BERITA KARET JULI 2018

1.   Industri Karet Lokal Siap Suplai Aspal Jalan Berbasis Crumb Rubber
2.   Industri Crumb Rubber Dikembangkan
3.   Peralihan Karet Indonesia ke Aspal Bisa Sebabkan Harga Melambung
4.   Perang dagang AS-China tak bikin industri karet khawatir
5.   Kirana Megatara genjot kerja sama petani karet binaan
6.   Serangan Bertubi –Tubi Menghadang Ekspor Karet
7.   Limbah Kayu Karet Banyak Diminati
8.   Harga Karet Kendur Terancam Prospek Tarif Mobil
9.   Trik Bagi Petani Karet Agar Kembali Bergairah
10. Kirana Megatara (KMTR) Incar penjualan Rp 12 triliun
11. Vietnam Berusaha Tetap di Posisi 3 Besar Eksportir Karet
---------------------------------------------------

Industri Karet Lokal Siap Suplai Aspal Jalan Berbasis Crumb Rubber

Pengusaha karet menyatakan siap menyanggupi permintaan pemerintah yang ingin menambah porsi crumb rubber alias serbuk karet sebagai bahan dasar aspal jalan.
Pasalnya, porsi antara produksi dalam negeri, ekspor dan penggunaan dalam negeri masih menyediakan ruang yang cukup untuk menyanggupi penambahan permintaan tersebut.

Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Suharto Honggokusumo menjelaskan, stok karet Indonesia terus mengalami peningkatan. Sehingga bila terjadi penambahan permintaan pada satu pasar tertentu, industri siap menanggapinya.

"Kami siap menjual dalam negeri, juga untuk diekspor. Jadi penggunaan ekspor dan domestik itu selalu siap," katanya saat dihubungi Kontan.co.id, Rabu (10/7).
Menurutnya tahun lalu produksi nasional karet alam Indonesia mencapai angka 3,4 juta ton. Perkiraannya tahun ini bakal naik 3% sesuai rata-rata tahunan pada umumnya.
Sebanyak 85% atau setara 2,8 juta ton di ekspor, sedangkan porsi yang digunakan dalam negeri sangat kecil. Artinya masih ada banyak yang digudangkan dan bisa dikerahkan bila ada pasar baru dari sektor aspal karet jalanan.

Namun Suharto meluruskan bahwa selama ini terjadi perbedaan persepsi dalam memahami crumb rubber. Bila mengacu pada pemahaman internasional, crumb rubber merupakan hasil sampingan dari ban karet bekas yang diparut, diayak dan dikategorikan sesuai ukuran dan keperluannya. Sumbernya biasanya berasal dari sisa vulkanisir ban.

Adapun, di AS industri crumb rubber cukup marak lantaran terdapat oversuplai ban bekas. Sedangkan di Indonesia ban bekas kerap disulap menjadi produk kreatif sehingga industri crumb rubber yang murni dari ban bekas susah mendapatkan bahan utamanya.
Sedangkan industri crumb rubber yang ada di Indonesia mengacu pada proses blok karet alam yang dibekukan dan dipecahkan sehingga menjadi serpihan. Untuk sektor ini, Suharto menyarankan untuk menggunakan karet olahan SR 20 sebagai bahan bakunya.

Menanggapi hal tersebut, Dirjen Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka Achmat Sigit Dwiwahjono menyatakan sudah ada upaya untuk mengembangkan crumb rubber di Indonesia.

"Untuk aspal memang sudah dilakukan uji coba dan hasilnya cukup menjanjikan sebagai upaya diversifikasi crumb rubber yang over suplai di dunia," jelasnya.
Asal tahu, Kemenperin sebelumnya tengah berupaya untuk merevisi bidang usaha crumb rubber dari Daftar Negatif Investasi (DNI). Bidang usaha tersebut masih dalam kategori yang terbuka namun dengan persyaratan bila pemodal asing ingin ikut berinvestasi dalamnya.

