharapkan akan mengkonsumsi lebih dari 1 juta ton karet, sekitar seperempat dari produksi tahunan negara Gajah Putih tersebut.

Bloomberg, 10/01/2019

--------------------------------------------------