Perkembangan Harga Karet dan Pandangan ke Depan
(Oleh. TB. Tjandra, Januari 2010)

 

Sejak pertengahan minggu lalu harga karet yang telah mencapai 3,12 USD/kg, perlahan-lahan tertekan dan pada tanggal 26 Januari 2010 mencapai 2.95 USD/kg.

Walaupun secara fundamental belum menunjukkan pemulihan di sektor supply, namun tekanan kebijakan keuangan yang terjadi di China dan Amerika telah mampu menurunkan harga-harga saham dan komoditi di seluruh dunia.

Dibawah ini diuraikan kebijakan uang ketat di China dan Amerika.

Berita Selengkapnya


 

 

Impor karet alam China bulan Oktober – Desember 2009
(Sumber : Reuters diterjemahkan)

 

OKTOBER

Impor karet alam China pada bulan Oktober 2009 dibandingkan dengan impor pada bulan Oktober 2008, dan 10 bulan Januari – Oktober 2009 dibandingkan dengan periode yang sama 2008 tertera pada tabel di bawah ini.

Berita sekelengkapnya


 

WTO Mempelajari Tarif Impor Ban China

(Rubber & Plastics News, 20 Januari 2009)

Pemerintah Cina menyampaikan petisi kepada WTO pada Desember untuk menginvestigasi tarif selama tiga tahun yang dicanangkan oleh Obama mulai 2 September 2009.

Dispute Settlement Body di WTO telah menetapkan untuk mendirikan panel untuk melakukan investigasi kebenaran tarif impor ban penumpang dan ban truk ringan dari Cina telah melanggar ketentuan WTO.

Berita selengkapnya


 

 

Pertemuan Tingkat Menteri IRCo

(Kuala Lumpur, Selasa, 17 Januari 2010)

Oleh : Asril Sutan Amir/Ketua Umum


Menteri/Wakil Menteri dari ketiga anggota yakni Thailand, Indonesia dan Malaysia menilai kemajuan kegiatan ITRCo dalam penerapan SMS & AETS yang membawa “manfaat” berupa kenaikan harga setelah kejatuhan Wall Street September 2008 yang menyebabkan krisis ekonomi dunia/resesi, yang menyebabkan harga karet alam runtuh dari US$ 325,74 cent/kg tanggal 2 Juli 2008 menjadi US$ 110,26 cent/kg pada tanggal 11 Desember 2008, turun 66,15% dalam waktu 6 bulan.

Ketiga Menteri/Wakil Menteri “menghargai” peranan IRCo/ITRC dan anggota NTRC dalam pelaksanaan AETS yang telah menetapkan tidak menjual dibawah US$ 1,35/kg per 13 Desember 2008. Disamping itu kenaikan permintaan dunia terhadap karet alam telah mendorong kenaikan rata-rata dari US$ 146,09 cent/kg pada bulan Januari 2009 menjadi US$ 279,04 cent/kg, terjadi kenaikan 91% selama tahun 2009. Sekarang Januari 2010 harga karet alam telah mencapai di atas US$ 3,00/kg.

Walaupun resesi ekonomi dunia belum pulih, tetapi Menteri/Wakil Menteri menekankan perlu monitoring terus menerus atas supply dan demand karet alam dan mengambil langkah-langkah yang mutlak perlu agar tidak terjadi penurunan harga karet alam dalam waktu dekat.

Langkah yang perlu segera diambil adalah :

1. Mengusulkan agar ketiga negara melakukan study pembentukan dana karet bersama ditiap Negara yang disesuaikan dengan sistem yang berlaku dinegara bersangkutan.

2. Kerjasama ketiga Negara diperluas ke Negara ASEAN Ekonomics Community (AEC).

3. Keikutsertaan Vietnam dalam ITRC disambut baik sebagai anggota dengan segala hak dan kewajibannya. Dengan masuknya Vietnam, maka keempat Negara akan menaikkan produksi karet alam dari 70% menjadi 76% produksi karet alam dunia. Dari segi ekspor akan menaikkan dari 84% menjadi 93% ekspor karet alam dunia.

Ketiga Menteri/Wakil Menteri yakin memperkuat dan memperluas ITRC agar harga karet alam “berpatutan/remunerative” untuk produsen karet alam dapat dicapai agar kelangsungan ketersediaannya dapat mencukupi para pabrik/pemakai karet alam dengan harga pantas (fair).

 



JOINT MEDIA RELEASE

MEETING OF THE MINISTERIAL COMMITTEE OF THE INTERNATIONAL TRIPARTITE RUBBER COUNCIL BETWEEN THE KINGDOM OF THAILAND, THE REPUBLIC OF INDONESIA AND MALAYSIA

19 January 2010

Kuala Lumpur, Malaysia

The Meeting of the Ministerial Committee of the International Tripartite Rubber Council (ITRC) held on Tuesday 19 January 2010 in Kuala Lumpur, Malaysia was attended by:

i. H.E. Mr. Supachai Phosu, Deputy Minister of Agriculture and Cooperatives of the Kingdom of Thailand;

ii.

iii. H.E. Dr. Bayu Krisnamurthi, Vice Minister of Agriculture of the Republic of Indonesia; and

iv. H.E.Tan Sri Bernard Giluk Dompok, Minister of Plantation Industries and Commodities of Malaysia

1. The Ministers reviewed the impact of measures undertaken by the ITRC in mitigating the volatile fluctuations of rubber prices due to global recession caused by the collapse of Wall Street in September 2008. The global economic crisis and recession depressed natural rubber prices, and ITRC Daily Composite Price (DCP) tumbled by 66.15% from US$3.26 per kg on 2 July 2008 to a low of US$1.10 per kg on 11 December 2008 within a period of six months.

2. The Ministers were pleased with the positive impact of the two measures undertaken by the three countries, i.e. the Supply Management Scheme (SMS) and Agreed Export Tonnage Scheme (AETS). These two measures had contributed to the improvement of the natural rubber prices. The DCP recovered and improved from US$1.36 per kg on 30 December 2008 to US$2.87 per kg on 30 December 2009. This was an impressive 111% improvement during the one year period. The rubber price is now hovering above US$3.00 per kg. The Ministers also recorded their appreciation to the private sector in supporting the ITRC initiatives, especially during the 1st half of 2009 when they refrained from offering natural rubber for export below US$1.35 per kg.

3. The Ministers emphasized on the need to continuously monitor the world demand-supply situation for natural rubber and undertake appropriate measures to counter negative price trend which would adversely affect the income of over 3 million rubber smallholder households in the three ITRC countries. The Ministers also deliberated on the importance of devising a special funding scheme to support AETS and Strategic Market Operation (SMO). ITRC is tasked to fine tune the funding mechanism in accordance with the respective domestic financial procedures and policy.

4. The Ministers also agreed to invite Vietnam to join ITRC and International Rubber Consortium Limited (IRCo). Vietnam being the fifth largest producer of natural rubber in the world would strengthen the cooperation among major natural rubber producers by increasing its production and exports share from 70% to 76% and 84% to 93% respectively.

5. The Ministers are confident that through these proactive measures, the producers of natural rubber will continue to reap remunerative returns for their efforts while consumers will be able to enjoy sustainable supply of rubber at fair and stable price.

19 January 2010

Kuala Lumpur, Malaysia