Kontan.id, 11/07/2018
----------------------------------

 Industri Crumb Rubber Dikembangkan

Pemerintah mulai serius menggarap program pencampuran karet alam dengan aspal. Langkah ini dilakukan untuk memperbesar penyerapan  karet di pasar domestik.Selama ini sekitar 85% atau setara 2,8 juta ton dari total produk karet yang sebesar 3,4 juta ton tahun 2017 masih diekspor.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan untuk itu, Kemenperin akan mengembangkan industri pengolahan crumb rubber di Indonesia.
“Sudah ada uji coba dan hasilnya menjanjikan sebagai upaya diversifikasi crumb rubber yang pasokan berlebih di dunia,” ujarnya, Rabu (11/7).

Agar upaya itu bisa segera direalisasikan, Kemenperin tengah berupaya merevisi bidang usaha crumb rubber dari Daftar Negatif Investasi (DNI). Saat ini bidang usaha tersebut masih dalam kategori terbuka, namun dengan persyaratan tertentu bila pemodal asing ingin berinvestasi di dalamnya.

Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Suharto Honggokusumo mengatakan , pihaknya siap menambah pasokan bahan baku karet bila pemerintah mendorong pengembangan industri crumb rubber.

Menurutnya, industri karet di Indonesia terus mengalami peningkatan.” Kami siap menjual dalam negeri juga untuk memenuhi pasar ekspor. Jadi penggunaan ekspor dan domestik itu selalu siap,” katanya.

Suharto menjelaskan, bila pengembangan industri karet untuk memproduksi crumb rubber sebagai bahan campuran aspal terealisasi, maka ada potensi penambahan penyerapan karet di pasar domestik sekitar 100.000 ton. Hal ini akan berdampak pada pengurangan ekspor karet di pasar global. Kondisi ini memicu kenaikan harga pasar.
Suharto bilang, crumb rubber merupakan hasil sampingan ban karet bekas yang diparut, diayak dan dikategorikan sesuai ukuran dan keperluannya. Bahan baku berasal dari sisi vulkanisir ban.

Di AS, industri crumb rubber melimpah lantaran kelebihan pasokan ban bekas. Di Indonesia, ban bekas kerap disulap menjadi produk kreatif sehingga industri crumb rubber yang murni dari ban bekas susah mendapatkan bahan utamanya.
Untuk itu, di Indonesia crumb rubber bisa berasal dari karet alam yang dibekukan dan dipechkan sehingga menjadi serpihan. Untuk sektor ini, karet olahan SR 20 bisa menjadi bahan bakunya.

Harian Kontan, 12/07/2018
----------------------------------------------------

Peralihan Karet Indonesia ke Aspal Bisa Sebabkan Harga Melambung

Wacana Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang ingin menambah porsi crumb rubber alias karpet serpih dalam aspal jalan berpotensi menaikkan harga karet dunia.

Pasalnya, bila Indonesia beralih fokus pada penggunaan dalam negeri, maka stok dunia bisa berkurang dan menyebabkan kenaikan harga internasional.
Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Suharto Honggokusumo menjelaskan bila terjadi penambahan hingga 100.000 ton digunakan dalam negeri maka ekspor akan dikurangi. "Stok dunia berkurang dan potensi harga bisa meningkat," jelasnya kepada Kontan.co.id, Rabu (11/7).

Apalagi biaya jual karet dalam negeri dan ekspor tidak jauh beda, karena ekspor menerima insentif bea namun tarif logistik sedangkan penjualan dalam negeri dikenai pajak. Efeknya justru bisa mengubah devisa negara karena karet merupakan salah satu produk ekspor unggulan.

Menurutnya tahun lalu produksi nasional karet alam Indonesia mencapai angka 3,4 juta ton. Perkiraannya tahun ini bakal naik 3% sesuai rata-rata tahunan pada umumnya.
Sebanyak 85% atau setara 2,8 juta ton di ekspor dan menjadi salah satu kontributor besar dalam pangsa pasar dunia.

