WABAH PENYAKIT PESTALOTIOPSIS & DAMPAKNYA

382.000 Hektar Kebun Karet Di 6 Provinsi Terkena Wabah Penyakit

YOGA SUKMANA

Kompas.com - 25/07/2019, 05:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Wabah penyakit Pestalotiopsis sp menyerang perkebunan karet di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, penyakit yang membuat gugur daun karet itu sudah mewabah pada 382.000 hektar perkebunan karet.

"Pemerintah akan terus memantau dan memperbarui data serta informasi mengenai perkembangan serangan penyakit gugur daun Pestalotiopsis sp berikut penanganannya," ujarnya dalam rapat koordinasi, Jakarta, Rabu (24/7/2019). Baca juga: Karet, Sawit, Kakao dan Kopi Jadi Produk Ekspor Utama Indonesia Menurut pemerintah, serangan wabah penyakit gugur daun ini bukan hal baru. Namun eskalasi dan intensitasnya meningkat siginifikan sejak tahun 2017 hingga 2019. Awalnya penyakit ini ditemukan di Provinsi Sumatera Utara, namun kemudian menyebar ke Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Timur. Bahkan pemerintah menduga penyakit ini juga menyerang kebun karet di beberapa provinsi sentra karet lainnya mulai dari Jambi, Riau hingga Lampung. Bahkan menurut pemerintah, penyakit gugur daun Pestalotiopsis sp juga terjadi di Malaysia, terutama di daerah semenanjung Melaka. Hal ini berdasarkan laporan dari Lembaga Getah Malaysia (Malaysia Rubber Board).

Perang Dagang Untungkan Pasar Sarung Tangan Karet Menurut Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono, mewabahnya penyakit gugur daun disebabkan menurunnya ketahanan tanaman akibat ketidakmampuan petani atau pekebun untuk merawat kebun sesuai standar. "Hal ini utamanya dikarenakan turunnya harga karet pada level rendah dalam rentang waktu yang lama,” kata Kasdi. Pemerintah mengatakan akan membantu petani untuk mengendalikan penyakit tersebut. Pertama yakni pengendalian dengan menggunakan fungisida berbahan aktif heksakonazol atau propikonazol. Kedua pemerintah akan memberikan bantuan pupuk untuk meningkatkan ketahanan tanaman karet terhadap serangan penyakit tersebut.

https://money.kompas.com/read/2019/07/25/054900226/382.000-hektar-kebun-karet-di-6-provinsi-terkena-wabah-penyakit

 ---o00oo--

Ekspor Karet Bakal Anjlok Tahun Ini, Apa Penyebabnya?

Yustinus Andri DP - Bisnis.com24 Juli 2019  |  11:38 WIB

Volume dan nilai ekspor karet mentah Indonesia pada tahun ini diperkirakan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu.

 Bisnis.com, JAKARTA — Volume dan nilai ekspor karet mentah Indonesia pada tahun ini diperkirakan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo memperkirakan, sepanjang tahun ini volume ekspor karet mentah Indonesia akan turun sekitar 400.000 ton dari capaian tahun lalu sebesar 2,95 juta ton. 

Hal itu, menurutnya, selain disebabkan oleh penerapan skema Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) juga disebabkan oleh adanya gangguan penyakit yang menjangkiti perkebunan karet Indonesia.

“Sepanjang semester I/2019 ekspor kita sudah turun 16% secara tahunan atau ekuivalen 200.000 ton. Perkiraan kami penurunan dengan volume hampir serupa akan terjadi pada semester II/2019, sebab serangan penyakit ini berpeluang meluas nantinya. Kondisi ini menjadi kendala tersendiri bagi kami, sebab secara nilai otomatis juga akan turun,” jelasnya kepada Bisnis.com, baru-baru ini.

Kendati demikian, dia tidak dapat menyebutkan berapa proyeksi besaran penurunan nilai ekspor karet alam tahun ini. Pasalnya, nilai ekspor akan sangat berkaitan erat dengan harga di pasar global. 

Dia menambahkan, saat ini harga karet alam masih berada pada posisi yang bisa ditoleransi, lantaran adanya skema AETS yang dilaksanakan oleh negara anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC)  yakni Indonesia, Thailand dan Malaysia. 

