BERITA KARET MARET 2019

  1. Presiden Minta Segera Perbaiki Harga Karet di Tingkat Petani
  2. Pemerintah Atur Ekspor Karet Untuk Dongkrak Harga
  3. Dongkrak Harga, Indonesia-Malaysia Bakal Batasi Ekspor Karet
  4. Emiten Pengolahan Karet Penuhi Implementasi AETS
  5. Kemtan Targetkan Produksi Karet Naik 1,32% Menjadi 3,81 Juta ton
  6. Harga Karet di Pasar Global Terus Turun, Ini Penyebabnya
  7. Penurunan Produksi Karet Alam Terus Berlanjut
  8. Investor Perkebunan Karet Segera Masuk Kapuas Hulu
  9. Menhub Dorong Penggunaan Karet di Sektor Transportasi
  10. Harga Getah Karet di Sumsel Tembus Rp8.500/Kg

-----------------------------------------------------------------

Presiden Minta Segera Perbaiki Harga Karet di Tingkat Petani

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menugaskan jajaran menteri-menterinya untuk memperbaiki harga karet alam guna menyejahterakan petani karet melalui jalur diplomasi bersama dua negara produsen karet alam lainnya yakni Thailand dan Malaysia.

Menurut Jokowi, Forum Special Ministerial committee Meeting of  The International Tripartite Rubber Council (ITRC) di Bangkok telah menyepakati tiga kebijakan, yaitu mengatur jumlah ekspor karet alam, peningkatan penggunakan karet alam di dalam negeri dan program peremajaan (replanting) karet alam.

Dalam rangka meningdaklanjuti hasil ITRC itu, Presiden Jokowi pun memerintahkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)  agar mengatur penggunaan karet alam untuk aspal mulai dilaksanakan di dalam negeri.

Dijelaskan, mulai tahun lalu, mengaspal jalan itu sudah dicampur dengan karet. Itu dilakukan di tiga provinsi yakni, Sumatera Selatan, Riau dan Jambi. Meski harganya lebih mahal, pemerintah tetap akan membeli karena kualitasnya baik.

Untuk itu, presiden mengarahkan  kegiatan penggunaan karet untuk  aspal bisa dilakukan di provinsi, kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Kordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution diminta menyiapkan norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK) pemanfaatan aspal karet untuk pembangunan jalan di daerah.

Darmin menyatakan pihaknya sudah menyiapkan NSPK nya dan nanti Menteri Dalam Negeri yang akan membuat surat edaran. Kalau itu sudah selesai, berarti penggunaan karet wajib di seluruh daerah.

Sedangkan arahan yang disampaikan presiden Jokowi untuk Menteri perindustrian adalah soal hilirisasi industrialisasi. Indonesia sudah terlalu banyak kirim bahan mentah  ke luar negeri. Sudah saatnya harus hilirisasi industrialisasi, baik untuk ban, sarung tangan dan lainnya. Dengan begitu nilai tambahnya akan naik.

Terakhir untuk Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Presiden Jokowi memerintahkan  agar BUMN membeli karet-karet rakyat. Membelinya tentu dengan harga yang baik sehingga petani dapat keuntungan dari pembelian BUMN.

Dalam dialog yang brlokasi di Balai penelitian Sembawa-Pusat penelitian  Karet di Sumatera Selatan ini, Presiden Jokowi pun menerangkan bawha harga karet mulai bergerak naik karena adanya diplomasi ITRC.

Menurutnya, Indonesia telah mengirim tim yang dipimpim Menko Perekonomian untuk berdiskusi dengan Thailand dan Malaysia. Di situ, Indonesia mengajak kedua negara  untuk membuat kesepakatan yang sama, salah satunya agar supply ke pasar tidak terlalu banyak.

Dengan supply yang terkendali, harga diharapkan makin membaik.

Kondisi harga komoditas karet saat ini pun, dari yang tadinya ada di harga Rp 5.000 –Rp 6.000 mulai menyentuh Rp 8.300 hingga Rp 9.000 per kilogram. Artinya, dari adanya diplomasi ITRC dan pembelian karet oleh pemerintah, petani karet diharapkan dapat merasakan dampak positif.