Adapun harga karet pada bursa internasional Tocom berada di 171,6 JPY per kilogram, harga ini terus mengalami penurunan 20,45% dari year to date di 206,7 JPY per kg.

Kontan.id, 11/07/2018
----------------------------------------------

Perang dagang AS-China tak bikin industri karet khawatir

Perang dagang antara Amerika Serikat dengan China dipercaya tidak akan banyak mempengaruhi iklim bisnis ekspor karet Indonesia. Pasalnya, China diperkirakan bakal tetap menjadi konsumen karet alam terbesar dan memiliki tingkat konsumsi dan daya beli ekonomi yang kuat. Maka permintaan akan karet Indonesia dipercaya bakal tetap aman.

"Sejauh ini tidak ada dampak negatif terhadap dunia karet alam secara langsung," jelas Presiden Direktur PT Indo Komoditi Korpora Tbk (INCF) Sujaka Lays saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (21/6).

Asal tahu, INCF merupakan emiten pengolahan karet alam menjadi bahan baku yang digunakan untuk ban mobil premium. Mayoritas produk mereka atau hingga 60% produksi diekspor ke Eropa, Jepang, China, Amerika Serikat dan Australia. Adapun sejumlah merek yang menggunakan produk INCF adalah Bridgestone, Pirelli, Giti, Nokian Tyres dan Kumho Tires.

Namun demikian, Sujaka mengakui tensi perdagangan AS-China memang cukup mewarnai perdagangan internasional dan mengharapkan kestabilan global segera tercapai.
Serupa, Direktur Eksekutif Gapkindo Suharto Honggokusumo juga melihat perang dagang antara AS-China tidak akan terlalu mempengaruhi neraca dagang ekspor karet Indonesia.

"Pertimbangnya tetap supply dan demand, tidak ada hubungan dengan perang dagang. Kalau bersaing saja sih wajar," jelas Suharto.
Apalagi produksi karet Indonesia ia rasa masih mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri dan luar. Sedangkan China memiliki rekam jejak sebagai konsumen karet alam terbesar di dunia sejak tahun 2001.

Suharto menjelaskan, isu persaingan dagang antara China-AS ini sejatinya hanya akan menjadi masalah antar kedua negara tersebut saja. Pasalnya ban buatan China sudah menguasai AS tapi sekarang karena bea masuk tinggi menjadi masalah bagi AS saja.

Bisnis,com, 21/06/2018
------------------------------------------

Kirana Megatara genjot kerja sama petani karet binaan

Keberlangsungan lahan dan pohon karet menjadi salah satu kunci dari kesuksesan perusahaan yang bergerak dalam bidang pengolahan komoditas tersebut. Bagi PT Kirana Megatara Tbk (KMTR), emiten ini memiliki divisi khusus yang bergerak dalam bidang pelatihan petani binaan dan peremajaan pohon karetnya.

Widiyantoko Sumarlin General Manager sekaligus Corporate Affairs KMTR menyampaikan perusahaan yang merupakan bagian dari holding Triputra Group ini juga memiliki program sosial kepada petani binaannya.
Yakni dengan memberikan edukasi tapping karet, pelatihan tanam dan pupuk, pemberdayaan masyarakat dan pendidikan mengenai kemudahan rantai suplai.

"Kami bergerak dalam bidang hulu di petani karet hingga pabrik, maka bila dari petani saja tidak dikembangkan dan kualitas pohon karet tidak dijaga, maka kami tidak akan bisa seperti saat ini," jelas Widiyantoko saat ditemui Kontan.co.id, Senin (25/6).
Asal tahu saja, jumlah petani karet yang bekerjasama dengan KMTR sejumlah hingga 16.000 petani dengan perkiraan luas lahan tiap petani sebesar 1-2 ha. Perkiraannya, luas lahan yang menjadi hulu KMTR mencapai hingga 20.000 ha.