Namun, ke depannya, dia tidak bisa menjamin harga akan tetap berada pada posisi normal, lantaran isu yang berkembang saat ini, pasokan karet dunia masih melimpah dan terdapat penurunan permintaan dari pasar global. 

“Kondisi tersebut menjadi anomali tersendiri. Sebab, dari Indonesia pasokan terganggu karena penyakit, di Thailand pasokan juga terganggu karena efek kekeringan,” lanjutnya. 

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190724/12/1128104/ekspor-karet-bakal-anjlok-tahun-ini-apa-penyebabnya

--oo00oo--

Ada Serangan Penyakit, Produksi Karet RI Bakal Anjlok

(REUTERS/Panu Wongcha-um)

NEWS - Yanurisa Ananta, CNBC Indonesia

 24 July 2019 14:58

Jakarta, CNBC Indonesia - Produksi komoditas karet diprediksi menurun sampai 15% pada 2019. Penyebabnya ada gangguan penyakit dari cendawan yang menjangkiti areal perkebunan karet sampai ratusan ribu hektar .
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Kasdi Subagyono mengatakan penurunan ini disebabkan serangan cendawan Pestalotiopsis pada 381,9 ribu hektar (ha) lahan karet. 

"Prediksinya kemungkinan [produksi] turun. Tadi diprediksi secaranasional kurang lebih 15% dari [produksi] 2018 yang sebesar 3,7 juta ton," kata Kasdi usai rapat koordinasi (rakor) terkait karet di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Rabu (24/7/2019).

Kasdi menjabarkan cendawan jenis Pestalitiopsis menyerang 381,9 ribu hektar lahan perkebunan karet (data sampai 16 Juli 2019). Penyebarannya bisa meluas bila tidak ditangani secepatnya. 

Pemerintah akan melakukan antisipasi dengan melakukan pengendalian berupa penyemprotan bahan aktif hexaconazole. Termasuk memberi bantuan pupuk agar tanaman lebih kuat menahan dampak dari cendawan tersebut. Efektivitasnya dinilai bisa 80% mengurangi cendawan. 

"Pemerintah akan melakukan pengendalian mengacu pada prinsip-prinsip proteksi tanaman khusus untuk cendawan. Di antaranya dilakukan fogging, baik pada tanaman atau di sela-sela tanaman," lanjut Kasdi. 

Berdasarkan penelitian PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), kata Kasdi, ada perubahan spesies jamur yang menyerang tanaman karet. Bila semula jamur yang menyerang bernama Fusikokum, kali ini jamur Pestalotiopsis yang menyerang tanaman karet. 

 "Sebenarnya karet itu juga mengalami gugur daun alami dan normal walau tidak disebabkan penyakit ini. Gugur daun saat musim kemarau ada, begitu kering ya gugur. Ketambahan ini diprediksi tadi turun 15% dibanding [produksi] 2018," jelasnya. 

Gede Wibawa, Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) menjabarkan secara teknis, jamur ini menyerang daun karet. Normalnya, pada musim kemarau daun karet gugur. Akibat serangan jamur ini gugur daun bisa 2-3 kali dalam setahun. 

"Karet itu normalnya sekali saja di musim kering. Tapi karena adaserangan penyakit itu dia gugurnya bisa lebih dari dua kali. Oleh karena gugur daunnya lebih dari dua kali, produksi pasti terdampak," jelasnya. 

Diproyeksikan jamur jenis ini telah menyerang tanaman karet sejakJanuari-Juli sehingga produksi menurun 15%. Dengan pengendalian yang efektif diprediksi penurunan prediksi tidak sampai 5%, bahkan bisasampai hanya 5%. (hoi/hoi)

https://www.cnbcindonesia.com/news/20190724144746-4-87270/ada-serangan-penyakit-produksi-karet-ri-bakal-anjlok

---oo0oo---

Terluas di Sumsel, 103 Ribu Hektare Perkebunan Karet Diserang Pestalotiopsis

Reporter : Hendrik  Editor : Zul Mulkan  

12 Juli 2019 13:39:00 WIB

MEDAN, GLOBALPLANET - Serangan cendawan pestalotiopsis sp yang mengakibatkan pohon karet gugur daun disebutkan telah mencapai 103 hektare. Terluas terjadi di Sumatera Selatan, disusul Sumut, Kalteng dan Kalbar.