Pemerintah menyadari bahwa hal ini bukan sekadar persoalan dalam neger. Tekanan ekonomi global yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi dunia turun juga membuat permintaan turun sehingga secara otomatis harga juga bergerak ke bawah. Sehingga sebetulnya masalah utamanya karena ekonomi  dunia belum normal dan pasar dunia belum berada pada posisi yang baik.

Sektor Unggulan

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyampaikan, perkebunan memang menjadi salah satu sektor unggulan yang menjadi pilar utama ekonomi Provinsi Sumatera Selatan.

Alokasi lahan untuk kawasan perkebunan seluas 2,8 juta ha. Sementara yang sudah dimanfaatkan untuk usaha perkebunan seluas 2,8 juta ha lebih. Komoditas yang diusahakan adalah karet seluas 1,3 juta ha dengan 95% milik petani rakyat. Ini adalah perkebunan karet terluas di Indonesia.

Di samping itu. Pemerintah melakukan perbaikan harga di tingkat petani. Adanya Unit Pengelolaan dan Pemasaran Bokar (UPPB) sangat membantu petani.

Dengan petani karet tergabung dalam UPPB, maka kegiatan penjualan karet rakyat dapat dilakukan dengan sistem lelang dan kemitraan langsung dengan perusahaan sehingga harga yang diterima petani pun bisa lebih baik daripada dijual sendiri.

Menurutnya, beberapa persoalan perkebunan karet, mulai dari peremajaan perlu segera dilakukan, minimnya infrastruktur yang menyebabkan tingginya ongkos angkut hingga perlunya penyuluhan pencampuran bahan olah karet (bokar) sesuai anjuran Kementerian Pertanian.

Hadir dalam kesempatan itu juga antara lain Menteri PUPR Basuki Hadimulyono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Musdhalifah Machmud, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono dan perwakilan kementerian/instansi terkait lainnya.

Investor Daily, 11/03/2019

 ----------------------------------------------------------

Pemerintah Atur  Ekspor Karet Untuk Dongkrak Harga

Pemerintah Indonesia memutuskan menerapkan tiga kebijakan untuk mengatatasi harga karet alam yang masih berada di level rendah sepanjang 2018  hingga awal 2019. Salah satu kebijakan yang ditempuh  adalah dengan pengaturan ekspor. Saat ini, harga karet alam ekspor berkisar US$ 1,45 per kilogram (kg) dan di tingkat petani  hanya Rp 7.000 – 7.500 per kg.

Menko Perekonomian Darmin Nasution  mengatakan, kebijakan tersebut dilakukan baik jangka pendek, menengah  maupun panjang dengan mengatur jumlah ekspor karet alam, peningkatan penggunaan karet alam di dalam negeri dan peremajaan replanting karet alam.

Kombinasi tiga kebijakan itu, melalui pengaturan ekspor, ditambah  promosi dan penggunaan karet alam  dalam negeri, ditambah  program peremajaan karet rakyat, kita percaya bisa menjaga agar harga karet tidak lagi jatuh  begitu rendah, ungkap  Darmin di Jakarta, Senin (25/02).

Saat ini harga karet alam ekspor  berkisar US$ 1,45 per kg dan di tingkat petani hanya Rp 7.000 – 7.500  per kg. Pergerakan harga karet alam ini semakin tidak sesuai  harga seharusnya jika dilihat dari pasokan dan kebutuhan pasar.

Tiga kebijakan tersebut merupakan keputusan dari pertemuan International Tripartite  Rubber Council (ITRC)  yang diinisiasi tiga  negara produsen karet, yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand pada 22 Februari di Bangkok, Thailand.

Pertemuan dipimpin oleh Menteri Pertanian dan Kerja Sama Thailand  Grisada Boonrach. Wakil dari Indonesia adalah Menko Perekonomian Darmin Nasution. Sementara dari Malaysia diwakili oleh Menteri Industri Utama Teresa Kok. Mereka didampingi oleh pejabat senior kementerian lainnya, serta anggota dewan direksi ITRC.

Untuk jangka pendek, kebijakan yang diambil oleh ketiga negara adalah pengaturan ekspor dari mekanisme agreed exports tonnage scheme (AETS). Penerapan AETS dilakukan dengan mengurangi ekspor dari ketiga negara tersebut sebesar 200.000 sampai 300.000 metrik ton (MT), untuk jangka waktu tiga bulan ke depan.