Adapun satu pohon karet memiliki masa produktif hingga umur 30-40 tahun sebelum harus ditanam ulang. Namun bila tidak dirawat dengan baik, maka pada umur 10-20 tahun, kualitas getah karet yang dihasilkan bisa menurun.
Padahal, KMTR memiliki pasar sebesar 95% ekspor yang utamanya dikirim ke Amerika Serikat dan diperuntukkan kepada pabrik-pabrik ban ternama seperti Bridgestone, Michelin, Pirelli, Continental, Cooper, Goodyear, Hankook, Kumho, dan Sumitomo.

Dengan demikian, program pemberdayaan petani menjadi kunci KMTR untuk memastikan kualitas karet yang mereka olah sesuai dengan standar premium internasional.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama KMTR Martinus Subandi Sinarya menyatakan bahwa sejatinya dari pihak perusahaan, Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) maupun pemerintah telah berupaya untuk menggalakkan program sosial peremajaan karet di kalangan petani.

"Ini menjadi perhatian kami semua karena karet merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang sangat kuat," jelasnya.
Apalagi kini pembatasan ekspor karet akibat perjanjian Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) sudah berakhir pada Maret 2018 lalu sehingga permintaan karet Indonesia bakal pulih kembali. Sehingga proyeksi bisnis karet bakal kembali cerah walau harga internasional sedang relatif turun.

Kontan.id, 25/06/2018

-----------------------------------------

Serangan Bertubi –Tubi Menghadang Ekspor Karet

Serangan bertubi-tubi dari sisi perekonomian global membuat aktivitas ekspor karet mengalami tekanan yang cukup besar.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane mengatakan pelemahan rupiah memang memberikan daya dorong  kepada aktivitas ekspor karet Indonesia, terlebih di tengah murahnya harga karet dunia. Namun demikian, dorongan dari nilai tukar rupiah tersebut berpotensi tertutupi oleh ancaman dampak perang dagang antara  AS dan China.

“Rupiah memang melemah, tetapi harga karet dunia juga rendah. Belum lagi hadangan datang dari ancaman perang dagang AS dan China. Ketidakpastian global pun bertambah,” ujarnya kepadaBisnis.com belum lama ini.

Dia melihat, para produsen akan menahan produksinya untuk menekan kerugian akibat kondisi global. Untuk itu dia mendesak agar pemerintah memberikan dorongan berupa insentif untuk proses hilirisasi produk karet di dalam negeri, seperti produk ban.

Salah satu insentif yang diharapkan dari pemerintah tersebut adalah dengan membatasi arus impor produk berbahan karet. Dia meyakini, konsumsi karet dalam negri akan mengurangi tekanan yang dialami oleh para produsen akibat sentimen dari sisi global.

Adapun, apabila menilik data Badan Pusat Statistik, ekspor karet dan bahan dari karet pada Januari-Mei 2018 terkoreksi hingga 21,90% atau dari periode yang sama pada tahun lalu. Penurunan tersebut terjadi di tengah melemahnya nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini yang mencapai 6%.

Bisnis.com, 08/11/2018
----------------------------------------
 
Limbah Kayu Karet Banyak Diminati

 Kayu karet bekas peremajaan diyakini memiliki harga yang tinggi dan diminati oleh industri.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia Aziz Pane mengatakan harga kayu karet itu sedang bagus dan diincar banyak orang jadi tidak perlu khawatir tentang penjualannya. "Harga kayu karet itu bagus nggak perlu diekspor, karena dalam negeri banyak sekali orang mau kayu karet itu," katanya kepada BIsnis, belum lama ini.

Namun, kualitas kayu karet yang terbaik adalah milik perkebunan swasta dan negara. Sementara kayu karet milik perkebunan rakyat dia nilai kurang bagus karena tidak terlalu dirawat.