"Serangan peatalotiopsis itu bahkan menyerang ke 103.254 hektar perkebunan karet di seluruh Indonesia, terutama di sentra-sentra perkebunan karet seperti Provinsi Sumatera Selatan yang perkebunan karetnya terluas, disusul serangan ke Sumatera Utara, Jambi, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat," ujar Sekjen Dewan Karet Indonesia yang juga Asisten Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo), H Uhendi, Jumat (12/7/2018).

Kata Uhendi, data itu diperoleh dari Pusat Penelitian Karet (PPK) yang merupakan bagian dari PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN). Ia mengungkapkan, wabah pestalotiopsis terjadi karena resistensi tanaman karet berkurang.

Ia mengatakan, cendawan pestalotiopsis awalnya diketahui menyerang perkebunan karet di Malaysia. Sementara Thailand yang juga menjadi sentra karet belum memberikan informasi apakah terkena atau tidak.

Kata Uhendi, pada tahun 2017, cendawan penyebab GDK itu menyerang 22 ribu ha perkebunan karet di Indonesia. Namun berdasarkan data Pusat Penelitian Karet, Uhendi mengatakan luasan serangan sudah mencapai 103.254 ha, terutama menyerang Sumsel, Sumut, Jambi, Kalsel, dan Kalbar.

"Awalnya serangan spestalotiopsis terbatas, tapi kini meluas. Sumsel yang terparah, apalagi lahan karet terluas di Indonesua ada di Sumsel," tegas Uhendi.

http://www.globalplanet.news/berita/18341/terluas-di-sumsel-103-ribu-hektare-perkebunan-karet-diserang-pestalotiopsis

---oo00oo---

Perkebunan Karet I Sumut Diserang Cendawan Pestalotiopsis

 7/12/2019 01:17:00 PM

 Medan, Sinarsergai.com - Perkebunan Karet di sejumlah daerah di Provinsi Sunatera Utara (Sumut) diduga diserang oleh cendawan pestalotiopsis sp yang mengakibatkan gugur daun karet (GDK). Belum diketahui pasti berapa luasan hektar tanaman karet yang diserang.

"Namun situasi ini membuat industri karet nasional patut waspada. Sebab, produksi karet secara nasional berpotensi mengalami penurunan produksi dalam kurun setahun terakhir," ujar

Wakil Ketua Bidang Produksi Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Pusat Kacok Sumarto yang juga salah satu pengusaha di Sumut kepada para wartawan di Medan, Jumat (12/7/2019). 

"Hal ini tentu saja mengganggu suplai, termasuk ekspor. Penurunan produksi karet secara nasional ternyata karena tanaman karet saat ini diserang oleh hama pestalotiopsis sp. Atau sering disebut cendawan sehingga menimbulkan gugur daun karet," ujar Kacuk Sumarto.

 Kacuk menyebutkan, pemerintah pusat dan stakeholder karet telah memgambil sejumlah langkah strategis untuk mengatasi pestalotiopsis sp tersebut.

Bahkan, Sebut Kacuk, Direktorat Jenderal Perkebunan mengeluarkan surat nomor 4314/KB.210/E.5/06/2019 tanggalb20 Juni 2019 dan ditandatangani oleh Drs Dudi Gunadi BSc MSi selaku Direktur Perlindungan Perkebunan.

Surat itu, kata Kacuk, bersifat penting yang isinya tentang serangan cendawan pestalotiopsis sp yang telah menyerang perkebunan karet di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Lampung.

"Saya belum tahu berapa hektar dan di Kabupaten mana di Sumatera Utara yabg perkebunan karetnya terkena cendawan pestalotiopsis sp ini. Tapi saya melihat pemerintah sudah berupaya optimal, namun sepertinya cendawan pestalotiopsis ininsusah dikendalikan," tegas Kacuk Sumarto. (rik)

http://www.sinarsergai.com/2019/07/perkebunan-karet-i-sumut-diserang.html?m=1

---oo0oo---

Indonesia's rubber production to drop 15% in 2019 due to disease — ministry official

Reuters, July 24, 2019 13:41 pm +08

JAKARTA (July 24): Indonesia's natural rubber output is expected to drop 15% in 2019 compared to 2018's production of 3.76 million tonnes due to a fungal disease, a senior agriculture ministry official said on Wednesday.