Para menteri kemudian menginstruksikan kepada senior official meeting (SOM) ITRC untuk membahas poin-poin implementasi AETS pada 4 Maret 2019 mendatang di Thailand. Implementasi AETS perlu dilanjutkan dengan mekanisme penggunaan karet dalam negeri melalui demand promotion scheme (DPS) guna meningkatkan konsumsi domestik secara signifikan di masing-masing negara.

Di Indonesia sendiri utilisasi karet alam terdapat pada proyek-proyek infrastruktur seperti jalan provinsi dan kabupaten yang tersebar di seluruh negeri. Dumper jalur rel, pemisah jalan, bantalan jembatan dan vulkanisir ban.

Sedangkan Thailand telah menerapkan operasi pasar strategis melalui enam pasar fisik karet yang kemudian mampu memperbaiki harga karet alam di pasar domestiknya. Dengan operasi itu, volume perdagangan karet alam Thailand di 2018 naik 105.000 MT atau senilai US$ 225 juta.

Sedangkan Malaysia akan meneruskan proyek jalan berlapis karet. Pemerintah malaysia sudah menyetujui anggaran RM 100 juta untuk pembangunan dan perawatan jalan yang menggunakan aspal yang dimodifikasi dari karet pada areal pelabuhan dan industrinya.

Para menteri tersebut juga berkomitmen melanjutkan dan memperbaiki implementasi peremajaan karet alam melalui supply manajemen scheme (SMS). Skema ini berperan penting dalam pencapaian titik keseimbangan antara suplai dan demand karet alam dengan mengakselerasi penanaman kembali (replanting) karet alam. Inti adari SMS adalah replanting.

Di Indonesia yang sudah dilakukan Kementerian Pertanian, yakni dari lahan sejumlah 60% itu ditanami karet dan sisanya ditanami tanaman lain,semisal kakao, hortikultura dan sebagainya.

Hal ini dilakukan untuk mengatasi over suplai, papar Menko Darmin.

Thailand akan mengoptimalkan replanting pohon karet 65.000 hektar per tahun. sedangkan Indonesia sebesar 50.000 hektar per tahun dan Malaysia sebesar 25.000 hektar per tahun.

Pertemuan itu juga membahas arah masa depan dari Regional Rubber Market (RRM) dan pembentukan badan arbitrase untuk mendukungnya.

Selain itu, dibahas pendiirian Asean Rubber Council (ARC) sebagai platform diskusi untuk pengembangan karet alam di negara Asean. 

Investor Daily, 26/02/2019

-----------------------------------------------------

Dongkrak Harga, Indonesia-Malaysia Bakal Batasi Ekspor Karet

Pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Thailand untuk sementara waktu bakal membatasi pasokan ekspor karet alam sebesar 200.000 hingga 300.000 ton. Skema pengaturan ekspor (Agreed Export Tonnage Scheme/AETS) itu dilakukan untuk mengerek harga karet yang saat ini masih tertekan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan langkah tersebut merupakan solusi jangka pendek yang diputuskan dari Pertemuan Komite Khusus Tingkat Menteri Konsul Karet Tripartit Internasional (ITRC) yang dilakukan pada 22 Februari 2019 lalu di Bangkok Thailand. ITRC beranggotakan tiga negara yaitu Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Berdasarkan pertemuan tersebut, harga karet yang saat ini berkisar US$1,45 per kilogram (kg) masih di bawah fundamentalnya. Pasalnya, pasar berjangka di bursa komoditi dunia, salah satunya Shanghai, menganggap pasokan karet membanjir.

Padahal, tahun lalu, pasar karet dunia hanya surplus 167.000 ton yang berasal dari pasokan yang berkisar 13,5 juta ton dan konsumsi yang berkisar 13,4 juta ton.

"Kenapa AETS perlu dilakukan? Itu sekaligus untuk menunjukkan kepada pasar bahwa pasokan karet itu lebihnya tidak banyak-banyak amat," ujar Darmin dalam konferensi pers di kantornya, Senin (25/2).

Terkait mekanisme pemangkasan pasokan karet, lanjut Darmin, akan dibahas dalam Pertemuan Pejabat Tinggi (Senior Official Meeting) ITRC pada 4 Maret 2019 mendatang di Thailand.

"Dalam pertemuan tersebut akan ada angka-angka dan rincian porsi dan seterusnya," ujarnya.