Selain itu pemerintah juga dianggap kurang memperhatikan komoditas karet pada tahun ini. Aziz mengatakan hal tersebut terbukti dari APBN-P tahun ini untuk komoditas karet saja Rp0, karena lebih dialokasikan kepada komoditas padi, jagung, kedelai.

Aziz mengatakan kalau produksi meningkat dan suplai ke pasar semakin banyak maka harga akan turun . “Jadi sebaiknya dalam situasi sekarang kita membenahi diri dulu sampai pasar membaik kita bisa lebih berperan,” katanya.

Sementara itu di sisi lain, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto mengatakan kayu karet potensial sekali untuk industri Medium Density Fireboard (MDF).

"Banyak yang membutuhkan [kayu karet] saat ini," pungkasnya.

Bisnis.com, 05/07/2018
----------------------------------

Harga Karet Kendur Terancam Prospek Tarif Mobil
Pelemahan harga karet berlanjut pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Selasa (3/7/2018).

Harga karet untuk pengiriman Desember 2018, kontrak teraktif di Tokyo Commodity Exchange (Tocom), ditutup melemah 0,86% atau 1,50 poin di posisi 172,30 yen per kilogram (kg).

Pelemahan harga bahan baku utama ban ini mulai berlanjut saat dibuka turun 0,35% atau 0,60 poin di posisi 173,20, setelah berakhir melorot 1,42% atau 2,50 poin di level 173,80 pada perdagangan Senin (2/7).

Menurut Hideshi Matsunaga, analis perusahaan broker Sunward Trading, bursa karet tertekan kekhawatiran bahwa perlambatan pada perekonomian China dapat memperlemah permintaan untuk karet.

Seperti diketahui, Biro Statistik China (NBS) mencatat Indeks Pembelian Manajer (Purchasing Managers’ Index/PMI) China turun ke 51,5 pada Juni, di bawah perkiraan analis di level 51,6, dan turun dari 51,9 pada Mei.

Hasil tersebut sejalan dengan data baru-baru ini (pertumbuhan kredit, investasi, dan penjualan ritel) yang menunjukkan perlambatan ekonomi China, seiring dengan para pembuat kebijakan mengelola risiko utang dan memanasnya hubungan dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Adapun data indeks permintaan ekspor China juga berkontraksi untuk pertama kalinya sejak Februari 2018, turun 0,03% menjadi 49,8 dari bulan sebelumnya.

“Kekhawatiran bahwa AS dan China dapat menerapkan tarif mobil di tengah perselisihan dagang juga membebani bursa,” tambah Matsunaga, seperti dikutip Bloomberg.

Kebijakan saling berbalas tarif impor antara Amerika Serikat dan China akan memasuki babak baru pada pekan ini.

Pasalnya, mulai Jumat ini (6/7/2018), dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut akan mulai saling memberlakukan tarif lebih tinggi untuk ratusan jenis produk impor, sekaligus menandai eskalasi konflik yang besar.

Bisnis.com, 03/07/2018
---------------------------------

Trik Bagi Petani Karet Agar Kembali Bergairah

Kasi Teknologi Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Tahunan Dan Penyegar Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Agus Hartono sepakat atas inovasi aplikasi karet alam untuk canal blocking karena turut mengangkat pemanfaatan domestik karet alam.

Hal itu disampaikannya pada kesempatan seminar Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dengan tema penurunan emisi CO2 di lahan gambut dengan tata kelola air menggunakan water level canal blocking berbasis komposit karet alam di Banjarbaru.

Agus berkata tata kelola air lahan gambut bisa meningkatkan produk pertanian dan perkebunan lainnya, selain karet.

“Jadi produktivitas pertanian meningkat dan menekan kebakaran lahan gambut,” kata Agus Hartono. Agus membenarkan ketergantungan ekspor bahan mentah karet memicu harga karet alam terus terpuruk seiring belum membaiknya harga pasaran luar negeri.

Direktur Pusat Penelitian Karet, Karyudi mengatakan pasokan karet internasional sedang melimpah sebanyak 2,7 juta ton.