"The (disease causing) fungus has attacked around 381,900 hectares (of plantations) and is predicted to spread further," said Kasdi Subagyono, the ministry's plantation director general.

Subagyono said the rubber plantations affected so far are in South Sumatra, North Sumatra, Bangka Belitung, South Kalimantan, Central Kalimantan, and West Kalimantan.

Moenarji Soedargo, the chairman of Indonesia's Rubber Association (Gapkindo) said exports from January to June had dropped to 200,000 tonnes overall.

Authorities are offering technical assistance to farmers, including handing out an extra dose of fertiliser to control the disease.

The government said earlier in July the disease is suspected to have spread in some areas because farmers cut back on crop maintenance such as the use of fertilisers due to a low rubber price.

Indonesia has agreed to cut natural rubber exports by 98,000 tonnes for four months from April to prop up prices, as part of an agreement with major rubber producers Thailand and Malaysia to cut an overall 240,000 tonnes in exports.

https://www.theedgemarkets.com/article/indonesias-rubber-production-drop-15-2019-due-disease-%E2%80%94-ministry-official

---oo00oo--- 

Indonesia's 2019 Rubber Output May Drop 15% On Fungal Disease

By Eko Listiyorini

(Bloomberg) -- Production may decline from 3.76 million metric tons last year due to fungal disease in six producing regions, says Kasdi Subagyono, director general of estate crop at the Agriculture Ministry.  About 381,900 hectares of rubber plantation affected by fungus in Jan.-July, Subagyono tells reporters in Jakarta Wednesday

Ministry sees South Sumatra province as the worst affected area, other provinces include West Kalimantan, South Kalimantan, Jambi, Lampung and West Sumatra Govt has tried to fight the disease by fogging, spraying pesticide and increasing the use of fertilizer

 ---oo00oo---

Singapore Futures Rise After Indonesian Crop Warning

 (Bloomberg) -- Rubber futures in Singapore briefly jumped into positive territory, reversing a decline, after Indonesia’s Agriculture Ministry said output may drop this year as a disease spreads through growing regions.

Production may decline 15% from the 3.76 million metric tons last year due to fungal disease in six producing regions, according to Kasdi Subagyono, the director general of estate crops at the Agriculture Ministry.

Some 381,900 hectares of rubber plantations have been affected by the fungus so far this year, Subagyono told reporters in Jakarta Wednesday.

Rubber for October delivery drifted back to negative territory after turning positive.

It had previously fallen as much as 0.6% amid concerns over prospects for declining demand from tiremakers as auto sales slide.

*T Drivers     China-based automakers’ shipments could decline as much as 5% in second half, missing expectations, according to Bloomberg Intelligence.

The typical fourth-quarter car-buying binge may be a no-show this year as the U.S.-China trade dispute festers Michelin 2020 target at risk on market slowdown : BI 17% growth in Ebit next year appears unachievable on macroeconomic concerns and potential price pressure in slowing markets Nissan plans to cut at least 5,200 additional jobs globally to improve its performance, more than doubling the number flagged earlier this year, Kyodo News reported, citing unidentified sources Shanghai rubber stockpiles rise 1.7% from a week earlier to 439,218 tons in week ended July 19; highest since April 19 NOTE: Four-month export curbs by producers in Indonesia and Malaysia expire at the end of July while Thailand’s are due to expire at the end of September.

The three countries account for two-thirds of global natural rubber production     *T *T Prices TSR20 rubber for Oct. on Singapore Exchange -0.2% to $1.409/kg by 4:20pm local time, after +0.2% RSS rubber for Dec. on Tocom -0.5% to 186.1 yen/kg at the close Rubber for Sept. on Shanghai Futures Exchange -0.1% to close at 10,685 yuan/ton, after as much as -1.3%.