Namun, Darmin memperkirakan porsi masing-masing negara akan proporsional dengan produksinya selama ini di mana porsi Indonesia 32%, Thailand 52%, dan Malaysia 10%. Selain itu, Darmin juga memperkirakan kebijakan pemangkasan akan berlaku selama tiga bulan.

Selain solusi jangka pendek, ITRC juga memikirkan solusi jangka menengah yang hasilnya baru akan terlihat dalam 2 hingga 3 tahun mendatang. Solusi jangka menengah ini berupa skema mendorong permintaan (Demand Promotion Scheme/DPS) di dalam negeri.

Caranya, dengan meningkatkan penggunaan karet alam tidak hanya untuk produk mainstream seperti ban. Namun, pemerintah ingin mengoptimalkan penggunaan karet alam di sektor infrastruktur seperti campuran karet pada aspal maupun penggunaan karet alam pada sarana dan prasarana pengaman sektor transportasi.

"Kenaikan konsumsi karet alam domestik harus signifikan supaya pengurangan ekspor bisa digantikan dengan penggunaan di dalam negeri," ujarnya.

Untuk jangka panjang, pemerintah akan melakukan percepatan peremajaan (replanting) karet alam (Supply Management Scheme/SMS). Selama ini, replanting baru dilakukan sekitar 6 ribu hektar (ha) per tahun dari total lahan yang mencapai 3,6 juta ha.

Ke depan, pemerintah akan mengakselerasi replanting perkebunan karet sehingga bisa mencapai 50.000 ha per tahun.

Untuk mencegah kelebihan pasokan di masa depan, hanya 60% dari lahan replanting yang akan ditanami karet. Sisanya, petani bisa menanam tanaman perkebunan lain seperti kakao maupun hortikultura.

Namun, Darmin masih enggan membeberkan skema pembiayaan dari upaya percepatan replanting ini.

Solusi jangka menengah dan jangka panjang tersebut dilakukan untuk menjaga agar harga karet tidak kembali jatuh setelah kebijakan pemangkasan ekspor dilakukan.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo menyambut upaya pemangkasan ekspor yang dilakukan pemerintah di ketiga negara.

"Ada ketidakakuratan persepsi di pasar terhadap kondisi fundamental karet," ujarnya.

Akibatnya, harga yang ada saat ini terlalu rendah sehingga kurang menarik bagi petani. Sebagai gambaran, pada 2017 lalu, harga karet masih bisa menyentuh US$2 per kg. Bahkan, pada 2011 saat boom komoditas harga karet sempat terdongkrak ke kisaran US$5 per kg.

"Kami cubit pasar supaya pasar terbangun dari lelapnya asumsi bahwa di global ada banyak barang," ujarnya.

Moenarji berharap harga karet setidaknya bisa kembali ke kisaran US$2 per kg. Jika harga terangkat, petani akan bersedia menanam karet dan pelaku industri yang ada bisa menyerap lebih banyak.

Di dalam negeri, Moenardji juga mengingatkan bahwa utilisasi kapasitas industri karet masih rendah yaitu hanya berkisar 60%. Padahal, idealnya, utilisasi kapasitas bisa mencapai 80 persen. Artinya, industri tidak efisien. Untuk itu, Moenarji berharap tidak ada tambahan kapasitas lagi sebelum pasar yang ada sekarang bisa mengoptimalkan utilisasi kapasitasnya.

CNN Indonesia, 25/02/2019

---------------------------------------------------------

Emiten Pengolahan Karet Penuhi Implementasi AETS

Emiten pengolahan karet akan mengikuti komitmen pemerintah mengatasi harga karet alam yang salah satunya melalui implementasi Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) atau skema alokasi ekspor. 

 Corporate Secretary PT Kirana Megatara Tbk. Ferry Sidik mengatakan, saat ini perseroan belum memperoleh detail pelaksanaan AETS dari pemerintah melalui Gapkindo. Setelah menerima detail pelaksanaan, perseroan akan berupaya memenuhi ketentuan tersebut.

Emiten dengan kode saham KMTR ini belum dapat memastikan kemungkinan dilakukan penyesuaian kontrak dengan pembeli seiring dengan implementasi tersebut. Penjualan KMTR memang didominasi pasar ekspor di antaranya kepada produsen ban seperti Michelin dan Yokohama. 

Penjualan ekspor berkontribusi 97% terhadap penjualan perseroan, sedangkan 3% lainnya merupakan penjualan lokal. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2018, penjualan bersih tercatat Rp8,02 triliun atau turun 15,32% secara year on year.

