Liputan6.com, Jakarta Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menerima kunjungan Ketua Parlemen Thailand Wan Muhammad Noor Matha. Dalam pertemuan bilateral itu membahas beberapa hal, salah satunya kerja sama dalam sektor perdagangan karet. Seperti diketahui, Indonesia dan Thailand sebagai negara pemasok karet terbesar di dunia. Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu menyoroti langkah harga karet dunia yang terus menurun. Ini disebabkan oleh gagalnya daun-daun berguguran untuk mendorong kenaikan harga. Per 9 Agustus 2023, harga karet mencapai 133,36 USD/kg. Selain penurunan harga, tekanan konsumen terus berlanjut. Ini berpotensi mempengaruhi perdagangan Kkret terutama dengan penerapan kebijakan anti deforestasi di Uni Eropa. Dengan demikian, menurutnya, pertemuan bilateral tersebut menjadi momentum untuk mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Thailand, khususnya mengatasi tantangan dan kenaikan harga karet. Karena harga karet yang rendah akan mempengaruhi sumber daya karet alam yang tersedia di masa depan, karena itu mendorong produsen karet mengalihkan bahan bakunya ke negara ini. Ancam Kesejahteraan Petani "Sejatinya, harga karet yang yang terlalu rendah akan menurunkan kesejahteraan petani. Bila hal ini terjadi secara berlarut, dikhawatirkan sektor komoditas karet akan ditinggalkan. Untuk itu, kolaborasi negara-negara produsen karet terbesar, Thailand, Indonesia, dan Malaysia yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) diperlukan," jelasnya. Menurutnya, dengan memperkuat posisi ini, ITRC bekerja sama dengan negara pengekspor karet lainnya seperti Vietnam dan Filipina, bersama-sama memperjuangkan harga karet yang lebih tinggi. Untuk infomasi bahwa Thailand, Malaysia, dan Indonesia sudah bergabung dalam kerjasama ITRC, untuk berkontribusi 58% dari produksi karet alam dunia. Dimana ITRC berkomitmen untuk menjaga kestabilan harga karet alam pada tingkat yang menguntungkan petani serta menjaga pasokan dan permintaan karet alam dunia.