Bisnis.com, PALEMBANG— Harga karet global kembali menguat pada penutupan perdagangan akhir Maret 2026. Tren ini dinilai memberikan angin segar bagi petani di Sumatra Selatan (Sumsel) sebagai salah satu daerah penghasil karet di Tanah Air. Berdasarkan data SGX-Sicom per Selasa (31/3/2026), harga karet tercatat sebesar 200,6 sen per kilogram. Dengan kurs rupiah Rp16.908 per dolar AS, harga karet dengan kadar karet kering (KKK) 100% ditetapkan sebesar Rp33.917 per kilogram. Apabila dibandingkan dengan Senin (30/3/2026), harga tersebut mengalami kenaikan sebesar Rp122 per kilogram. Sekretaris DPW Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel Rudi Arpian memandang penguatan harga pada akhir Maret 2026 itu menjadi sinyal bahwa pasar karet global mulai keluar dari fase konsolidasi. “Harga karet global kembali mencatat penguatan melanjutkan tren positif sejak akhir pekan lalu. Ini mempertegas pasar mulai keluar dari fase konsolidasi dan menuju ke pemulihan yang stabil,” tuturnya, Selasa (31/3/2026). Menurut Rudi, kenaikan yang terjadi secara bertahap hingga akhir bulan ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap komoditas karet. “Meski fluktuasi harian masih terjadi, arah tren terkini terlihat semakin terjaga,” imbuhnya. Adapun, harga karet berdasarkan masing-masing kadar KKK, antara lain Rp23.742 per kg untuk KKK 70%, Rp20.359 per kg untuk KKK 60%, Rp16.959 per kg untuk KKK 50%, Rp13.567 per kg untuk KKK 40%, dan Rp10.175 per kg untuk KKK 30%. Rudi juga mendorong agar petani menggunakan pembeku lateks sesuai anjuran serta memastikan bokar bebas dari kotoran, limbah maupun perendam air. “Semakin tinggi KKK, semakin murni kandungan karet, dan semakin sedikit kandungan air di dalam bokar, semakin tinggi harga yang diperoleh petani,” tutupnya.