"Kami akan menunggu berapa jumlah yang harus dikurangi, baru kemudian kami akan lihat apakah perlu melakukan penyesuaian kontrak atau tidak," katanya pada Selasa (26/2/2019).

Dia menambahkan, perseroan juga belum dapat memastikan dampak dari kebijakan ini terhadap penjualan perseroan. Perseroan memandang tujuan pemangkasan ekspor karet yakni diharapkan adanya kenaikan harga karet. Kenaikan harga karet dinilai baik untuk petani dan industri pengolahan karet.

"Kami akan menunggu detail pelaksanaan penurunan kuantitas ekspor dari Gapkindo sebelum mendapatkan final angka target penjualannya," imbuhnya. 

Lebih lanjut, Direktur PT Prasidha Aneka Niaga Moenardji Soedargo mengatakan, perseroan memandang program pemangkasan ekspor karet melalui skema AETS tentu akan mengangkat harga karet. Adapun, mekanisme pemangkasan ekspor karet akan dibahas pada 4 Maret 2019.

Selanjutnya, perseroan bakal menelaah dan menyusun strategi penyesuaian kontrak dengan pembeli jika diperlukan. Namun, kemungkinan penyesuaian kontrak masih menunggu mekanisme tata niaga dari pemerintah.

"Pengaturan ini sudah masuk kategory Government Act yang harus ditaati. Kesemuanya harus seiring dengan kebijakan tersebut," katanya. 

Moenardji memperkirakan penjualan PSDN mencapai Rp1,3 triliun, di mana sebesar Rp844,4 miliar berasal dari penjualan karet. Dia berharap perseroan dapat mempertahankan pencapaian tersebut pada tahun ini.

Bisnis.com, 26/02/2019

-------------------------------------------------------

Kemtan Targetkan Produksi Karet Naik 1,32% Menjadi 3,81 Juta ton

 Kementerian Pertanian (Kemtan) menargetkan produksi karet dalam negeri tahun ini mencapai 3,81 juta ton. Angka ini naik tipis yakni 1,32% bila dibandingkan realisasi sementara produksi karet tahun lalu yakni 3,76 juta ton.

"Mudah-mudahan tidak meleset," jelas Direktur Jenderal Perkebunan Kemtan Kasdi Subagyono, Senin (25/2).

Perhitungan tersebut, jelas Kasdi, sudah termasuk memperhitungkan faktor iklim. Menurutnya, tanaman perkebunan tidak terlalu rentan terhadap perubahan iklim seperti tanaman pangan.

Kasudi mengklaim kenaikan target produksi karet tersebut sebagai hasil replanting  yang sudah dilakukan sejak empat tahun lalu. Ia mengatakan, Kemtan fokus pada perbaikan logistik benih, mulai dari ketersediaan benih hingga kualitas benih. Sehingga menjamin petani bahwa tanaman ini akan benar-benar berbuah nantinya. 

Pada tahun lalu Kemtan menetapkan target produksi karet sebesar 3,68 juta ton. Hasil produksi karet malah lebih tinggi dari target. Kondisi ini menjadi modal bagi Kemtan untuk menetapkan target produksi lebih tinggi tahun ini kendati tidak terlalu jauh dari angka realisasi di tahun lalu.

KONTAN.co.id, 25/02/2019

-------------------------------------------------------

 Harga Karet di Pasar Global Terus Turun, Ini Penyebabnya

Harga karet di pasar global terus mengalami penurunan. Hal ini pun menyebabkan kekhawatiran negara produsen karet, seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution penurunan harga karet disebabkan pembentukan harga di future market Shanghai, China dan Singapura. Sebab, di sana terdapat produksi karet dengan jenis berbeda yang melimpah.

"Pembentukan harga karet alam langsung atau tidak langsung dipengaruhi bursa-bursa future market terutama di Shanghai, China, Jepang, di Singapura juga," kata dia di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (25/2/2019).

Dia mencontohkan, jenis karet yang terdapat di future market tersebut adalah karet berkualitas tinggi yang biasanya digunakan sebagai bahan campuran peralatan kesehatan.

"Karena bursa di Shanghai itu menyangkut karet yang bukan karet alam yang tidak kita kenal. Itu karet lain yang digunakan untuk keperluan alat-alat kesehatan yang kualitasnya tinggi daripada karet alam dipakai untuk industri ban mobil," sambung dia.