Itu sebabnya, harga karet alam asal Indonesia cenderung anteng di level 1,5 US Dollar Amerika per kilogram sejak tahun 2014. Karyudi optimis kanal blocking komposit karet alam bisa menaikkan daya serap karet domestik yang tidak terpengaruh harga internasional.

“Kami sangat konsern pemanfaatan karet domestik untuk memperbaiki harga karet di Indonesia dan menjaga tata kelola air di lingkungan tanah gambut. Harga karet tahun 2011 sempat 4 US Dollar, tapi sekarang cuma kisaran 1 US Dollar per kilogram, petani karet enggak ada yang tersenyum,” kata Karyudi ketika paparan aplikasi Teknologi Canal Blocking Berbasis Komposit Karet Alam di Kota Banjarbaru.

Banjarmasin Post, 06/06/2018
----------------------------------------

Kirana Megatara (KMTR) Incar penjualan Rp 12 triliun

Walau mengalami penurunan kinerja produksi di kuartal pertama 2018, PTKirana Megatara Tbk (KMTR) mengklaim berhasil meraih target produksi karet sebanyak 275.000-290.000 ton pada enam bulan pertama 2018.

Dengan tercapainya target produksi di semester I-2018, perusahaan ini yakin bisa mengejar target produksi sebesar 550.000 ton–580.000 ton karet hingga akhir tahun.

Direktur Utama KMTR Martinus Subandi Sinarya mengatakan, perkiraan produksi karet sampai akhir tahun tersebut sejalan dengan kontrak pembelian karet internasional yang telah dikantongi KMTR.

"Kami masih penuhi kontrak enam bulan hingga satu tahun ke depan, untuk posisi sales sekarang kurang lebih sesuai target semester tahun ini," ujarnya kepada KONTAN di kantornya, Senin (25/6).

Martinus yakin dengan produksi karet yang sesuai target, keuntungan yang didapat perusahaan juga lebih besar. Apalagi, dengan adanya pergerakan kurs dollar yang masih relatif tinggi. Saat ini 95% karet produksi KMTR dieskpor ke manca negara.

Selain diuntungkan pelemahan rupiah, Martinus juga bilang, kapasitas produksi KMTR tahun ini bakal mencapai 770.000 ton per tahun. Angka itu naik 6,94% dari kemampuan tahun lalu yang sebesar 720.000 ton.

Kenaikan produksi terjadi seiring dengan selesainya pabrik ke-16 di Terbanggi, Lampung. Pabrik ini mampu menyumbang produksi karet olahan sebanyak 50.000 ton karet per tahun. "Sekarang masih dalam tahap pembangunan, lebaran kemarin harusnya sudah mulai lancar tapi ada pembangunan infrastruktur daerah sehingga agak mundur. Akhir tahun kuartal empat akan sudah beroperasi," imbuhnya.

Dengan penambahan itu Martinus optimistis target penjualan sebesar Rp 12 triliun sampai akhir tahun 2018 akan tercapai. Nilai itu asumsi harga karet dunia dikisaran US$ 1,5 dollar per kilogram (kg).

Produk unggulan KMTR adalah olahan karet Standard Indonesian Rubber (SRI) 10 dan SRI 20 yang diekspor untuk berbagai pabrik ban internasional seperti Bridgestone, Michelin, Pirelli, Continental, Cooper, Goodyear, Hankook, Kumho, dan Sumitomo

Serapan belanja modal

Kenaikan produksi karet juga diimbangi dengan penyerapan anggaran belanja yang tinggi. Sampai Juni 2018 ini, KMTR telah menyerap hampir separuh dari anggaran belanja modal 2018 yang mencapai total Rp 200 miliar. Capex tersebut utamanya digunakan untuk perbaikan mesin, pengembangan depo, perawatan kebun karet, serta pembinaan terhadap petani karet yang menjadi mitra perusahaan.