Maka dari itu, Indonesia berserta Thailand dan Malaysia mengadakan pertemuan International Tripartite Rubber Council (ITRC) di Thailand pada 22 Februari kemarin. Dalam perteman diputuskan kebijakan bersama guna mendongkrak harga karet.

Senada dengan itu, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo mengatakan harga karet dipengaruhi oleh pembuatan harga di bursa Shanghai. Maka dari itu, ia mendukung kebijakan yang diputuskan tersebut.

"Ini yang menyebabkan harga karet jatuh karena bursa Shanghai sangat likuid dan tinggi sekali permainan spekulasinya. Dengan upaya ini kita coba mencubit pasar global mengembalikkan harga ke level yang remuneratif," terang dia.

Moenardji juga memaparkan harga karet terus mengalami penurunan hingga saat ini berada di kisaran US$ 1,45 per kilogram (kg). Padahal di tahun 2011, harga karet pernah berada di angka US$ 5 per kg.

Detik.com, 25/02/2019

----------------------------------------------------------------

Penurunan Produksi Karet Alam Terus Berlanjut

Penurunan produksi karet alam di Sumatera Utara berlanjut terus karena musim gugur daun sudah memasuki fase kedua.

"Di Provinsi Sumatera Utara dan sentra produksi karet yang berada di belahan utara khatulistiwa, gugur daun memang terjadi pada bulan Januari sampai Maret," ujar Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GapkindoSumutEdy Irwansyah di Medan, Minggu (24/2/2019) seperti dilansir dari Antara.

Ia menjelaskan siklus perkembangan gugur daun dapat dikelompokkan menjadi lima fase.

Fase pertama ditandai dengan munculnya tanda-tanda daun menguning sebagian. Fase kedua, ditandai dengan daun dalam kondisi kuning menyeluruh dan sebagian sudah gugur.

Fase 3 ditandai dengan seluruh daun sudah gugur dan mulai muncul kuncup daun berwarna cokelat. Sedangkan fase 4 dan 5 ditandai dengan daun mulai berwarna hijau muda serta terlihat dari daun berwarna hijau tua.

"Kelima fase tersebut memerlukan waktu sampai 3 bulan dan Sumut sudah memasuki fase kedua," ujar Edy.

Edy menyebutkan setelah rendah hingga April, produksi karet Sumut mengalami produksi tertinggi pada bulan Oktober Desember.

"Pengusaha dan petani karet berharap harga jual karet meningkat di tengah produksi yang sedang turun," katanya.

Edy belum bisa menyebutkan produksi karet Sumut maupun Indonesia di Januari dan Februari 2019.

Namun di 2018, pada Januari dan Februari, produksi karet Indonesia, masing-masing sebanyak 295.000 ton dan 298.100 ton.

"Ada prediksi produksi karet alam Indonesia di 2019 menurun lagi dari 2018 karena sudah banyaknya pohon karet ditebang dampak harga jual yang tidak menjanjikan," ujarnya.

Akurat.co, 24/02/2019

---------------------------------------------------------

Investor Perkebunan Karet Segera Masuk Kapuas Hulu

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kapuas Hulu Abdurrasyid mengatakan sudah ada investor yang akan masuk secara resmi di bidang perkebunan karet di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

"Satu investor itu minta siapkan lahan sekitar 6.000 hektar di Putussibau Utara," kata Abdurrasyid ditemui di Putussibau, Kapuas Hulu, Kamis (28/2/2019).

Dia menjelaskan harga karet alam di Kapuas Hulu saat ini di kisaran Rp7.300/kg sehingga perlu didorong agar bisa mencapai harga Rp10.000/kg.

Menurut dia, sebenarnya kualitas karet Kapuas Hulu sudah cukup baik, tetapi cara pengolahannya belum standar, serta seharusnya ada proses yang dilakukan petani dalam pengelolaan karet.

"Memang belum ada tindaklanjut investor karet itu kapan akan beroperasi, saya yakin jika sudah ada investor masuk harga karet naik," ucap Abdurrasyid.

Dia mengakui bahwa produksi karet dari masyarakat saat ini menurun yang disebabkan rendahnya harga karet dan masyarakat mulai beralih menanam daun kratom.