Menurut Martinus, anggaran belanja sebagian besar digunakan untuk biaya investasi pabrik yang menelan investasi sekitar Rp 150 miliar - Rp 160 miliar per unit. Saat ini, total pabrik yang dimiliki KMTR sebanyak 15 unit. Rencananya setelah pembangunan pabrik ke 16 di Terbanggi, Lampung, satu pabrik tua yang kurang efisien akan dilebur.

Kontan.id, 26/06/2018
---------------------------------------

Vietnam Berusaha Tetap di Posisi 3 Besar Eksportir Karet

Jika Vietnam tidak bisa mengembangkan karet secara berkelanjutan, maka negara itu akan jatuh dari posisi eksportir karet terbesar ketiga di dunia. Saat ini Vietnam berada di bawah Thailand dan Indonesia, diikuti oleh Malaysia. Dengan ratusan perusahaan karet dan inovasi teknis, Vietnam sedang berada di depan dalam produksi karet lateks, dimana  negara itu mampu menghasilkan 1,6-1,7 ton per hektar.

Hasil tinggi adalah keuntungan besar yang membantu Vietnam mengatur ulang dirinya sendiri dan mengatasi krisis pemotongan harga yang telah berlangsung selama enam tahun.

Setelah memasuki posisi ketiga dalam hal produksi karet alam pada 2013, Vietnam telah mengamankan posisinya dengan produksi 1,1 juta ton dari 1 juta hektar lahan.

Karet alam Vietnam diekspor sebanyak  80 %, atau  12 % dari total ekspor global. Namun, Vietnam dalam beberapa tahun terakhir telah menghadapi kritik untuk proyek-proyek karet di Laos dan Kamboja.

Vietnam Rubber Association (VRA) telah merilis dokumen tentang bagaimana investor dapat meminimalkan risiko proyek. Namun, ini hanyalah tindakan sementara.

Di pertemuan puncak industri karet global,  7 Mei lalu, tiga pembeli terbesar, Bridgestone, Goodyear, dan Michelin, semua mengatakan mereka akan membuat produk yang berkelanjutan di masa depan.

Menurut Vo Hoang An, Sekretaris Jenderal VRA, 11 pabrikan ban terbesar yang mengonsumsi 85 % karet alam global telah setuju untuk mengikuti strategi pembangunan berkelanjutannya.

Sementara itu, Tran Thi Thuy Hoa, ketua Dewan Penasihat Pengembangan Karet, beberapa pembeli telah mulai menanyakan sertifikat FSC (Forest Stewardship Council). Tanpa adanya sertifikat itu, perusahaan-perusahaan karet Vietnam akan kehilangan kliennya.

Kebijakan untuk mengembangkan karet yang berkelanjutan (sustainable)  sudah didengungkan oleh Vietnam beberapa tahun lalu.. Pada 2012, pemerintah telah meluncurkan strategi pembangunan Vietnam yang cepat pada 2020 (Keputusan 432) dan beberapa keputusan lainna.

Kebijakan itu  termasuk keluarnya Keputusan 889 tentang restrukturisasi sektor pertanian pada pengembangan nilai tambah dan berkelanjutan, dan Edaran 38 tentang rencana pengelolaan hutan lestari, termasuk hutan tanaman.

Pada April 2017, pemerintah merilis Keputusan 419 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan mengurangi kerusakan dan kerusakan hutan. Karet adalah salah satu dari empat tanaman pada model pembangunan berkelanjutan di Vietnam.

Namun, pertanyaan muncul tentang cara mengkonversi jutaan hektar karet menjadi model pembangunan berkelanjutan, sebuah kegiatan yang membutuhkan banyak uang.

Kegiatan konversi juga menghadapi kendala besar dalam konteks pertanian skala kecil di daerah-daerah penting seperti BIN Phuoc, Binh Duong dan Tay Ninh.

Vietnamnet, 12/07/2018

---------------------------------