Meski pun demikian, masyarakat Kapuas Hulu tidak meninggalkan begitu saja kebun karet, sampai saat ini masih ada petani karet yang menekuni karet.

"Memang saat ini banyak masyarakat menggantungkan perekonomian dengan daun kratom, tetapi belum ada kejelasan payung hukumnya, kalau karet jelas," ucap Abdurrasyid.

|Bisnis.com, 28/02/2019

-------------------------------------------------------

Menhub Dorong Penggunaan Karet di Sektor Transportasi

 Kementerian Perhubungan mendorong penggunaan karet sebagai bahan baku untuk industri di sektor transportasi.

 "Kita akan bahas satu-persatu produk-produk karet yang dapat digunakan dalam sektor perhubungan. Contohnya seperti perlengkapan jalan, pembatas jalan, penggunaan pada aspal dan sebagainya. Kita dorong semuanya,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/2/2019).

 Budi mengatakan, produk-produk serapan karet tersebut haruslah diproduksi oleh pabrik-pabrik di dalam negeri. Tujuannya untuk mendorong industri di Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

 "Contoh yang paling besar adalah membuat ban dan vulkanisir itu dilakukan di Indonesia. Justru dengan adanya ini yang selama ini import, kita lakukan di dalam negeri. Punya karet sendiri, diproduksi oleh pabrik-pabrik, diberikan kepada masyarakat, lalu dipasarkan. Ini harus dikoordinasikan semua, terutama dengan Kementerian Perindustrian,” kata Budi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Budi Setiyadi menambahkan, produksi karet ini dapat digunakan untuk pembuatan alat-alat fasilitas keselamatan lalu lintas. Seperti misalnya traffic cone, water barrier, roller barrier, hingga speed bump.

Budi Setiyadi mengaku pemerintah siap menyerap 2.000 ton karet untuk dijadikan bahan campuran pembuatan aspal. Penggunaan aspal karet tersebut akan dilakukan di beberapa daerah yang merupakan penghasil karet terbesar antara lain Sumatera Selatan, Jambi, Medan dan Kalimantan.

Mengingat saat ini, harga jual karet alam tengah menurun, diharapkan kebijakan penggunaan aspal karet ini dapat mendongkrak harga karet yang kian terpuruk.

"Kebijakan ini akan mengangkat harga karet, terutama di beberapa sentra karet di Indonesia seperti Sumatera Selatan, Jambi, Medan dan Kalimantan. Karena sekarang harga karet agak turun. Nah, kita harapkan ada terbentuk satu harga untuk masyakarat," kata Budi Setiyadi.

Kompas.com, 26/02/2019

-----------------------------------------------------------------

Harga Getah Karet di Sumsel Tembus Rp8.500/Kg

Harga getah karet yang menjadi sumber penghasilan hampir sebagian besar masyarakat di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan, saat ini tembus di angka Rp8.500/kilogram.

 "Harga getah karet dua mingguan saat ini mencapai Rp8.500/kilogram," kata salah seorang petani karet di Kecamatan Sosoh Buay Rayap, Ogan Komering Ulu (OKU), Perkasa di Baturaja, Kamis (28/2/2019).

 Menurut dia, harga ini diakui petani karet di wilayah setempat cukup stabil jika dibandingkan dengan harga jual di tingkat pengepul beberapa bulan lalu yaitu hanya kisaran Rp6.500/Kg.

 "Lumayanlah untuk harga jual sekarang ini cukup membuat kami semangat menyadap karet," katanya.

 Hanya saja, kata dia, saat musim hujan seperti sekarang ini hasil produksi getah karet mengalami penurunan dibandingkan cuca normal karena banyak bercampur air hujan.

Biasanya dalam satu hektrare lahan kebun karet bisa memproduksi sebanyak 200 Kg getah karet, namun dimusim hujan ini mengalami penurunan hanya menghasilkan 150 kg. "Musim hujan hasil getahnya berkurang," katanya.

Meski demikian, lanjut dia, masyarakat di wilayah setempat yang mayoritas petani karet ini tetap menyadap pohon karet untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kalau harga karet saat ini sudah cukup lumayan. Namun kami berharap harganya akan lebih meningkat lagi dan diiringi dengan kondisi getah yang mengucur dengan stabil dari batangnya," kata Darius petani karet lainnya menambahkan.

Bisnis.com, 28/02/2019

----------------------------